08 Oktober 2017 | Bincang-bincang

GAYENG SEMARANG

Poligami

  • Oleh Mudjahirin Thohir

DULManan, kepala dinas peternakan, suatu hari mengajak istri dan seorang staf turba, turun ke bawah. Anjangsana, menemui para peternak kambing ettawa. Sang istri suka sekaligus curiga.

Suka karena pertanda sang suami punya perhatian. Padahal selama ini selalu menghindar diajak pergi bersama, lantaran sibuk menjalankan tugas atasan. Sampai-sampai mengabaikan sang istri dalam banyak hal. Kalau sampai di rumah, si istri menghampiri, selalu bilang lelah. Mirip prajurit yang kalah.

Curiga karena ajakan itu tidak biasa. Kecurigaan itu dia ubah menjadi mewaspadai berbagai kemungkinan. Siapa tahu sang suami punya wanita simpanan. Siapa tahu suami sudah menjadi member nikahsirri.com, yang akhir-akhir ini jadi persoalan.

Sampailah di desa peternakan yang dituju. Mata Markonah, sang istri, terbelalak melihat kambing jantan besar sedang berahi. Cepat Markonah berbisik, bertanya pada peternak, ”Berapa kali sehari kambing jantan ini dikawinkan?”

”Sepuluh kali, Ibu,” jawab peternak jujur.

Mendengar jawaban itu, Markonan spontan mengundang Kamdi, sang staf. Kamdi pun sesegera menghampiri.

”Bilang pada bosmu, kambing pejantan ini sanggup kawin sepuluh kali sehari.”

Kamdi pun segera berlari-lari kecil menemui Dul Manan yang asyik memberi wejangan. Hati-hati Kamdi menghampiri, lalu berbisik ke telinga kanan, ”Pak, saya disuruh Ibu mengabarkan kambing jantan yang dilihat Ibu sanggup kawin sepuluh kali sehari.”

Mendengar bisikan itu, Dul Manan tidak marah atau grogi. Dia tersenyum sambil menyampaikan pesan balik untuk sang istri. ”Bilang pada ibumu, kambing jantan itu kawin dengan sepuluh betina berbeda-beda.”

”Siap, laksanakan!” jawab Kamdi sambil berbalik untuk segera menyampaikan pesan sang juragan.

”Sudah kamu sampaikan!?” tanya Markonah, yang ingin segera tahu jawaban.

”Sampun, Bu,” jawab Kamdi merendah, karena tahu bakal ada kemarahan.

”Apa jawabnya?”

”Bapak membenarkan.”

”Terus?” selidik Markonah, ingin tahu apakah suaminya menangkap pesan di balik berita kejantanan perkara seksual.

”Bapak menyuruh saya memberi tahu Ibu,” jawab Kamdi pelan.

”Apa?”

”Kambing jantan itu memang sanggup kawin sepuluh kali, Bu. Namun mengawini kambing betina berbeda-beda.”

Makjleb! Markonah mendadak lemas, nyaris pingsan. Wajahnya memerah. Untung, ada kursi di sebelahnya sehingga dia bisa membanting tubuh ke kursi itu dan tak sampai terjerembap ke tanah. Dia jadi sangat membenci kambing jantan itu. Dia membayangkan bagaimana jika sang suami meniru. Poligami.

***

KATA”poligami” dalam ilmu sosial sebenernya hanya konsep biasa. Terminologi itu dilawankan dengan monogami. Istri satu.

Namun bagi umumnya perempuan yang menjadi istri beneran, kata itu memiliki daya ledak luar biasa. Lebih menakutkan daripada bom panci yang dipakai teroris membunuh orangorang tak berdosa.

Buktinya? Wanita cantik sekelas Sarah, istri Nabi Ibrahim, saja akhirnya tak bisa mengendalikan emosi.

Tak bisa menerima kehadiran wanita kedua. Dia yang dahulu mandul, ingin berbaik hati, menjodohkan Hajar dengan suaminya. Namun setelah Hajar hamil, dia cemburu tak ketulungan.

Sarah tak bisa menyembunyikan perasaan sakit hati. Bagaimana pula wanita biasa? Kronik kawin-mawin antara bermonogami atau berpoligami, antara kemauan istri yang berlawanan dengan hasrat lelaki, itulah yang barangkali menginspirasi Aris Wahyudi.

Setelah linglung karena gagal memenangi pemilihan Bupati Banyumas, dia mempunyai ide membuat jasa nikah siri online melalui situs www.nikahsirri. com.

Dia bikin slogan ”lelang perawan” dan ”mengubah zinah menjadi ibadah”. Dari sisi pemasaran, slogan itu tentu mengundang hasrat laki-laki.

Itu berarti, akan kebanjiran pelanggan. Berarti pula kebanjiran pendapatan. Kenapa? Perempuan bicara rumah tangga berbasis kesetiaan.

Adapun lelaki ”pencinta kawin” membicarakan rumah tangga nggak lepas dari pemenuhan libido seksual. Tuhan Mahatahu. Karena itu, Tuhan membuat sindiran amat tajam, ”Silakan kawini perempuan, satu, dua, tiga, atau empat sekalian jika kamu bisa berbuat adil.”

Lelaki yang tahu isyarat Tuhan itu mengiyakan untuk satu saja. Monogami lebih menenteramkan. Namun sebagian laki-laki lain berapologi. ”Untuk tahu adil, kan harus mencoba dulu dong!” Begitu argumen mereka.

Argumen itu dalam bahasa ilmu disebut metode eksperimental. Namun dalam etika keilmuan, eksperimen itu boleh dilakukan bagi binatang pengerat seperti tikus atau kambing ettawa. Bukan wanita. Wanita kok dibuat percobaan.

Itu pula ekspresi sikap geregeten wanita kepada kaum lelaki yang berideologi poligami. Lihat, misalnya, komentar Siti Juliahah MD alias SJ Tsurayya, penulis novel Jurnal Cinta Andromeda. Dia menulis status dalam Facebook begini, ”Lawan poligami. Kalo nggak bisa melawan ya jadikan lelucon aja, biar pelakunya diketawain rame-rame.”(44)