image
01 Oktober 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Ajak Anak Muda Peduli Ekonomi Bangsa

  • Oleh Sofie Dwi Rifayani

Millenium Development Goals (MDG’s) telah berakhir pada 2015 lalu. Untuk menggantikannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menginisiasi agenda global yang baru, yaitu Sustainable Development Goals (SDG’s). Sejauh mana persiapan Indonesia mencapai 17 tujuan SDG’s?

Kepedulian atas isu tersebut membuat Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan The Projects of Economics Development atau Provel 2017. Agenda nasional ini telah terselenggara tujuh kali.

Tahun lalu rangkaian acaranya berupa lomba karya tulis ilmiah atau dalam Provel disebut Competition of National Economic Research and Innovation Papers (Concerns), simposium, dan seminar nasional. Agar lebih segar, tahun ini panitia meniadakan simposium dan menggantinya dengan Economic Weeks (Ecoweeks). “Ecoweeks terinspirasi dari kegalauan mahasiswa, terutama jurusan IESP. Banyak dari mereka yang belum paham bagaimana penerapan teori-teori ekonomi yang didapat di kelas dan seperti apa prospek pekerjaan di masa depan.

Karena itu, kami menggandeng tiga instansi untuk memberi pencerahan. Ada Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) pada 6 September, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) pada 12 September, lalu 14 September diisi Bank Indonesia,” jelas Ketua Provel 2017, Muhammad Taufik Radhianshah. Adapun agenda Corcerns dengan tema utama “Strategi dan Inovasi

Pembangunan Inklusif

Berbasis SDG’s Guna Mengurangi Ketimpangan Ekonomi” dibuka dengan pendaftaran dan pengumpulan abstrak mulai 5 Juni hingga 16 Juli 2017. Kompetisi karya tulis ilmiah bagi mahasiswa diploma dan sarjana seluruh fakultas dan universitas di seluruh Indonesia ini diikuti 53 tim. Dengan enam subtema yang ditentukan panitia, hanya 10 karya tulis terbaik yang berhak maju ke babak final.

“Finalis Concerns kemudian melakukan presentasi dan debat, serta field trip di Klenteng Sam Po Kong dan Lawang Sewu pada 22 September lalu,” jelas Taufik. Pembangunan Inklusif Setelah proses seleksi yang panjang, pemenang Concerns diumumkan saat Gala Dinner pada 23 September di Hotel Noormans Semarang. Hasilnya, tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meraih juara I. Disusul juara II ialah Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu tim Universitas Indonesia sebagai juara III.

Seminar nasional dan talkshow “Membangun Ekonomi Indonesia yang Inklusif Guna Mencapai SDG’s 2030” menjadi puncak acara Provel 2017. Lewat acara tersebut peserta diharapkan bisa memperoleh wawasan tentang isu pembangunan inklusif dari berbagai kalangan: praktikan, akademikus, juga pekerja seni. Dari kalangan praktikan, seminar menghadirkan dosen Undip sekaligus Tenaga Ahli SDG’s Sekretariat Jateng, Amirudin.

Setelah sesi pertama, acara yang digelar Sabtu (23/9/2017) di Laboratorium Kewirausahaan lantai 3 FEB Undip itu masuk ke segmen bincang-bincang. Dipandu Hera F Haryn, news anchor CNN Indonesia, sesi talkshow diisi ekonom serta Faisal Basri dan penyanyi Gita Gutawa. Dalam sesinya, Faisal mengajak 270-an peserta yang hadir untuk melihat realitas ketimpangan ekonomi di Indonesia. Awalnya, pembangunan dinilai akan menurunkan persentase ketimpangan.

Tetapi nyatanya, makin maju pembangunan justru jurang ketimpangan makin lebar. “Ketimpangan ekonomi di Indonesia bahkan lebih buruk ketimbang China dan India. Di sini para saudagar mempertahankan kekroniannya dengan menjadi bagian dari penguasa,” ungkap Faisal. Faisal banyak memaparkan data, termasuk persentase kemiskinan di Indonesia.

Menurutnya, solusi terbaik mengentaskan kemiskinan sekaligus mempersempit kesenjangan adalah adanya akses pendidikan. Dia lantas mencontohkan dirinya sendiri. Berasal dari keluarga kurang mampu, berkat pendidikan kini Faisal bisa mendapat kehidupan yang lebih layak. Bergantian dengan Faisal, Gita Gutawa hadir sebagai perwakilan pekerja seni dan anak muda. Gita mengingatkan bahwa sekarang ini warga dunia menghadapi “perang” kreativitas. Berangkat dari situ muncul istilah ekonomi kreatif.

Di satu sisi, ekonomi kreatif dianggap sebagai kapitalisme seni. Di sisi lain, ada nilai sosial yang terkandung di dalamnya. “Korea Selatan misalnya, menjadikan industri kreatif sebagai ikon negara dan strategi mendatangkan turis dunia ke negaranya,” ujar Gita. Bukan tidak mungkin masa depan perekonomian Indonesia bergantung pada ekonomi kreatif. Apalagi angka partisipasi pekerja terus meningkat.(58)