image

SM/Susanto - BERZIARAH : Para santri Ponpes At Taujieh Leler, Randegan, Kecamatan Kebasen saat berziarah di makam ulama di Cirebon beberapa waktu lalu.(19)

13 Oktober 2017 | Suara Banyumas

Santri Harus Banyak Membaca

BANYUMAS- Santri sebagai bagian dari elemen masyarakat nusantara diharapkan dapat menjadi benteng terhadap bahaya radikalisme yang kini mengancam kesatuan bangsa dan negara. Maka dari itulah santri saat ini diharapkan dapat belajar apapun dan di manapun.

Budayawan Ahmad Tohari mengatakan santri harus serba bisa untuk menghadapi tantangan zaman sekarang ini. Untuk itulah selain pendidikan agama, santri harus mempunyai bekal lainnya untuk menunjang perannya di berbagai kehidupan masyarakat bangsa dan negara. ”Jika dulu santri menjalani laku prihatin dengan ‘ngrowot, atau jalan kaki dari Watucongol hingga Magelang, liwet nasi dengan lauk gesek (ikan asin).

Sekarang harusnya ada yang berbeda,” katanya menanggapi peringatan hari santri nasional. Mengutip perkataan Gus Dur, santri sekarang harus beralih dalam menjalankan laku prihatin yaitu dengan menggunakan waktu sebanyak- banyaknya untuk membaca. Ya, selain kitab kuning, santri diharapkan membaca apa saja.

”Karena saya memandang membaca dan menulis tak bisa dipisahkan. Laksanakan nasihat Gus Dur. Konteksnya bisa santri bisa membaca buku apa saja, pengetahuan umum, sejarah, politik, sastra dan sebagainya. Dulu saja, Gus Dur membaca Das Kapital dan Manifesto Komunis,” tekan Tohari yang sejak muda punya hobi memancing ikan. Ahmad Tohari sangat mendukung dan sepakat apa yang dikatakan Gus Dur sewaktu mengunjungi Banyumas tersebut.

Ia yakin dan percaya bahwa dengan mengembangkan pengetahuan yang banyak maka santri dengan sendirinya akan mempunyak kapasitas untuk mengambil peran di masyarakat. ”Kalau tak cukup pengetahuan, santri akan menjadi manusia yang terkurung. Ia mungkin bisa merasa drinya berilmu, tapi hanya terkurung dalam pesantren kecil ataupun di pesantren besar yang bernama NU,” katanya.

Orang Awam

Tanpa mempunyai pengetahuan agama dan umum yang mumpuni, santri hanya akan menjadi orang awam saja. Santri tidak akan punya peran yang menonjol bagi masyarakat. Keberadaan kitab kuning seharusnya dipelajari, diketahui dan dicarikan konteksnya untuk masa sekarang.

Kitab kuning adalah kearifan keilmuan di masa lalu. Maka dari itulah, sebaiknya kitab kuning menjadi terminal keberangkatan bukan untuk tujuan atau orientasi akhir santri. ”Saya sering memberikan gambaran. Kita hidup menghadap ke depan. Seperti berkendara, maka sesekali kita melihat ke belakang dengan spion, tetapi jalan menoleh. Pengetahuannya adalah ke depan, masa depan harus diambil manfaatnya,” jelasnya.

Dikatakan Kang Tohari, nasehat Gus Dur agar santri membaca juga bisa diartikan santri juga bisa rajin menulis. Apalagi di masa lampau tradisi menulis di kalangan pesantren ataupun santri sangat kuat. Santri biasa berdiskusi, membuat risalah dan membahas pendapat ulama hingga membuat pembahasan atas pembahasan suatu hal. Jadi sekarangpun, sebaiknya santri juga rajin menulis. ”Ada peribahasa, pengetahuan itu ibarat air. Ia harus tetap mengalir, atau kalau tidak, maka ia akan membusuk.

Pengetahuan harus dialirkan, salah satunya dengan ditulis,” tegasnya. Ditanya soal figur yang bisa diteladani saat ini, Ahmad Tohari merenung sebentar. Iapun menyatakan enggan menunjuk sosok santri sekarang yang masih hidup. Kemudian ia menunjuk sosok Wahid Hasyim, yang tak lain adalah ayah dari Gus Dur. ”Bapaknya Gus Dur menjadi sandarannya Bung Karno. Beda dengan sekarang ini, sebagaimana diungkapkan seorang profesor saat ini kita krisis negarawan. Tetapi saya yakin negarawan masih tetap ada.

Tapi saya tidak tahu siapa dia,” jelas Tohari sambil tertawa. Untuk menghadapi masa sekarang dan masa depan, santri hendaknya dapat belajar dari perjuangan para santri di masa lampu. Apalagi di tengah arncaman faham dan gempuran gerakan radikalisme, santri harus benar-benar punya kapasitas yang handal terutama dalam pengetahuan hingga pemberdayaan. ”Perjuangan santri, saya tekankan jangan hanya dibatasi ilmu agama saja, tetapi ilmu apapun. Yang penting bisa berguna bagi kemanusiaan,” katanya. Santri juga diharapkan dapat memandang permasalahan radikalisme yang terjadi sekarang ini tidak semata soal teologi dan politis semata.

Karena ternyata radikalisme juga bisa berpangkal dari masalah ekonomi dan ketidak pastian generasi menjalani hidup. Apalagi sekarang ini, kesenjangan ekonomi dan sosial budaya sangat kentara dan membawa efek psikologi yang kuat bagi masyarakat. ”Bisa dilihat puluhan juta anak atau remaja gelisah hidupnya. Masa depannya tak menentu, pekerjaan tak jelas, ingin berumah tangga, sementara di tengah ketidakberdayaan mereka, orang kaya menampilkan hedonisme, glamorisme dan sebagainya,” katanya.

Terkait dengan tantangan bahaya radikalisme itulah, pendidikan manusia harus diarahkan dalam keseimbangan. Intelektualitas dan sensitivitas arus seimbang. Orang harus menghargai berbagai pelajar yang menumbuhkan sensitivitas mulai dari seni, sastra dan berbagai ilmu humaniora lainnya. ”Sayangnya, sekarang ini yang dikejar adalah kepandaian saja. Tak heran jika sekarang di SMA, lebih banyak siswa jurusan IPA daripada IPS.

Apalagi Bahasa. Mestinya dalam IPA pun harus ada pelajaran humaniora sehingga membuat orang lebih manusiawi,” katanya. Mengapa humaniora itu penting? Karena dengan kepekaan dan sensitivitas maka orang akan mempunyai perasaan yang halus. ”Orang yang mempunyai perasaan halus, pasti tak akan mungkin mau membakar mesjid dan mengebom orang,” tegas Tohari.(K37-19)