image
08 Oktober 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Kembangkan Ekonomi Kreatif dengan Budaya Lokal

  • Oleh Sofie Dwi Rifayani

Di usia muda, Bayu Skak membuktikan bahwa menjadi Youtuber adalah hal positif. Selain meraup finansial berkat video yang ia unggah di Youtube, Bayu juga mampu memperoleh jutaan pengikut.

Bayu Skak adalah nama panggung Bayu Eko Moektito, lelaki kelahiran Malang, 13 November 1993. Skak merupakan akronim Sekumpulan Arek Kesel, sebuah grup komedi yang ia dirikan bersama kawankawannya di SMK Grafika Malang. Ia mulai dikenal sejak mengunggah video lipsync di Youtube. Pada 2014, Raditya Dika menggandeng Bayu untuk main film Marmut Merah Jambu.

Apa yang membuat Bayu berbeda dari Youtuber lainnya? Arek Malang ini jeli melihat sasaran. Dengan berpedoman pada data bahwa 40 persen penduduk Indonesia mampu berbahasa Jawa, Bayu menciptakan konten-konten video memakai bahasa Jawa. “Aku sempat goyah saat orang-orang menyarankan untuk membuat video berbahasa Indonesia.

Tapi kemudian aku sadar, nek akare bahasa Jawa wes kuat yo bahasa Jawa ae (kalau akarnya bahasa Jawa sudah kuat, ya berbahasa Jawa saja),” ungkap Bayu dengan logat Jawa Timuran. Walhasil, meski tetap menggunakan bahasa Jawa, Bayu melengkapi video yang ia unggah dengan terjemahan bahasa Indonesia.

Tak disangka, penggunaan bahasa itu justru membuat penonton Youtube penasaran. Tidak hanya orang Jawa, orangorang luar Jawa pun tertarik menonton. Dalam kolom komentar banyak yang menulis bahwa mereka jadi bisa belajar bahasa Jawa dari video Bayu. “Nantinya konten videoku akan terus berbahasa Jawa.

Jadi walau terjun di bidang ekonomi kreatif dan memanfaatkan teknologi, aku tidak melupakan akar budayaku,” kata Bayu mantap. Kendati sejatinya industri kreatif menganut kebebasan berekspresi, Bayu mengingatkan pentingnya mengedepankan norma.

Soal ini ia bahkan dinasehati langsung oleh Presiden Joko Widodo. Kata Bayu, Jokowi mengingatkan bahwa Youtuber merupakan social influencer (bisa memengaruhi massa). Lantaran itu, Bayu dan kawan-kawan influencer lain harus berhati-hati dalam membuat konten karena bisa jadi teladan bagi massa tersebut.

Selaras

Sabtu (30/9) itu, Bayu menjadi pembicara terakhir dalam Seminar Nasional “Kearifan Budaya Nasional Menunjang Ekonomi Kreatif Maju Sejahtera” atau disingkat “Kebun Emas”. Bertempat di Auditorium Ir Widjatmoko Universitas Semarang (USM), acara yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USM itu dihadiri 550-an peserta.

Seminar dibuka dengan penampilan tari dari UKM Tari Sadiwasa USM. Setelahnya, Bupati Kudus Musthofa jadi pemateri pertama. Hari itu Musthofa berbusana batik, selaras dengan tema seminar tentang kearifan budaya. Pada awal sesi, pria berusia 54 tahun ini membeberkan filosofi Kudus yang terkenal, yakni “Gusjigang”. “‘Gus’itu berkarakter bagus. ‘Ji’dari kata ngaji atau belajar.

Dengan kata lain ada kemauan untuk terus belajar agar berwawasan luas. Sedangkan ‘Gang’adalah dagang, jiwa yang penting ditumbuhkan di masa ini,” papar Musthofa. Dengan spirit “Gusjigang”, Musthofa mengolaborasikan semangat ekonomi kreatif dengan kearifan budaya di Kudus.

Misalnya dengan menggandeng Ivan Gunawan, desainer busana, untuk memakai bordir Kudus dalam karyanya. Hasilnya, busana bertajuk “Savana Muria” tersebut tampil di Indonesia Fashion Week 2017, Februari lalu. Semangat mengangkat budaya lokal tak hanya dilakukan pemerintah. Generasi muda seperti Dinda Ayu Saraswati pun tidak mau kalah.

Dinda merupakan runner-up3 Miss Indonesia 2017 dari Jawa Tengah. Sebelum menapaki posisi saat ini, Dinda adalah sosok yang kerap minder. Ia punya banyak renjana, seperti monolog, menulis, dan desain grafis. Sayang, minat tersebut tidak dikembangkan lantaran Dinda sibuk “tidak percaya diri”. “Sampai sekarang saya bersyukur dulu memutuskan ikut Denok Kenang Semarang 2016.

Ajang itu membantu saya mengembangkan passionhingga bisa seperti sekarang,” tutur mahasiswa Hubungan Internasional Undip ini. Lewat pelbagai kontes yang ia ikuti, Dinda bisa mempromosikan Semarang. Tak jarang perempuan kelahiran 7 September 1997 ini promosi langsung ke teman-temannya dari kota lain. Dinda berharap aksi kecilnya itu bisa menggerakkan ekonomi kreatif Semarang.

Ketua acara Muhammad Edi Setyantoro mengatakan, mahasiswa sebagai agen perubahan harus ikut bergerak memupuk ekonomi kreatif dari berbagai bidang. “Khususnya lewat acara ini, kami ingin memberi wawasan tentang ekonomi kreatif dari bidang visual dan UMKM. Bahwa ekonomi kreatif di zaman ini harus lebih komunikatif, tanpa harus meninggalkan kearifan lokal,” pungkas Edi.(25)