08 Oktober 2017 | Serat

PUISI

Lukas Jono

Waktu

 

Adalah

Sebuah bingkisan

Tak terucap

 

Nafas

Menjelma

Peristiwa

Memberontak

Hati kita

 

Ubun-ubun

Berlaksa-laksa

Hati kita

Di paru-paru keimanan

 

Tingkir, 21/2/2016

 

 

 

Sajak Tuhan

 

Tak pernah berhenti, seperti hujan

Mengalir di perbatuan yang padas

Bergulung embun-embun mengikat hatiku

Tak ada koma di atas nalar kepala kita

 

Tingkir, 26/6/2014

 

 

 

Hujan

 

gadis cantik,

Bayang-bayang cantik membunuh jiwaku.

 

Fotomu,

Tak pernah kulihat sebelumnya.

Setelah berhenti,

Rahimmu melahirkan pelangi di balik bukit.

 

pandai,

Bermain-main irama

Tapi, aku tak mengerti

Arti iramamu yang kontemporer

 

Tingkir, 5/2/2016

 

 

 

Penyair

 

Itu dunia sunyi,

Tapi, tak retak dengan realita

Jiwanya bergelayutan imajinasi

 

Ide

Dimasak

Menjadi hidangan puisi

Sumbernya

Adalah

Hati

Berapi-api

Tak ada yang bisa mengubur

Berabad-abad

 

Tingkir, 21/2/2016

 

 

 

Tuhan

 

Bukan mesin fotokopi,

Hanya hati umat manusia

Pandai membuat mesin fotokopi

Ijasah, KTP, uang

Semua itu jiwanya

 

13/8/2017

 

 

 

Buruh

 

Pergi menyubuh

Dalam sekujur tubuh

Tumbuh pikiran tak jemuh untuk perjuangan,

Kilang tenaga pikiran terus dikuras tanpa henti-henti bersimpuh

di depan waktu.

Dari ufuk-senja tak berpeluh diri,

Ranting-ranting iman dikumpulkan dalam hati,

Benih cinta, tumbuh menghijau.

 

30/4/2017

 

 

 

Pasar Kembang

 

Beruntai-untai bunga menemukan dambaan

Seorang gadis manis menjual nyawa dalam lalu-lalang

Harumnya melebih bidadari

 

Tingkir, 27/10/2013