image

SM/Surya Yuli P

13 Oktober 2017 | Berita Utama

Darmiyanto, Pelari Sekaligus Tukang Becak

Pernah Tersesat saat Lomba

Siapa sangka, tukang becak yang biasa mangkal di tengah Kota Salatiga ini ternyata atlet yang sarat prestasi. Saat muda, pria bernama Darmiyanto (82) tersebut kerap menjuarai lomba lari. Bahkan pada usia senja saat ini, dia ternyata masih sering meraih medali.

DARMIYANTOcukup dikenal sebagai pelari veteran sekaligus tukang becak yang biasa mangkal di sekitar perempatan Jalan Pemotongan dan Jalan Jenderal Sudirman Salatiga. Sebagai sumber penghasilan seharihari, dia adalah tukang becak.

Tapi di luar itu, berbagai ajang lomba lari jarak menengah (5.000 m dan 10.000 m) dan jarak jauh (maraton) telah diikutinya. Bahkan sejumlah negara pernah didatanginya untuk mengikuti ajang lomba atletik, baik saat masih muda atau setelah memasuki kelas pelari veteran. Negara yang pernah didatanginya adalah Malaysia, Singapura, dan Australia. ”Terakhir 2016 lalu saya ikut lari jarak menegah dan jarak jauh di Australia.

Lumayan bisa meraih juara dan mendapatkan bonus,” kata kakek lima putra dan 10 cucu ini. Menurut rencana dalam waktu dekat ini, Darmiyanto akan mengikuti ajang lari jarak menengah dan jarak jauh di Amerika Serikat. ”Saya sudah berkoordinasi dengan Pak Edy Pramono (Koni Salatiga), untuk mempersiapkan lomba atletik veteran di Amerika Serikat.

Saya sudah mulai persiapan,” kata Darmiyanto, kemarin. Pria yang tinggal di Dusun Ngemplak Tugel, Desa Krandon Lor, Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang ini, setiap hari berlari menempuh perjalanan sekitar 20-25 km menuju Kota Salatiga untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari sebagai tukang becak. Pulang ke rumah pun dengan cara berlari.

Becaknya disimpan di tempat penitipan di Jalan Kemuning, Kelurahan Kalicacing, Kecamatan Sidomukti. Setiap berlari, Darmiyanto selalu bergaya nyentrik, dengan kostum celana dan jaket yang warnanya ngejreng. Saat ditemui kemarin, dia sedang mengenakan jaket warna hijau muda dan berkaca mata trendi. ”Lari pulang pergi dari Suruh ke Salatiga merupakan bagian dari latihan. Dengan berlari itu, maka setiap hari badan saya tetap sehat,” ungkap pria asal Dusun Jetis, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupatan Boyolali.

Darmiyanto mengaku sekitar 1960 datang ke Kota Salatiga sebagai buruh serabutan. Udara segar dan sejuk Kota Salatiga membuatnya memilih olahraga berlari sebagai aktivitas sehari-hari. Pada 1968, dia mulai mengikuti sejumlah lomba lari dan kerap menjadi juara. Lomba di Pulau Jawa pernah diikutinya dengan hasil terbaik seperti meraih juara 1 atau juara 2.

Kurang Perhatian

Dia pun dikirimkan mengikuti lomba di Malaysia dan Singapura dan meraih juara 1 untuk jarak menengah. Darmiyanto punya pengalaman menarik gagal meraih juara maraton di Kuala Lumpur, Malaysia, karena tersesat dan akhirnya harus puas menempati urutan kedua. ”Saya bingung tidak ada yang menunjukkan jalan sehingga kesasar dan berbalik arah lagi. Tapi bersyukur bisa meraih juara dua.

Seharusnya juara satu,” kenangnya. Namun disayangkan, raihan prestasi Darmiyanto tidak dibarengi dengan perhatian pemerintah. Dia tidak bisa mendapat pekerjaan yang layak, sehingga Darmiyanto akhirnya memilih sebagai tukang becak. Meski demikian dia tetap bersyukur karena hasil dari becak sangat lumayan, belum lagi bila meraih juara lomba lari.

Sejak masih muda, kelas yang diikuti Darmiyanto adalah jarak menengah dan maraton. Dalam setiap lomba yang diikutinya, Darmiyanto selalu masuk dalam jajaran pelari yang meraih juara. Walaupun usianya sudah lebih dari 80 tahun, suami dari Pujiati itu mengaku akan tetap berolahraga lari, karena dari aktivitas itu tetap membuatnya sehat. (Surya Yuli P-67)