12 Oktober 2017 | Internasional

Gunakan Jerigen, Menyeberang ke Bangladesh

COX'S BAZAR- Segala cara dilakukan para pengungsi Rohingya untuk menyelematkan diri dari kekerasan di Myanmar. Beberapa dari mereka menyeberangi Sungai Naf dengan hanya menggunakan jerigen.

Mereka ditangkap oleh para penjaga pantai Bangladesh, Rabu (11/10) kemarin. Menurut para penjaga pantai, ke-11 orang itu telah beberapa hari menunggu kapal untuk membawa keluarga mereka menyeberangi Sungai naf menuju Bangladesh.

Namun tak ada satupun kapal yang datang. ”Mereka memutuskan untuk berenang sejauh dua kilometer di muara sungai. Penjaga pantai mengevakuasi mereka dari Sungai Naf saat mereka mengambang dengan jerigen di dekat Shah Porir Dwip,” kata Jalil, merujuk pada sebuah kota pesisir Bangladesh.

”Mereka mengatakan bahwa mereka berencana menyewa kapal untuk membawa keluarga dan kerabat mereka serta ratusan orang Rohingya lainnya yang telah berkumpul di tepi sungai untuk menyeberang ke Bangladesh.” Sungai Naf menjadi perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar barat yang menjadi lokasi kekerasan etnis.

Lebih dari 520.000 warga Muslim Rohingya terpaksa melintasi perbatasan itu untuk mengungsi sejak Agustus lalu. Mayoritas menyeberang ke Bangladesh melalui darat namun ribuan orang memilih mengungsi melalui laut dan sungai.

Hingga kemarin, terdapat hampir 160 warga Rohingya yang tenggelam dalam perjalanan berbahaya tersebut. Bangladesh telah menghancurkan kapal nelayan dan memenjarakan para kapten kapal yang dituduh menyelundupkan warga Rohingya ke Bangladesh.

Langkah itu diambil untuk membatasi jumlah pengungsi baru. Gelombang pengungsi sempat mandek namun kembali meningkat beberapa hari ini. Diperkirakan terdapat 11.000 pengungsi baru yang tiba di Bnagladesh pada Senin lalu.

PBB kemarin menyatakan, tindakan keras ”sistematis” Myanmar terhadap Rohingya bertujuan untuk secara permanen mengusir komunitas Muslim minoritas itu dari kampung halaman mereka di Negara Bagian Rakhine.

Siapkan Sanksi

Pernyataan PBB itu didasarkan pada wawancara dengan pengungsi yang telah melarikan diri ke Bangladesh. Menurut mereka, militer Myanmar telah meneror warga Rohingya melalui kekejaman yang berkisar dari pembunuhan tanpa pandang bulu hingga pemerkosaan.

”Serangan brutal terhadap Rohingya di Negara Bagian Rakhine utara telah terorganisir dengan baik, terkoordinasi dan sistematis, dengan tujuan untuk tidak hanya mengusir penduduk keluar dari Myanmar namun juga mencegah mereka untuk kembali ke rumah mereka,” kata PBB.

Terpisah dilaporkan Uni Eropa, kemarin, sepakat untuk menghentikan hubungan dengan pemimpin militer senior Myanmar sebagai bentuk protes atas ”penggunaan kekuatan yang tidak proporsional” terhadap minoritas Rohingya.

Blok tersebut juga memperingatkan bahwa pihaknya dapat mempertimbangkan sanksi jika tidak ada perbaikan dalam krisis tersebut. Kesepakatan itu telah disetujui oleh duta besar Uni Eropa dan dijadwalkan untuk ditandatangani pada pertemuan para menteri luar negeri pada hari Senin. (afp-mn-53)