image

SM/Antara - DENGAR PENDAPAT : Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian didampingi Wakapolri Komjen Pol Syafruddin mengikuti rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/10).(24)

13 Oktober 2017 | Berita Utama

Brimob Penembak Disebut Stres

JAKARTA- Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, motif penembakan sesama anggota Brimob di Blora, Jateng, karena masalah internal. ”Mengenai masalah insiden di Blora, kami sudah investigasi internal di lingkungan Polri dan sedang berjalan. Motifnya sementara pribadi, stres karena utang,” kata Tito saat raker dengan Komisi III di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (12/10).

Tito lalu menjelaskan soal senjata api yang digunakan saat kejadian. Dia menerangkan teknis peminjaman senjata. ”Mengenai teknis peminjaman senjata api dan penggunaan senjata api diatur aturan internal yang sangat ketat. Ada peraturan Kapolri yang mengatur penggunaan senjata api dan setiap penembakan ada pertanggungjawaban, laporan,” ujar Tito.

Dia juga menyebut kasus di Blora masih dalam penanganan. Pihaknya akan memberi sanksi kepada atasan petugas itu jika terjadi kelalaian. ”Kalau ada kita temukan pelanggaran dalam tata cara pinjaman senpi, termasuk pembinaan pengawasan satuan pimpinan yang bersangkutan, kita memiliki aturan sanksi cukup keras,” tegas Tito.

Wakapolri Komjen Syafruddin menambahkan, kasus tersebut telah ditangani Polda Jawa Tengah. ”Sudah ditangani dengan baik ya. Itu masalah internal. Oleh karena itu, cukup ditangani Polda Jateng. Tidak menyangkut masyarakat,” jelasnya Seperti yang diberitakan, penembakan dan bunuh diri tiga personel Brimob terjadi di Blora Jawa Tengah, Selasa (10/10) petang.

Peristiwa itu terjadi di proyek Sarana Gas Trembul (SGT-01) yang merupakan perusahaan pengeboran minyak bumi di bawah PT Pertamina EP. Suara rentetan senjata memecah suasana petang saat itu. Namun, sejumlah pekerja yang sedang menggelar rapat tak menaruh curiga. Mereka mengira suara itu berasal dari tembakan pemburu burung.

Hingga rapat rampung, salah seorang pekerja yang sudah meninggalkan lokasi rapat kembali lagi dengan raut wajah ketakutan. Dengan suara terbata-bata, pekerja itu mengaku kepada teman-temannya, dia melihat ada mayat tergeletak bersimbah darah di tengah jalan proyek. Sekumpulan pekerja yang masih bertahan di kantor langsung berhamburan. ”Langsung para pekerja membubarkan diri. Ada yang lihat, ada yang menyelamatkan diri. Saya lihat sendiri mayat Supriyono tersungkur di jalan dengan bersimbah darah,” tutur salah seorang pekerja, Aminudin.

Aminudin mengaku dia melihat kondisi Ahmad Supriyono bertelanjang dada, hanya mengenakan celana jeans pendek. Jenazah Budi Wibowo (30) kemudian ditemukan masih mengenakan sarung. Mereka kebingungan tak tahu apa yang sedang terjadi. Hingga ketika kondisi mulai tenang, diketahui kedua orang itu merupakan korban penembakan oleh rekannya sendiri Bripka Bambang Tejo.

Keesokan pagi setelah peristiwa itu terjadi, Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Condro Kirono menggelar jumpa pers di Akpol Semarang. Kepada wartawan Condro menjelaskan kronologi peristiwa ini. Saat peristiwa itu terjadi, ketiga anggota Brimob yang berjaga di lokasi adalah Brigadir Budi Wibowo (30), Brigadir Ahmad Supriyanto (35), dan Bripka Bambang Tejo (36).

Condro menjelaskan, mereka memang bertugas mengamankan proyek vital nasional di sana. Menurut saksi, Brigadir Muhadi, tidak ada cekcok antara tiga orang tersebut sebelum dia pergi untuk mandi dan meninggalkan barak. Namun ketika sedang di kamar mandi terdengar dua kali letusa senjata api. Muhadi segera menuju lokasi untuk melihat apa yang terjadi. Namun ia dicegah Bripka Bambang Tejo dan menyuruhnya pergi.

Setelah Muhadi menjauh, terdengar satu kali bunyi tembakan dari lokasi Bripka Bambang Tejo. Saat dicek, Bripka Bambang tewas dengan luka tembak di kepala dan ada senjata AK 101 di dekatnya. Sementara dua Brimob lainnya juga tergeletak. Condro Kirono menyampaikan penyesalannya. Terkait peristiwa di lokasi yang seharusnya dijaga itu, dia mengaku akan melakukan evaluasi termasuk evaluasi internal terhadap anggotanya.(dtc-67)