01 Oktober 2017 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Bubur Sura

  • Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU'ALAIKUMWarahmatullahi Wabarakatuh.

Ketika panitia khusus angket KPK melaporkan hasil kerja pada sidang pleno DPR, ketua panitia menyampaikan akhirnya telah menemukan kebenaran yang tak bisa ditolak. Dengan fasih ketua panitia menyampaikan ayat Alquran bahwa kebenaran itu datang dari Allah SWT, sehingga tak perlu lagi diragukan.

Tampaknya sang ketua panitia khusus lupa, kebenaran dalam Alquran itu biasa disebut kebenaran kauliyah. Adapun kebenaran yang terpampang di alam raya biasa disebut kebenaran kauniyah. Misalnya, daya tarik atau hukum gravitasi atau peredaran bendabenda langit. Itulah yang disebut kebenaran yang tak bisa diragukan.

Berbeda dari kebenaran yang dimaksud dalam laporan panitia khusus yang tidak lain kebenaran politik yang bersifat tidak pernah mutlak karena diputuskan manusia. Demikian juga kebenaran dalam proses hukum atau proses pengadilan, semua bersifat nisbi.

Berikut saya sampaikan berbagai kebenaran yang dipahami manusia. Misalnya, kebenaran dalam sejarah yang sangat relatif.

Saya agak terkejut membaca sebuah berita mengenai umat Katolik yang beramairamai menerima sajian bubur sura di kompleks Gua Maria Jawa Tengah. Menurut teman saya yang beragama Katolik, mereka memercayai ada bubur sura yang selama ini hanya dikenal masyarakat muslim. Sebab, bulan Muharram atau Sura merupakan penanggalan Hijriah. Masyarakat muslim memang mengenal nama bubur sura, yang terdiri atas berbagai umbi dan sayur.

***

KONON, dulu bubur itu dibuat ketika kapal Nabi Nuh sudah mendarat setelah banjir besar surut. Orang meyakini, perahu Nabi Nuh mendarat pada 10 bulan Muharram. Sepuluh berasal dari kata bahasa Arab ”Asyaaro”. Lidah Jawa menyebutnya Sura. Orang Jawa merayakan kebahagiaan Nabi Nuh itu dengan membuat bubur sura.

Orang Jawa yang lain, meski bukan muslim, merayakan peristiwa itu pula. Orang aliran kebatinan menyambut dengan kungkum atau berendam di air sungai. Orang Katolik yang Jawa juga merayakan dengan membagi bubur sura.

Menurut cerita atau uraian para mubalig, kenapa bulan Sura dianggap hari besar bukan karena awal tahun, melainkan karena banyak peristiwa besar dalam sejarah kemanusiaan. Misalnya, Nabi Musa AS dan kaumnya lolos dari kejaran pasukan Firaun. Nabi Yunus AS selamat dari perut ikan hiu yang telah menelan ketika dia dibuang dari kapal. Nabi Ibrahim AS bebas dari hukuman bakar oleh Raja Namrud. Untuk mengenang keselamatan para nabi itu, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya melakukan ibadah puasa pada 9 dan 10 Muharram.

Sebelum itu, orang Yahudi juga puasa meski hanya pada 10 Muharram. Saya belum bertanya kepada teman-teman Katolik, apakah upacara membagi bubur sura itu berkait dengan peristiwa selamatnya Nabi Nuh AS. Atau, hanya kebetulan mereka orang Jawa?

Di kalangan masyarakat Jawa, orang tak berani menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan atau khitanan selama bulan Sura karena menganggap dapat mendatangkan malapetaka. Konon, masyarakat awam meyakini larangan itu karena bulan Sura yang membahagiakan para nabi itu hanya boleh digunakan bangsawan untuk menyelenggarakan hajatan.

Namun ada penjelasan lain yang menyatakan larangan itu merupakan imbas dari keyakinan orang Syiah yang menganggap Sura bulan malapetaka bagi mereka. Sebab, Kaum Sunni membunuh Hasan dan Husain, putra Ali, dibunuh di Padang Karbela.

Mana yang benar?

Wallahu'alam. Itu semua contoh betapa kebenaran duniawi yang melibatkan politik dan hukum bersifat nisbi. Dendam kesumat dari masyarakat Syiah kepada Sunni tidak akan hilang selagi peristiwa Karbela diperingati setiap tahun.

Sekarang 1 Oktober dikenal sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI disebutkan, militer dan PKI telah membunuh para jenderal dan memasukkan mayat mereka ke dalam sumur tua di Lubang Buaya. Sekarang orang masih memperdebatkan kebenaran peristiwa itu; siapa sebenarnya dalang semua kebiadaban dalam peristiwa G30S/PKI? Wallahu'alam.

Itu contoh pula dari kebenaran relatif dalam menyusun sejarah. Sekarang bangsa Indonesia belum mampu bersikap sing wis ya wis atas peristiwa sejarah dan masih bertengkar mengenai siapa yang memberontak. Selagi Syiah masih mengenang dan memperingati Peristiwa Karbela sebagai bencana, dunia Islam yang terdiri atas golongan Syiah dan Sunni tidak akan pernah bisa berdamai. Begitu juga selagi bangsa Indonesia masih ”mengabadikan” kebencian terhadap G30S/PKI, kapan bisa bersatu?

Sudah ya. Semoga Pancasila tetap jaya dan bisa mempersatukan bangsa Indonesia!Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (44)