image
08 Oktober 2017 | Rileks

”Jomblo”

Terkena Demam Daur Ulang

  • Oleh Sofie Dwi Rifayani

Empat sekawan Agus, Bimo, Olip, dan Doni kembali mengudara di layar lebar. Kendati tokoh dan latar cerita sama, sutradara Hanung Bramantyo mengemasnya dengan sudut pandang berbeda.

Satu dekade lalu, tepatnya Februari 2006, Agus dan kawankawan tampil perdana dalam film Jomblo besutan Hanung. Pada 5 Oktober ini, Hanung merilis kembali film yang dulunya meraih 600 ribu penonton tersebut. Meski berjarak sebelas tahun dari film pertama, Agus dan kawan-kawan tak bertambah tua.

Tidak seperti Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan gengnya dalam Ada Apa Dengan Cinta 2, atau Tita (Shandy Aulia) dalam Eiffel I’m in Love yang sekuelnya akan tayang pada akhir tahun ini. Film Jomblo teranyar ini melakukan regenerasi dalam hal aktor.

Tokoh Agus yang semula diperankan Ringgo Agus Rahman kini dimainkan Ge Pamungkas. Bimo di Jomblo teranyar dimainkan Arie Kriting. Lalu Deva Mahenra menjadi Olip yang dulu diperankan Rizky Hanggono. Sementara sosok Doni yang awalnya diperankan Christian Sugiono kini Richard Kylie.

Film Jomblo, baik produksi 2006 atau 2017, merupakan adaptasi novel Jomblo karangan Adhitya Mulya. Persahabatan mahasiswa di satu kampus, Agus (Sunda), Bimo (Jawa), Olip (Aceh), dan Doni yang blesteran dibumbui dengan persoalan bahwa mereka jomblo.

Di film pertamanya, status itu merupakan sasaran empuk untuk bahan ledekan. ”Jomblo yang sekarang lebih ke kebanggaan. Artinya, status jomblo bukanlah sebuah aib atau hambatan untuk percaya diri,” tutur Hanung. Sosok-sosok perempuan di film Jomblo baru bakal tetap sama seperti di film lama.

Misalnya Rita, sekarang dimainkan Natasha Rizky, semula Richa Novisha. Kemudian Lani, dulunya diperankan Nadia Saphira, kini Indah Permatasari. Tak ketinggalan perempuan yang jadi rebutan Olip dan Doni, Asri, dulu diperankan Rianti Cartwright tapi sekarang Aurelie Moeremans.

Lebih Segar

Setelah film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 sukses di pasaran dengan pendapatan kotor Rp 170 miliar, para pembuat film seolah latah menggarap film berkonsep daur ulang.

Sutradara Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi), misalnya, akan meluncurkan film Wiro Sableng 212 pada 2018 mendatang. Wiro Sableng merupakan pendekar fiktif karangan Bastian Tito. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, serial Wiro Sableng sangat terkenal.

Di era yang sama, sinetron Keluarga Cemara juga mendapat tempat spesial di hati pemirsa televisi. Ingin mendulang sukses yang sama, secara mengejutkan produser Anggia Kharisma mengatakan bakal merilis film Keluarga Cemara pada tahun depan. Tokoh fenomenal Abah dan Emak akan dibintangi Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir.

Kini saatnya Hanung dan proyek terbarunya, film Jomblo, yang menanti tanggapan dari para pencinta film. Mungkin Hanung tak merasa terbebani. Tapi fakta bahwa film Jomblo 2006 meraih tiga nominasi penghargaan piala Citra 2006 tak dapat dielakkan lagi.

Namun, ketimbang mengejar penghargaan, Hanung justru lebih fokus pada usaha penyegaran cerita. Film yang dinaungi rumah produksi Falcon Pictures ini menyinggung fenomena era milenial, yakni soal kemudahan interaksi di media sosial. Ihwal itu dulunya tidak ada di film Jomblo 2006.

Agar benar-benar segar, Hanung juga meminta para aktornya untuk tidak berkonsultasi, bahkan berinteraksi, dengan pemeran film Jomblo terdahulu. Apa yang membuat Hanung repotrepot melakukan reboot terhadap film Jomblo? Selain karena terlanjur jatuh hati dengan novel Jomblo, dia juga merasa bersalah lantaran mengangkat norma yang kurang baik di Jomblo 2006.

Yang dimaksud tak lain adalah akhir bahagia bagi karakter Agus dan Doni. Agus diceritakan sempat selingkuh, sedangkan Doni adalah playboy yang suka mempermainkan perempuan. Hanung merasa tak enak hati karena seolah mengamini orang yang selingkuh dan playboy.(25)