08 Oktober 2017 | Serat

PAMOMONG

Memeluk Pohon

  • Oleh Setyaningsih

Pohon kalah sering mengawali geliat pembangunan kota. Dalih penataan atau revitalisasi tidak mau berpamrih nuansa ekologis dari keberadaan pohon-pohon. Kabar pohon di kota mutakhir mewartakan Koalisi Pejalan Kaki di Jakarta berkumpul dalam aksi #AyoPelukPohon (Kompas, 23 September 2017). Secara harfiah, mereka benar-benar memeluk pohon sebagai bentuk penolakan atas rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberantas pohon dan mengganti dengan jalan dan trotoar.

Meski pemerintah berniat memindahkan atau menebang sesuai dengan kesehatan, pohon tetaplah terdengar hanya menumpang di kota yang makin padat manusia. Pohon menjadi rumah kultural, spiritual, bahasa, dan sosial dalam kehidupan yang bersahaja. Secara biologis, pohon tidak pernah hanya melakukan siklus alami untuk kepentingan pribadi. Pohon hidup untuk menghidupi makhluk lain dan mencipta perbekalan ingatan.

Mafhum bila orang-orang lawas menitipkan ingatan waktu kelahiran, kematian, membangun rumah, dan pernikahan lewat pohon. Ingatan pada orang terkasih atau terpenting dalam hidup bersemi searah pertumbuhan pohon. Hanna Rambe dalam cerita “Pohon Lengkeng” (Horison, Juli 1992) merekam penitipan peristiwa berkeluarga pada pohon. Ada peziarahan emosi pada rumah dan halaman belakang penuh pohon yang segera tergusur karena pembangunan lapangan terbang.

Ndoro Den Ayu dan anaknya, Toso, berjalan-jalan di halaman belakang sebelum pohon-pohon kelengkeng dihantam buldozer. Detik-detik kehilangan pohon yang sekaligus telah menjadi rumah terasa liris dipesona oleh kenangan. Pohon-pohon kelengkeng itu telah menjadi saksi keluarga memasuki setiap tahap kehidupan.

Toso menunjuk salah satu pohon. “Pohon yang ini dulu ditanam Eyang Kakung, waktu masuk rumah baru, berarti umurnya sudah melebihi seratus tahun, Bu.” Ndoro Den Ayu pun beranjak ke pohon kelengkeng lain dan berujar, “Ya, ini tanamanku sendiri, waktu pengantin baru memasuki rumah ini.

Jadi, umur lengkeng ini sama dengan umur perkawinanku.” Dua orang memeluk pohon sambil bercakap, mengembalikan peristiwa, dan menghimpun ingatan. Selayaknya manusia, raga pohon memiliki cerita yang membuat para pemilik merasa ada untuk terus saling memiliki. Namun penggusuran membuat mereka yang masih hidup justru harus menyaksikan kematian pohon secara paksa.

Bahasa

Jagat kanak pernah dihijaukan oleh penerbitan buku puisi Pohon- Pohon Sahabat Kita garapan LK Ara yang terbit kali pertama 1983 oleh Balai Pustaka. Buku itu cetak ulang kedua dan ketiga pada 1992 dan 1994. Gambar sampul tampil menawan, manusiawi, sekaligus imajinatif. Aneka pohon menyatu dengan keriuhan dedaunan, sementara akar saling jalin dan bersalaman.

Puisi-puisi pohon dalam buku itu menuliskan pohon secara naratif-anatomis sekaligus sebarannya secara geografis di Nusantara. Indonesia adalah negeri bagi pohon-pohon. Lewat puisi “Kedawung”, kita disadarkan ada pohon beralih rupa menjadi sesuatu yang dekat dengan keseharian. Pohon datang dalam bentuk lain, tetapi mencipta kesadaran atas bumi rumah pohon.

Kita cerap: kenalkan/namaku Kedawung/aku punya sahabat dekat/petai namanya/kayuku dibuat orang/untuk batang korek api/atau kayu bakar/untuk pembakaran kapur/di tanah Jawa/bijiku besar gunanya/buat bahan obat/amat bermanfaat/untuk pembuatan jamu/kalian baru tahu? jangan lupa/nama beta/Kedawung/oh, ya, aku lupa/cerita tentang hidupku/aku senang tinggal/di dataran rendah/aku bisa hidup/di tanah liat/dan tanah lempung/sampai di sini/ceritaku rampung.

Yang bermisteri atau beranalogi tersembunyi dalam bahasa berpohon. Karena begitu akrab pohon di Jawa, mereka memasuki tata berbahasa atau cara berungkapan yang menyampaikan petuah sehari-hari.

Kita bisa mengingat semacam teka-teki (Sukatman, 2010) bernuansa ekologis-spiritual: yen kepingin urip mulya, golekana galihe kangkung. Kangkung dimunculkan untuk mengatakan penggalih kang manekung, dekat-lekat kepada Yang Mahakuasa. Ada lagi, roning mlinjo, sampun sayah nyuwun ngaso (berdaun melinjo, sudah lelah meminta istirahat).

Ada tindak bersabar dan beristirahat usai bekerja keras. Pohon melinjo tentu amat akrab di halaman rumah dan kebun orang Jawa. Pohon lebat oleh petuah. Daun melinjo (dhong so) untuk masak sayur lodeh atau asem dan kulit melinjo dibuat oseng-oseng. Bahasa pepohonan menggenapi kebutuhan biologis atas pohon. Tatkala pohon hilang, bukan hanya keteduhan secara harfiah menghilang.

Peristiwa-peristiwa di bawah pohon sebagai pertalian manusia dan manusia serta manusia dan lingkungan pun punah perlahan. Anak-anak bermain, para ibu petan, atau bapak-bapak nglaras terdengar dan terlihat amat langka. Pun teknologi canggih pendingin ruangan atau penghasil angin elektronik telah memberesi kesumukan dunia modern. Untuk sekadar merindu ngisis di bawah pohon, kita bisa lupa caranya.(44)

-Setyaningsih,esais, bergiat di Bilik Literasi Solo, penghayat pustaka anak