image
08 Oktober 2017 | Serat

Cerpen Akhil Bashiroh

Menunggu Kelahiran

Aku tak pernah melihat ibuku. Sampai sekarang aku pun tak ingin melihat dia. Andai kelahiranku bisa dihapus, tentu aku akan memilih tidak dilahirkan atau setidaknya lahir dari rahim ibu lain. Aku tak ingin terlahir. Itu saja.

***

Aku melihat ibuku begitu bahagia. Ia sering sekali mengelus-elus kepalaku dan terus bercerita tentang kehidupan yang indah-indah. Padahal, aku tahu yang sebenarnya ibuku tak pernah bahagia. Ibuku kesepian. Kata orang, akulah satu-satunya kebahagiaannya.

Saat besar aku akan menjadi kebanggaannya. Namun harapanku berbeda. Aku ingin lahir dari rahim ibu lain. Bapakku pelaut. Hanya pulang tiga bulan sekali. Setelah dua hari pernikahan bapak dan ibuku, Bapak sudah pergi untuk bekerja.

Baru tiga bulan kemudian pulang ke rumah dan menghamili ibuku. Setelah dua minggu kehamilan ibuku, Bapak sudah berangkat melaut lagi. Aku hanya mampu mendengar suara bapakku tiga bulan sekali. Aku tahu itu suara bapakku. Beberapa kali aku mendengar suara orang lain yang bersikap seperti bapakku. Ia mengelus-elus aku, menciumi ibuku.

Namun aku tahu itu bukan suara bapakku. Suara itu terus datang saat Bapak pergi melaut berbulan-bulan. Ibuku beberapa kali juga bercanda dan cekikikan bersama laki-laki yang kutahu bukan bapakku. “Suamiku sudah berangkat. Pulang dua-tiga bulan lagi.”

“Tentu, aku sudah tahu. Kalau suamimu belum berangkat, mana aku berani datang ke kamarmu ini?” “Bisa saja kamu, Sayang.” Aku merasakan tangan ibuku bergerak mencubit pipi laki-laki itu.

Semalaman kami tidur bertiga di satu ranjang. Pagi laki-laki itu pulang dan seterusnya seperti itu. Saat bapakku ada di rumah, suara laki-laki itu tak lagi kudengar. Sekarang berganti suara baapakku. Ya, aku paham betul suara bapakku dan suara laki-laki itu.

***

Laki-laki itu sama baik dengan bapakku. Setiap pagi dia memberikan susu hangat pada ibuku dan aku. Juga buah-buahan segar dan beberapa makanan yang diinginkan ibuku. Semua Ibu lahap. Namun aku tak menginginkan semua makanan yang masuk ke dalam perut ibuku. Aku selalu membuang, lalu ibuku muntah.

Aku tahu setelah ibuku muntah pasti tubuhnya lemas dan tidur seraya dielus-elus laki-laki itu atau ayahku. Aku lebih sering merasakan laki-laki itulah yang mengelus-elus ibuku ketimbang bapakku. “Semoga anak kita nanti lahir selamat dan sehat ya.” Begitulah ucap laki-laki itu dan bapakku pada waktu berbeda.

Dalam perut ibuku, aku bertanya-tanya, “Aku anak siapa?” Aku tak ingin lahir dengan dua bapak. Apa nanti kata temantemanku? Setiap kali ibuku muntah, ingin rasanya aku keluar bersama muntahan itu. Setiap kali ibuku buang air, aku juga ingin luruh bersama.

Aku ingin keluar sekarang juga! Umurku tujuh minggu di rahim ibuku. Aku tak ingin menunggu terlalu lama untuk lahir, kemudian mendapatkan kehidupan. Aku ingin keluar sekarang, Ibu! Setiap kali aku menginginkan sesuatu yang dapat menyebabkan luruh, orang-orang pasti mencegah ibuku agar tidak memakannya. “Jangan makan buah nanas saat hamil muda,” ucap ibu penjual buah di pasar.

“Jangan minum kopi atau yang berkafein saat hamil. Bahaya!” ucap penjual minuman di bar, tempat ibuku biasa menghabiskan malam saat kesepian. “Tentu kuhindari semua yang membahayakan kandunganku,” balas ibuku. Namun aku ingin keluar sekarang, Bu. Aku tak ingin lahir dengan dua ayah.

***

Sudah memasuki bulan kesembilan dan aku masih menempel erat di dinding rahim ibuku. Sia-sia semua usahaku untuk luruh sebelum terlahir. Tuhan sudah memberiku kepala, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh lain. Lengkap.

Semua orang bahagia dan siap menyambut kelahiranku, anak pertama dari pasangan pelaut dan tentara. Aku tinggal menunggu kelahiranku. Semua sudah disiapkan; baju, popok, tempat tidur, ayunan. Semua baru. Namun sekarang aku tak ingin lahir.

Aku ingin terus menempel di dinding rahim ibuku. Aku malu memiliki dua bapak, biarpun kakek dan nenekku dan kebanyakan orang hanya tahu aku hanya punya satu bapak. Aku tahu semua.

Aku menempel pada ibuku selama sembilan bulan. Aku makan semua yang dimakan ibuku. Aku minum semua yang diminum ibuku. Aku tahu semua yang dilakukan ibuku. Aku tahu apa yang orang lain tak tahu. Aku tahu semua. Ibuku selingkuh.(44)

-Akhil Bashiroh,alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, menulis puisi dan cerita.