image
13 Oktober 2017 | Suara Banyumas

Penjaga Kebinekaan

AKADEMISIdari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Dr Hariyadi mengatakan ditetapkannya Hari Santri Nasional menjadi bentuk penghargaan bagi kontribusi para santri dan umat Islam pada umumnya dalam berdirinya dan bertahannya repulik ini. Khususnya momen resolusi jihad, ini menjadi momen di mana santri yang merupakan representasi masyarakat bawah berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Selama ini pula dalam sejarah berdirinya NKRI peran mereka sering hampir pasti diremehkan. Apalagi sejarah NKRI identik dengan sejarah perjuangan orang-orang hebat, tokoh-tokoh. Lebih spesifik lagi adalah kemiliteran. Makanya santri sebagai perwakilan masyarakat bawah penting perlu dihargai dalam kontribusinya.

Selama ini kaum santri merupakan potret kaum terpinggirkan. Secara ekonomi kaum santri adalah mencerminkan mayoritas masyarakat Indonesia. Untuk itulah negara harus memperhatikan masyarakat ekonomi sulit ini. Karena seperti kita ketahui, kehidupan santri di pondok pesantren di masa lampau hingga sekarang inipun merupakan cermin kehidupan masyarakat sederhana, masyarakat jelata. Mereka tidur seadanya, pakaian sederhana, bahkan di sela kegiatan menimpa ilmu mereka juga masih mengerjakan pekerjaan fisik lainnya.

Menurutnya kultur pesantren di nusantara yang menjunjung persatuan dan kesatuan dalam kebinekaan sangat cocok di masa sekarang dan nanti. Sejak dulu hingga sekarang pesantren selalu identintik dengan pemahaman nasionalisme. Jauh sebelum gerakan perjuangan nasional tumbuh, sudah ada semangat dan gerakan pesantren yang anti penjajahan, kolonialisme dan berbagai penindasan lainnya.

”Paham kebinekaan dan nasionalisme santri yang kuat di masa lampau bahkan dianggap berbahaya bagi bangsa penjajah. Peran santri dianggap berbahaya terutama setelah meletusnya perang Jawa yang dipimpin oleh Diponegoro,” ujarnya.

Pasca perang Jawa inilah, kata Hariyadi, kehidupan santri dan pesantren dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial Belanda. Mereka selalu diawasi, apalagi sebagian besar anak buah Pangeran Dipanegara berasal dari pesantren. Menurut lulusan pasca sarjana dari Inggris tersebut, pesantren merupakan lembaga pendidikan paling tua pertama di Indonesia. Pesantren punya banyak kelebihan daripada pendiikan modern a la Belanda.

Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan, ilmu dan keterampilan, namun karakter seringkali dilupakan. Kalau betul-betul pemerintah ingin mengembangkan revolusi mental dengan mengembangkan karakter anak-anak. Pesantren adalah tempat paling cocok. Proses pelajar dimulai sejak subuh, bagaimana penghormatan terhadap kepada orang tua ditanamkan , kadab kepada kiai ditanamnkan. Suatau hal yang dalam pendidikan modern saat ini tidak tampak. Pesantren bisa menjadi pelangkap sistem sekolah pendidikan modern.

Bahkan sekolah modern harus belajar pda pesantren dalam hal pengembangan pendidikan karakter. ”Adanya mekanisme subsidi silang dalam kehidupan pesantren juga patus ditiru polanya. Santri kaya menyumbang pada yang miskin sesuai kemampuan mereka. Bahkan di pesantren banyak santri yang tidak bayar dan mendapatkan sokongan subsidi dari santri yang kaya. Pola ini perlu dicontoh untuk pendidikan modern bagaimana subsidi silang diterapkan hingga memberikan manfaat dan keadilan,” tegasnya.(Susanto-19)