13 Oktober 2017 | Edukasia

173 Siswa SMA/MA Ikuti Olimpiade Penelitian

MALANG- Sebanyak 173 siswa sekolah menengah atas (SMA)/ madrasah Aliyah (MA) mengikuti kompetisi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2017 di Malang, 9 - 14 Oktober 2017. Kepala Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA, Rizal Alfian mengatakan, OPSI 2017 merupakan penyelenggaraan yang ke-9, sekaligus ke-3 kalinya diselenggarakan di luar Jakarta.

”Tujuan diselenggarakannya OPSI untuk memotivasi siswa SMA/MA agar berkreasi dalam berbagai bidang ilmu sesuai dengan minat dan bakatnya,” ujar Rizal saat memberikan laporan dalam acara pembukaan OPSI 2017. Para peserta yang mendaftar sekitar 2.000 siswa SMA/MA. Namun, karya penelitian yang masuk hanya sebanyak 1.207.

Karya tersebut lalu diseleksi lagi untuk maju ke tingkat nasional, dan menghasilkan 90 karya penelitian dari 173 siswa SMA/MA. Ke-90 karya penelitian itu terdiri atas 38 karya Sains dan Teknologi, 22 karya Matematika dan Rekayasa, dan 30 karya Ilmu Sosial dan Humaniora. Para finalis OPSI 2017 dinilai dalam dua tahap, yaitu melalui pameran penelitian dan presentasi penelitian.

Dalam pameran penelitian, mereka diberikan satu gerai atau stan untuk menampilkan poster yang memuat informasi tentang penelitian mereka. Para peneliti muda itu juga dapat meletakkan barang-barang atau benda-benda serta alat demo yang dapat mendukung presentasi mereka saat juri mengunjungi stan guna melakukan penilaian.

Pameran penelitian berlangsung pada Rabu (11/10), di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Pada Kamis (12/10), para finalis OPSI mempresentasikan penelitian mereka di hadapan juri dalam bentuk forum sidang. Pada tahap ini, dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dan kesiapan mental untuk dapat memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan juri. Direktur Pembinaan SMA Kemdikbud Purwadi Sutanto menuturkan, OPSI bermanfaat sebagai wahana siswa berkreasi melakukan atau menciptakan sesuatu.

Selain OPSI, ada juga wahana lain yang diselenggarakan oleh lembaga/kementerian lain, seperti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). ”Mari kita bersama-sama mewujudkan wahana-wahana yang bisa mendorong kreativitas dan minat bakat anak-anak sehingga mereka mampu berprestasi dan menuangkan ide-idenya untuk berkreasi,” tutur Purwadi.(nya-42)