image
13 Oktober 2017 | Wacana

Messi dan Magi Budaya Pop

  • Oleh Amir Machmud NS

Sepak bola, dalam wajah industrial, bukan lagi sekadar olahraga. Ia produk entertainment, budaya pop dengan pertemuan aneka kepentingan bisnis

MUNGKINKAHPiala Dunia Sepak Bola menukar daya magis para bintang dunia dengan kehadiran tim-tim debutan untuk menciptakan kejutan?

Kira-kira, seperti itulah kegelisahan FIFA, ketika Piala Dunia di Rusia tahun depan telah memastikan ketidakhadiran Gareth Bale, salah satu pemain terbaik dunia. Wales gagal lolos dari kualifikasi, dan Bale pun bernasib sama dengan sejumlah jagoan yang tidak merasakan atmosfer putaran final World Cup.

Kekhawatiran utama FIFA terkait dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Tak terbayangkan jika keduanya absen di Rusia karena Argentina dan Portugal gagal. Namun itu tak terbukti. Messi bahkan secara dramatis mencetak hattrick ke gawang Ekuador. Momen kepahlawanan seorang bintang besar yang pasti akan selalu dikenang.

Untuk eventyang disebut-sebut sebagai The Greatest Show on Earth ini, kalkulasi FIFAbukan sekadar magnet teknis yang bakal menyusut lantaran absennya sejumlah bintang. Yang lebih terbayangkan adalah kerugian finansial dari penjualan brandmanusia-manusia seperti Messi, Ronaldo, atau Neymar Junior. Ucapan jemawa Zlatan Ibrahimovic saat Swedia gagal lolos ke Brasil 2014 pun menemukan justifikasinya, "Piala Dunia tidak menarik tanpa Zlatan..."

Empu sepak bola Argentina, Luis Cesar Menotti pernah berujar, tim sepak bola tanpa pemain bintang ibarat negeri tanpa penyair. Substansi kalimat filosofis ini adalah "inspirasi", yang bisa dikembangkan sebagai realitas kebutuhan akan adanya "magnet", "bunga", dan sang pencerah. Terlepas dari sifat kolektif yang dibutuhkan oleh sebuah tim, daya tarik bintang merupakan ruh yang selalu melekat dalam "raga" sepak bola sebagai kembang penting pertunjukan.

Maka pertanyaan apakah ketidakhadiran sejumlah pemain bintang bakal tergantikan oleh pemunculan timtim kejutan, akan mudah dijawab: artikulasinya adalah satu dan lain hal.

Kejutan Kamerun dengan atraktivitasnya di Italia 1990, performa mengejutkan Korea Selatan dan Senegal pada 2002, atau impresivitas Ghana di Afrika Selatan 2010, menjadi penguat dinamika drama penyetaraan kekuatan sepak bola dunia. Hal yang berbeda dibandingkan dengan, misalnya, warna-warni kehadiran pemain besar.

Konstruksi opini akan menyatakan, adalah "keharusan" atau setidak-tidaknya "kepatutan" apabila Messi atau Ronaldo "berpesta" di ajang puncak kemampuan manusia sepak bola itu, seperti dulu Pele, Johan Cruyff, Maradona, dan Zidane merasakannya.

Produk Budaya Pop

Sepak bola, dalam wajah industrial, bukan lagi sekadar olahraga. Ia produk entertainment, budaya pop dengan pertemuan aneka kepentingan bisnis. Industri budaya pop dalam konteks bola selalu butuh figur, man of football yang punya magnet pembeda.

Dalam analisis Teguh Imanto ("Budaya Populer dan Realitas Media", www.esaunggul.ac.id) yang mengutip Sunarti (2003), budaya pop lahir atas kehendak media. Media, menurut Syukriadi Sambas (Antropologi Komunikasi, 2006), punya kemampuan yang tiada tandingan untuk memperlihatkan, mendramatisasikan, dan memopulerkan potongan-potongan kecil dan fragmen budaya dari informasi. Budaya dan media adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Maka, realitasnya, yang terjual melalui tren mediatika bukan hanya pertandingan- pertandingan, tetapi juga dinamika keseharian manusianya, para pelakunya. Aneka konflik pun bisa terkemas dalam format conflictainment yang beragenda setting, semiotika, dan framing berlatar pop. Pemain, pelatih, fans, dan pemilik klub "bertemu" dalam adonan budaya yang "seolah-olah" hanya urusan sepak bola, padahal sejatinya mereka masuk dalam pusaran kapitalisme global.

Simaklah el clasico, yang selain "menjual" mutu laga sepak bola juga menjajakan "pertengkaran" sosial-politik antara Barcelona versus Real Madrid sebagai representasi perseteruan politik Spanyol - Catalonia. Kalau bukan karena kekuatan kemasan media, bagaimana menjadikan pertandingan ini sebagai "tontonan perang" yang dinanti?

Media menjadi penyaji dengan pilihan-pilihan angle yang telah dikonstruksi sedemikian rupa. Menciptakan drama-drama, mengaitkan peran Messi sebagai penyangga utama tim nasional Argentina. Padahal bukan Messi seorang diri yang seharusnya bertanggung jawab atas kebutuhan kemenangan Albiceleste.

Media pula yang seharusnya memilah, Messi-kah yang paling bertanggung jawab terhadap timnas negaranya? Mengapa posisinya selalu dramatis, diperbandingkan dengan kesuksesan Maradona untuk masa yang berbeda, tantangan yang pasti tidak sama? Apakah capaian kehebatan pribadi bersama klub Barcelona menjadi sia-sia karena dia menanggung beban performa timnasnya? Nah, bagaimana pula rakyat Argentina merayakan tiket ke Rusia setelah sempat tertahan di tubir jurang? Masih diragukankah heroisme kontribusi Messi?

Budaya pop, termasuk yang merambah industri sepak bola, agaknya mengetengahkan permisivitas total untuk memuja, menghujat, menyesali, dan meratapi. (42)

Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah