image
08 Oktober 2017 | Sehat

Modern Versus Tradisional

CARAorang memilih jenis makanan untuk disantap berbeda-beda. Ada yang memilih untuk menjadi vegetarian, non-vegetarian, menjalani diet karbo ataupun pola diet lainnya, mengonsumsi makanan apa pun yang disukainya dan juga memilih makanan alami dibandingkan dengan makanan modern.

Makanan alami atau tradisional merujuk pada makanan asli, tidak melalui proses kimia atau pabrik. Seperti sayuran, buah-buahan segar, dan telur ayam kampung yang dibeli di pasar. Sementara makanan modern mengacu pada makanan buatan pabrik atau telah melalui proses, lebih praktis, tahan lama, dan memiliki rasa cenderung enak atau gurih.

Misalnya susu sapi kemasan, sosis, kornet (daging kalengan), dan lainnya. Makanan hasil rekayasa genetik atau Genetically Modified (GMO) juga termasuk jenis makanan modern. Makanan-makanan yang melalui proses tersebut dibuat untuk mengatasi masa pascapanen, di mana bila tidak diolah, akan busuk.

Memang nilai minus dari makanan yang telah melalui proses tersebut, ada beberapa zat baik yang hilang dan dimasukkan zat tertentu, yang mengubah sifat aslinya. ”Semakin banyak manusia, maka semakin banyak produk pangan yang melalui proses (olahan).

Asal mengikuti kode penggunaan ya tidak berbahaya, yang ngawur baru berbahaya,” ujar Prof dr Siti Fatimah Muis MSc SpGK, ahli gizi RSUP dr Kariadi Semarang. Lebih lanjut ia menjelaskan, kode penggunaan (codex) atau kode makanan merupakan standar, termasuk panduan penggunaan yang memastikan makanan bisa dikonsumsi dan dijual.

Termasuk di dalamnya dosis teratas yang boleh kita konsumsi. Beberapa orang yang menganut makanan tradisional, menolak untuk mengonsumsi makanan modern. Ada pula anggapan bahwa makanan modern merupakan biang berbagai penyakit. Sebenarnya tidak berbahaya apabila makanan-makanan modern tersebut mengikuti codex dan kita pun tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Atau, menyeimbangkannya dengan makananmakanan alami. Ketakutan lain dari menolak mengonsumsi makanan modern, karena dianggap beracun. Yang beracun atau berbahaya tentu saja apabila makanan olahan tersebut menggunakan bahan-bahan ngawur atau berbahaya.

Misalnya menggunakan pewarna tekstil, pengawet tekstil atau urea. Sifat makanan yang berubah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan adanya zat-zat baik yang hilang dan penambahan zat-zat kimia tertentu, tidak lantas membuat makanan tersebut beracun. Hanya, kandungan gizinya berkurang. Ibaratnya, yang kita makan itu berupa junk food, hanya membuat kenyang namun kita tidak memperoleh gizi.

Zat Karsinogenik

Sebuah opini mengatakan bahwa susu sapi segar kemasan mengandung fruktosa yang bisa memicu berbagai penyakit, termasuk kanker. Kita tidak bisa mengklaim bahwa makanan atau minuman jenis tertentu pasti memiliki efek yang buruk terhadap kesehatan bila tidak ada bukti valid.

Tidak ada zat dalam susu sapi yang menjadi penyebab kanker. Susu sapi mengandung laktosa, bukan fruktosa karena fruktosa terdapat dalam buah. Jadi, kita harus bijak menanggapi opini yang menuduh jenis makanan tertentu sebagai biang penyakit. Kritis terhadap berbagai opini tentang makanan sebelum ada bukti ilmiahnya. Secara sederhana, makanan yang memiliki risiko terhadap kanker adalah yang mengandung zat karsinogenik.

Zat yang bisa memicu kanker tersebut misalnya terdapat pada rokok dan asbes. Daging merah misalnya, yang memiliki zat nitrosamin yang bersifat karsinogenik. Misalnya dalam kornet dan sosis. Namun tidak lantas tubuh kita pasti terkena kanker apabila telah mengonsumsi makanan tersebut.

Karena tubuh kita memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan dan mencegah zat jahat tersebut berkembang. Hal ini juga tidak bisa disamakan dengan usia tua yang terkena kanker, pasti karena dulu sering mengonsumsi makanan olahan. Secara usia, tubuh kita memang mengalami degradasi, ketahanan tubuh yang sudah mulai berkurang, dan organ-organ yang mulai berkurang kemampuannya.

Karena itu, kalau ada orang yang sudah berusia 90 tahun terkena kanker, itu karena tubuhnya sudah tidak bisa melawan zatzat kanker. ”Menjalani prinsip hanya mengonsumsi makanan alami, tradisional ataupun menjadi vegetarian, merupakan sebuah pilihan. Tidak bijak kalau kemudian mengklaim bahwa jenis makanan tertentu merupakan penyebab penyakit. Semua harus ada evidence base,” papar Fatimah.

Ia mengungkapkan, makanan-makanan sehat atau alami pun bisa berubah sifat menjadi makanan jahat kalau cara mengolahnya tidak benar. Misalnya cara memasak yang salah, terlalu lama dimasak sehingga menghilangkan zat-zat baiknya. ”Pada prinsipnya, jangan konsumsi segala sesuatu secara berlebihan, jangan pula terlalu fobia dengan jenis makanan tertentu,” tandasnya.(Irma Mutiara Manggia-58)