image

SM/dok

13 Oktober 2017 | Suara Muria

OASE

Islam Ramah Lingkungan

  • Oleh Nur Kholis Anwar

BERDAMAIdengan alam, merawat dan menjaga ekosistem merupakan fundamen penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia. Allah telah menyediakan alam ini lengkap dengan isinya yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.

Hanya manusia kadang tidak bijak dalam memanfaatkannya. Tak heran apabila muncul berbagai bencana yang meluluhlantakkan kehidupan. Dalam Alquran, Allah telah mengingatkan kepada manusia bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti tercantum dalam SuraH Ar-Rum 41. Dalam arti lain, manusia merupakan ìotakî dari kerusakan yang ada di alam ini.

Mereka tidak mengindahkan ajaran fundamental Tuhan, yakni kearifan ekologis. Berbagai bencana yang sering datang saat ini, menjadi titik tolak penting untuk merefleksikan diri dan menelaah lebih dalam, seberapa jauh kecintaan kita terhadap alam (hablum minal alam).

Seberapa jauh tingkat kompromi antara masyarakat dan alam? Atau hanya sekadar pemanfaatan semata? Emil Durkheim mengatakan, agama dan masyarakat adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Sinergitas keduanya mempunyai peranan penting untuk menjaga kelestarian ekosistem dan lingkungan.

Apabila keduanya berjalan sendiri-sendiri, masyarakat hanya memikirkan bagaimana cara memanfaatkan alam dan agama hanya dijadikan dalih keberpihakan, kerusakan, becana dan petaka akan turut serta menghampiri. Mindset demikian tentu saja tidak sejalan dengan ajaran profetik Rasulullah saw yang selalu didasarkan pada dalil-dalil luhur Alquran. Spirit profetik itu sangat jelas, yakni terciptanya sebuah sistem atau tatanan kehidupan yang rahmatan lil alamin atau rahmat bagi sekalian alam.

Penanggulangan Bencana

Patut kita sadari dunia dewasa ini sedang diombang-ambingkan oleh berbagai macam bencana, baik bencana yang segaja diciptakan oleh mausia maupun bencana alam. Kita bisa melihat bagaimana banjir selalu menyapa saat musim hujan tiba, kekeringan berada di mana-mana ketika kemarau menyapa, gempa bumi, tsunami dan lain sebagainya. Sebagai insan beragama, lalu bagaimana sikap kita?

Kehidupan di dunia ini memerlukan keseimbangan di antara keduanya, yakni dunia dan akhirat. Manusia sebagai mahluk sosial, tidak bisa hanya mementingkan urusan akhirat, sementara urusan dunia tidak diperhatikan. Lingkungan hidup juga merupakan gabungan dari kondisi sosial dan budaya yang dapat berpengaruh pada kelangsungan umat manusia.

Sudah sangat jelas, kerusakan dan bencana yang terjadi di duia ini adalah karena ulah manusia sendiri. Allah sendiri telah mengingatkan kepada manusia untuk senantiasa menjaga alam, menjaga yang hidup dan tidak berbuat semena-mena terhadap alam. Karena yang demikian itu dapat menghindarkan umat manusia dari mala petaka dan berbagai bencana. Sayid Hosen Nasr dalam bukunya Masyarakat Pasca Kenabian menjelaskan, Islam senantiasa menjunjung tinggi kelestarian lingkungan sebagai tradisi yang hidup.

Manusia sebagai mahluk beragama, mempunyai tanggung jawab untuk menjaga tradisi yang hidup itu sebagai sebuah jalan damai. Manusia harus sadar, kerusakan lingkungan telah menyebabkan tanah longsor, gempa bumi, kekeringan, banjir dan lain sebagainya. Apabila tingkat kecintaan kita terhadap alam hanya sebatas pemanfaatan tanpa ada keberlanjutan, itu sama halnya denga menantang bahaya. Akan lain cerita apabila ada hubungan timbal balik yang positif antara manusia dengan alam.

Di dalam Alquran begitu banyak ayat yang memberikan ibrah (pelajaran) kepada kita, bahwa di masa lalu Allah telah membinasakan beberapa negara beserta penduduknya akibat keserakahan umat manusia Mereka tidak mengindahkan perintah Allah dan malah berbuat kezaliman. Dalam sebuah riwayat juga dijelaskan, pada zaman Umar bin Khattab menjadi pemimpin pasca meninggalnya Raslullah, terjadi gempa yang maha dahsyat. Bencana alam itu menelan banyak korban jiwa.

Umar bin Khattab mendatangi wilayah tersebut, bertemu dan mengumpulkan penduduknya. Kalimat pertama yang keluar dari Beliau bukan bela sungkawa ataupun rasa empati, akan ajakan untuk instropeksi diri. Titik penting dari ibrah tersebut, segala perbuatan manusia di muka bumi ini mempunyai konsekuansi logis yang tak terelakkan. Mereka yang serakah dengan alam, enggan untuk menjaga ciptaan Tuhan, dan berbuat seenaknya sendiri, akan mendapatkan akibat dari perbuatannya tersebut.

Maka dari itu, sudah sepatutnya umat islam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem sebagai perintah dari Allah (ekoteologi). Kapan dan dimana datangnya bencana, manusia hanya bisa berspekulasi, tidak ada yang tahu kepastiannya. Untuk itu, manusia hanya bisa mengantisipasi, dan Allah yang akan mempertimbangkan semuanya. (H49-14)

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Hasyim Asy’arie Yogyakarta