image

SM/ Prayitno - PASANG PARALON : Karyawan Hotel Graha Muria, Colo (Dawe) Kudus memasang paralon di salah satu alur mata air di ketinggian 1.200 meter dpl. (14)

13 Oktober 2017 | Suara Muria

Kemarau Susah, Hujan Pun Repot

  • Kebutuhan Air di Gunung Muria

SEPATUpantofel bersemir mengkilat yang saban hari hari dikenakan saat bekerja, harus ditanggalkan. Temasuk baju dan celana formal. Meski tengah menjalankan tugas dinas, justru dengan berpakaian formal lengkap, malah bisa disebut salah kostum.

Pada siang yang terik, tiga lelaki yang biasa berkantor di Hotel Graha Muria dan Taman Ria, Desa Colo (Gunung Muria), Dawe, Kudus, harus naik ke puncak. Beberapa ratus meter lebih tinggi dari hotel dan taman itu berlokasi. Aksi kerja ekstra tersebut seperti selalu terjadwal pada waktu-waktu tertentu. Sukamto yang bersama Sujadi telah sampai di lokasi yang disasar, harus kembali turun ke Hotel Graha Muria untuk mengambil peralatan. Keduanya kecele.

Perkiraannya meleset, karena fakta di lapangan menunjukkan harus dilakukan penggalian agar pipa paralon bisa mengakses air, yang permukaannya ternyata telah menurun. Dalam musim kemarau volume air terus menurun, sehingga posisi ujung paralon berada di atas permukaan air. Mulut paralon yang semestinya menangkap air menjadi tak berfungsi. Karenanya, ujung paralon harus dibenamkan lebih dalam lagi sehingga harus dilakukan penggalian kembali.

Sukamto membawa engkrak plastik. Nurul Khudlri yang kemudian diajak menyusul Sujadi yang ditinggal di atas, membawa linggis. Keduanya mengendarai sendiri-sendiri motor, menyusuri jalanan sempit beraspal dengan beberapa tanjakan terjal sejauh sekitar 1,5 km hingga di kawasan Rejenu (kompleks makam Syeh Sadzali, guru Sunan Muria Raden Umar Said).

Setelah berbelok ke kiri beberapa meter sebelum masuk kompleks Makam Syeh Sadzali, dan ganti menyusuri jalanan tanah pada hamparan kebun kopi sepanjang 100 meter, motor terpaksa ditinggalkan. Harus berjalan kaki, menyusuri dasar sungai dengan batuan seukuran gajah dan kerikil yang terserak.

Pipa paralon yang menjadi instalasi distribusi air, dari ukuran 0,5 inci hingga 3 inci malang melintang tak keruan segera menyambut, begitu mendekat penampang alur hingga dasaran sungai. Dari sumber-sumber yang bertebaran di kawasan salah satu puncak, air mengalir lewat transmisi tersebut ke Desa Colo dan Japan. Ada pun Desa Kajar mengambil air dari lokasi lain, yakni alur sungai di sebelah barat puncak yang menjadi kompleks Makam Sunan Muria.

Berulang Kali

Setelah menyusuri dasar sungai berbatu sekitar 500 meter dari motor yang ditinggalkan di jalan setapak, Sukamto sampai di lokasi yang dituju. Nurul Kudlri sudah lebih dulu mencapai tempat itu dan bergabung dengan Sujadi. Mereka bertiga pun melakukan penggalian dan penataan pipa berdiameter 2 inci. Dalam perkiraan Sujadi dan Sukamto, kubangan air di dasar sungai yang akan dipasang kembali paralon penangkap, dalam kisaran tinggal 0,3 liter per detik. Tiada adukan semen dan pasir untuk menata kembali paralon, cukup hanya ditimbun tanah dan batu-batu kecil. Saat tingkat hunian hotel dalam posisi maksimal, hotel tersebut membutuhkan pasokan air setidak-tidaknya 0,5 liter/- detik.

Sulitnya beroleh pasokan air, mengakibatkan manajemen hotel sudah lama tak mampu mengoperasionalkan kolam renang. Air yang diakses dengan paralon kemudian dimasukkan terlebih dahulu pada bak penampungan unit 1 dan unit 2 yang dibangun pada 2007, jarak di antaranya sekitar 200 meter. Dua unit bak tersebut berlokasi di tepian alur sungai di atas tebing air terjung Monthel, yang jauhnya sekitar 750 meter. Pipa transmisi kemudian diteruskan pada dua unit bak penampung yang terdapat di bawah kawasan air terjun Monthel, yang jauhnya dari Hotel Graha sekitar 1 km.

Di kompleks Hotel Graha, air dari kawasan sumber/alur kali sejauh 1,75 km dimasukkan ke sebuah bak penampung, yang sekaligus berfungsi untuk penjernihan. Beberapa hari lalu, setelah turun hujan deras, sejumlah pegawai harus kembali naik ke posisi ujung paralon penangkap air. Suplai air macet, dan setelah dilakukan pengecekan, ada sampah yang menyumbat penampang paralon. Tak hanya tiga karyawan Hotel Graha yang kebagian tugas melakukan pembenahan transmisi paralon air.

Mereka yakni Muryono, Suparmin, Bambang Siswanto, dan Eko Prasetyo juga mendapati pekerjaan yang tak berbeda. Bahkan, ketika hotel sedang penuh tamu menginap, karyawan perempuan pun harus ikut terjun menyisir paralon yang putus tertimpa pohon tumbang saat terjadi hujan dan angin kencang pada malam hari awal Agustus lalu. ”Saat sungai banjir, sambungan pipa paralon juga kadang putus karena diterjang banjir. Itu kalau musim phujan. Bila kemarau berkepanjangan, juga berulang kali harus menata ujung paralon penangkap air,” kata Sukamto

. Sementara atas manfaat yang diperoleh dari air tersebut, setiap setahun sekali, pegawai hotel tersebut mengadakan syukuran di lokasi instalasi paralon paling ujung/penangkap air. Bancakan yang dilakukan bertepatan dengan tradisi Apitan atau sedekah bumi, pada pertengahan Agustus lalu. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Objek Wisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Mutrikah SH membenarkan masalah kebutuhan air merupakan kendala bagi Hotel Graha Muria.

”Kami telah berkoordinasi dengan pihak Perhutani untuk mencari solusi kebutuhan air agar pengunjung hotel nyaman.” Pihaknya yang juga membawahkan kawasan objek wisata Colo, Gunung Muria, telah mendapati sebuah sumber yang debitnya relatif lebih besar dari titik sumber yang selama ini diambilnya. Lokasinya naik sejauh sekitar 200 meter dari lokasi sumber yang airnya telh diakses. ”Tetapi untuk mengaksesnya, kami akan berkomunikasi dengan pihak desa terlebih dulu.” (Prayitno- 14)