image

SM/dok

01 Oktober 2017 | Bincang-bincang

Herry Anggoro Djatmiko:

Sejarah sebagai Rekreasi

Bagaimana menghadirkan sejarah di hadapan siswa tak sekadar sebagai rentetan peristiwa dan hafalan angka tahun? Apa makna dan fungsi sejarah sesungguhnya? Berikut perbicangan wartawan Suara Merdeka,Gunawan Budi Susanto, dengan guru sejarah,Herry Anggoro Djatmiko.

Apa pengertian sejarah yang Anda introduksikan kepada para siswa?

Pertama, sejarah adalah peristiwa masa lalu yang terjadi sekali saja dan tidak akan terulang lagi pada masa depan dalam bentuk persis. Itulah pengertian sejarah secara objektif. Kedua, sejarah adalah pengisahan peristiwa masa lalu itu berdasar sumbersumber sejarah yang telah diseleksi melalui kritik ekstern dan kritik intern disertai interpretasi (penafsiran) subjektif dari sang penulis sejarah. Namun pasti siswa akan pusing memahami pengertian itu karena agak rumit. Jika disederhanakan, sejarah adalah kejadian yang sudah lewat dan tidak akan terulang lagi, tetapi bisa diceritakan lagi pada masa sekarang.

Apa tujuan pembelajaran yang hendak dicapai melalui pelajaran sejarah bagi siswa?

Pertama, agar siswa mengetahui, syukur-syukur memahami, ada dimensi waktu dalam kehidupan manusia. Artinya ada masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kedua, masa lalu sebagai kajian sejarah penting dipelajari karena setiap orang yang tidak tahu tentang masa lalu juga tidak akan tahu identitasnya. Siapa dia, siapa orang tuanya, kapan dia lahir atau bersekolah, di mana dia bertempat tinggal. Hal-hal semacam itu bisa diketahui jika seseorang mengetahui pula sejarahnya. Begitu juga siswa sebagai warga suatu bangsa harus tahu dan belajar sejarah bangsanya. Tentu sejarah yang benar, bukan semacam propaganda kejayaan atau sebaliknya alat memupuk dendam dan kebencian. Pemujaan dan penistaan terhadap masa lalu tidak akan menjadi sarana pembelajaran yang bagus bagi siswa.

Karena itu, yang ketiga, belajar sejarah agar tetap kritis, kreatif, dan arif. Kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Kreatif untuk tidak mengulangi hal-hal negatif masa lalu dengan terus mencari jawaban atas persoalan pada masa sekarang. Arif dalam arti menerima kegagalan dan kesuksesan adalah hal biasa dalam sejarah.

Terakhir, sejarah bisa jadi rekreasi menyenangkan bagi siswa. Biasanya kisah sejarah nonpolitik, seperti sejarah sosial, seni, budaya, kuliner, pakaian akan lebih menggembirakan bagi generasi muda. Untuk sejarah kontroversial, tentu saja yang paling utama adalah agar siswa bisa kritis, sehingga tidak gampang memamah semua pengisahan sejarah dan tidak mudah terjebak mengambil posisi pro atau kontra dalam setiap diskusi/perdebatan sejarah. Jika pun ingin masuk dalam diskusi, wajib membekali dengan pengetahuan yang cukup sesuai dengan kaidah sejarah yang kritis.

Bagaimana Anda menghadirkan sejarah melalui proses belajar-mengajar kepada para siswa?

Kebiasaan guru di kelas, bukan cuma dalam pelajaran sejarah, adalah memakai metode ceramah. Saya suka menyebutnya seperti radio bodhol. Ceramah bisa efektif jika guru memiliki keterampilan orasi memikat, pengetahuan luas dari literatur dan bacaan lain, serta punya banyak stok humor. Saya juga menggunakan, meski konsekuensinya banyak yang tidak tertarik sehingga lebih suka tidur. Artinya siswa jadi pasif.

Untuk membuat siswa betah, alternatifnya memutar film atau video pendek. Pada saat tertentu siswa dibebaskan berdiskusi dalam kelompok saat membahas kliping koran atau majalah yang diberikan guru. Saya juga pernah menugasi siswa mencari keterangan dan kisah sejarah di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing. Pada kasus materi sejarah kontroversial, seperti perdebatan menjelang proklamasi, saya akan berikan artikel kisah adu argumentasi pemuda dan Bung Karno supaya mereka bisa lebih paham latar belakang peristiwa. Kisah-kisah revolusi dari kalangan rakyat biasa atau dari perempuan juga saya hadirkan melalui beberapa artikel dari Majalah Historia atau tulisan Romo Mangunwijaya dan foto-foto suasana revolusi. Pada tema pemberontakan, saya hadirkan sisi-sisi kehidupan dari tokoh, misalnya Kartosuwiryo, Daud Beureuh, Semaun, agar siswa mengetahui sosok mereka yang lebih manusiawi dan alasan memberontak.

