13 Oktober 2017 | Suara Pantura

Sanksi dan Pengawasan, Kunci Menata Kota Bumiayu

BUMIAYU-Warga Bumiayu menaruh harapan besar pada sejumlah rencana penataan kota Kecamatan Bumiayu, Brebes. Sanksi dan pengawasan disebut sebagai kunci keberhasilan dari program yang direncanakan tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya (Suara Merdeka, 12/10), Dinas Perhubungan, Koperasi UMKM Perdagangan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Satpol PPmenggelar rapat penertiban lalu lintas dan pedagang untuk menata kota Bumiayu.

Rapat yang dipimpin Asisten II Sekda Diding Setiadi itu di antaranya menghasilkan pemberlakuan jam bongkar muat, penataan, dan penertiban parkir, pengelolaan sampah pasar serta pemindahan Pasar Kalierang. Pegiat LSM di Paguyangan Mardiyanto mengemukakan, beberapa yang dihasilkan dalam rapat tersebut bukan hal yang baru.

Sejumlah rencana program tersebut pernah dilakukan namun hanya berhasil sesaat saja. Kondisi parkir tepi jalan tetap saja semrawut. Kendaraan barang juga masih bebas mengadakan bongkar muat meski di ujung selatan dan utara kota Bumiayu terpasang rambu jam bongkar muat. Pedagang kaki lima juga semakin bertambah jumlahnya. Dua sungai (Sungai Keruh dan Erang) yang seharusnya menyejukkan pun sudah mulai dihiasi sampah.

Pusat Ekonomi

Berbagai kondisi itu, menurut Mardiyanto, mengindikasikan masih lemahnya sanksi dan pengawasan. ”Kalau program penataan kota ingin berhasil dan berkelanjutan, ketegasan (sanksi) dan pengawasan menjadi kuncinya,” ujarnya. Di bagian yang lain, dia sependapat jika Pasar Kalierang dipindah ke Terminal Bumiayu. Dengan demikian keramaian kota tidak memusat di Jalan Diponegoro (kota).

”Rencana tersebut harus bisa diwujudkan. Adapun lahan eks pasar bisa dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau atau taman kota,” ucapnya. Camat Bumiayu Urip Rosidik yang diwakili Kasi Tramtib pada Rapat Penertiban Lalu Lintas dan Pedagang mengemukakan bahwa Bumiayu menjadi pusat aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat enam kecamatan di Brebes selatan. ”Seluruh aktivitas ekonomi Brebes selatan terpusat di sini (Bumiayu- Red),” ujar dia. Kepadatan lalu lintas, lanjut dia, juga karena jumlah kendaraan yang terus bertambah.

”Setiap bulan ada 300 sepeda motor baru dan 20 kendaraan roda empat. Sementara itu, infrastruktur jalan tidak bertambah,” ucapnya. Karena itu, menurut dia, keberhasilan program penataan kota berada di tangan masyarakat itu sendiri. ”Kalau masyarakat memiliki kesadaran dan mau mendukung program pemerintah, tentu impian warga agar kota Bumiayu menjadi tertib dan nyaman akan terwujud,” tandas dia.(H51-48)