11 Oktober 2017 | Internasional

Isu Vampir, Kedubes AS Juga Tarik Tim dari Malawi

LILONGWE- Isu vampir yang melanda Malawi, Filipina, menyebabkan beberapa negara menarik stafnya. Setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kini giliran Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) yang menarik sementara relawannya dari Malawi.

Pasalnya, isu ini memicu aksi kekerasan massal terhadap orang-orang yang diyakini sebagai pengisap darah. Seperti dilansir news.com.au dan media lokal Malawi, Nyasa Times, Selasa (10/10), Kedubes AS di Malawi telah menarik sementara tim relawan Pasukan Perdamaian dari empat distrik yang berbatasan dengan Mulanje, Malawi bagian selatan.

Lebih dari 2.400 relawan Pasukan Perdamaian AS bertugas di Malawi sejak program itu dibentuk tahun 1963. Para relawan AS itu bertugas di sektor pendidikan, lingkungan dan kesehatan. Tidak diketahui pasti jumlah relawan yang ditarik sementara. Kedubes AS merilis peringatan keamanan tertanggal 29 September 2017.

Isinya, selain soal penarikan tim relawan, juga soal imbauan agar para staf dan warga AS yang ada di Malawi untuk tidak mengunjungi area yang rawan aksi kekerasan karena rumor vampir. ”Aksi main hakim sendiri tengah berlangsung, dipicu rumor beberapa orang berusaha mengisap darah dari warga setempat untuk praktik ritual,” kata Kedubes AS dalam pernyataan tentang penyebab larangan berkunjung ke wilayah tertentu di Malawi.

”Kami mengimbau dengan tegas kepada warga AS untuk menghindari bepergian ke Distrik Mulanje dan waspada jika bepergian ke Distrik Thyolo, Chiradzulu dan Phalombe. Pasukan Perdamaian Amerika Serikat telah menarik sementara para relawannya dari distrik-distrik itu,” lanjut pernyataan Kedubes AS pada 2 Oktober lalu.

Enam Orang Tewas

Kepolisian Malawi melaporkan korban tewas akibat isu keberadaan vampir pengisap darah, mencapai enam orang. Otoritas Malawi mengerahkan banyak personel kepolisian untuk meredam kemarahan warga yang dipicu isu vampir itu.

Seperti dilansir news.com.au, Selasa (10/10), enam orang itu tewas dalam tiga insiden terpisah sejak pertengahan September di area sekitar Pengunungan Mulanje, Malawi bagian selatan. Mereka yang tewas kebanyakan dihakimi massa karena dicurigai merupakan vampir pengisap darah. Serangan terbaru terjadi pada akhir pekan lalu, saat rombongan warga yang marah memukuli dua orang hingga tewas.

”Mereka mencurigai dua korban sebagai pengisap darah,” kata juru bicara kepolisian setempat, James Kadadzera. Kedua korban tengah dalam perjalanan ke pegunungan setempat saat mereka dicegat massa yang marah dan bertindak kasar. Dalam serangan lain, seorang pejabat lokal tewas dibunuh kelompok massa yang menudingnya berkomplot dengan para pria pengisap darah manusia.

Kadadzera menegaskan isu-isu semacam ini tidak pernah ada bukti konkretnya. ”Tidak ada bukti soal pengisap darah, kami menyalahkan masyarakat yang main hakim sendiri,” tegasnya. Para korban yang diserang diyakini mengisap darah atau membantu para pengisap darah untuk ritual spiritual.(afp,rtr-niek-23)