Itulah yang saya maksud siswa bisa arif memahami sejarah. Materi peristiwa 1965 bisa dihadirkan dengan membuka pemahaman siswa bahwa tidak ada teori tunggal yang paling benar, sehingga perlu mengetahui teori lain. Latar belakang konflik yang memunculkan peristiwa itu juga penting. Namun dampak peristiwa itu yang tidak pernah muncul dalam kurikulum sejarah perlu dikemukakan, misalnya terjadi pembunuhan, penangkapan, pemenjaraan, kekerasaan seksual, dan pembuangan ke Pulau Buru dan Nusakambangan. Informasi dampak itu selain dari buku-buku hasil riset, juga bisa dari kesaksian penyintas dan karya sastra yang merekam tragedi 1965.

Bagaimana memantik rasa ingin tahu dan daya kritis siswa terhadap sejarah negeri ini?

Jujur saja memang susah. Pengalaman saya, jika siswa diberi kliping artikel majalah/koran, rasa ingin tahu yang pertama- tama muncul tertuju pada istilah atau kata-kata tertentu. Belum pada isi atau substansi dari artikel itu. Rasa ingin tahu kadang bisa muncul ketika mereka diberi atau mendapat informasi baru yang tidak ada dalam kurikulum atau buku teks resmi. Maka memang harus bersusah payah untuk selalu menampilkan informasi beragam dan terkini dari materi sejarah yang diajarkan.

Sekarang melimpah hasil riset dan studi sejarah yang bisa diakses, baik off line maupun on line. Dan tidak begitu mahal.

Tinggal kita mampu atau yang penting mau membuka diri belajar dan berdiskusi dengan limpahan infomasi itu.

Apa basis dan sumber pembelajaran sejarah yang Anda kemukakan?

Selain dari buku teks yang memuat standar materi yang harus diajarkan, bahan referensi lain bisa kita pakai. Referensi bisa dari buku karya pakar sejarah, jurnal ilmiah, majalah berita, majalah populer, video/film, situs media sosial. Sekarang melalui media sosial bisa kita hadirkan sumber sejarah, misalnya foto koran yang memuat berita proklamasi kemerdekaan, foto dari peristiwa sejarah dan sebagainya. Namun wajib diingat, sifat media sosial yang tanpa kritik, yang berisi hoax dan ngawur harus kita hindari.

Apa metode pembelajaran yang efektif bagi siswa?

Pada zaman sekarang metode paling efektif mungkin membiarkan siswa mencari informasi sendiri materi sejarah. Guru tetap mendampingi, tetapi sekadar membantu agar siswa lebih cepat mencari sumber informasi. Kemudian guru dan siswa mendiskusikan. Namun syarat metode itu cukup berat karena membutuhkan literatur (buku, majalah, kliping) yang lengkap di perpustakaan dan ketersediaan saluran internet. Tentu guru wajib suka membaca, melek teknologi, dan membuka diri dan pikiran untuk berdiskusi. Saya juga mengajak siswa, misalnya, menonton film The Last Samurai agar memiliki gambaran tentang beberapa karakter masyarakat Jepang dan situasi modernisasi negara Jepang.

Bagaimana pula menghadirkan sejarah yang tidak identik dengan perkara politik dan kekuasaan?

Dengan memaparkan kehidupan seharihari yang masih dilakukan orang pada masa kini. Sejarah tentang kuliner, bagaimana rempah-rempah yang sekarang sekadar bumbu ternyata memiliki riwayat panjang dan berpengaruh besar dalam sejarah bangsa Indonesia karena dari situlah kita mengalami kejayaan sekaligus kemunduran akibat kolonialisme. Asal-usul tempe yang merupakan hasil akulturasi dari persilangan kebudayaan etnis. Sejarah wayang, musik keroncong, musik ndangdut adalah bukti local jenius nenek moyang dan pendahulu kita, termasuk arsitektur candi di Indonesia yang berbeda dari candi di negara lain. Juga karya sastra yang hebat dari masa lalu yang jauh (pantun, syair, epos) sampai masa yang agak dekat (prosa dan puisi) bisa diberikan kepada siswa. Sayang, materi sejarah seperti itu, sejarah sosial masyarakat, sangat sedikit dalam kurikulum pendidikan sejarah di sekolah.

Bagaimana dukungan ketersediaan bahan dan referensi?

Kalau di sekolah, dukungan itu minim, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. He-he-he... Harus merogoh kocek sendiri untuk membeli literatur atau berlangganan media. Bahan dan referensi sekarang melimpah, ada di mana-mana, baik gratis maupun berbayar. Satu lagi, harus pandai bergaul dengan kalangan luas yang bisa mendatangkan informasi dan referensi bagi guru. Saya pernah diberi buku eksklusif yang tebal dan tentu mahal oleh seorang sejarawan yang berkawan di Facebook. (44)