image
01 Oktober 2017 | Rileks

Horor Makin Meneror

  • Oleh Sofie Dwi Rifayani

September hingga akhir tahun ini film horor akan mendominasi bioskop-bioskop Tanah Air.

Yang paling gres, film Pengabdi Setan karya Joko Anwar baru saja tayang pada 28 September ini. Sementara, film Mata Batin, Ruqyah the Exorcism, Mereka yang Tak Terlihat, juga Gasing Tengkorak ada dalam daftar antre film horor yang akan tayang di layar bioskop.

Bulan ini saja, Pengabdi Setan akan bersaing dengan film horor lainnya. Antara lain Petak Umpet Minako, Hantu Jeruk Purut Reborn, dan Gerbang Neraka. Dari sekian banyak judul, film Gerbang Neraka cukup menyita atensi pencinta film. Diceritakan, Tomo Gunadi (Reza Rahadian) merupakan wartawan di sebuah tabloid misteri.

Sejatinya ia tidak percaya klenik, tapi demi menghidupi keluarganya, ia rela menjadi kuli tinta spesialis mistis. Lalu ada Guntur Samudra (Dwi Sasono), paranormal dengan brewok tebal yang mencari ketenaran lewat hal-hal yang berhubungan dengan klenik. Dan, Arni Kumalasari (Julie Estelle), seorang arkeolog yang hanya mengedepankan ilmu pengetahuan dan logika.

Anda masih ingat semboyan imperialisme kuno: gold (kekayaan), glory (kejayaan), dan gospel (penyebaran agama)? Tiga unsur tersebut merupakan benang merah dalam film yang mulai tayang pada 20 September lalu. Di antara tiga unsur itu, Tomo melambangkan gold, sedangkan Guntur adalah representasi glory. Gospel dalam tokoh Arni bukanlah penyebaran agama, melainkan ilmu pengetahuan. Datang dari tiga latar belakang berbeda, jangan bayangkan Tomo, Guntur, dan Arni sebagai trio yang sudah akrab sejak awal film mulai.

Ketiganya baru bertemu di situs Gunung Padang dengan tujuan awal yang berbeda-beda. Tomo datang untuk meliput proses penggalian Gunung Padang, Guntur ingin mengecek misteri yang ada di dalamnya, sedangkan Arni merupakan ketua tim penggalian situs tersebut. Meski saling tak cocok, di Gunung Padang itu mereka harus saling bekerja sama membongkar misteri yang penuh teka-teki.

Gunakan CGI

Film Gerbang Neraka berlatar penemuan situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat pada 2014 silam. Per 2015, syuting Gerbang Neraka dimulai. Untuk menghidupkan bentuk dan latar agar terlihat sungguhan, Rizal menggunakan teknologi Computer Generated Imagery (CGI).

Nahasnya, lantaran penyuntingan teknik CGI yang menghabiskan banyak biaya inilah jadwal tayang Gerbang Neraka molor dua tahun sejak proses pembuatannya. Secara genre, Gerbang Neraka tak dikategorikan sebagai film horor murni. Sebab, film ini juga menyajikan unsur fantasi, petualangan, dan science fiction.

Genre yang gado-gado ini menjadi magnet, kendati tidak jadi yang pertama dan satu-satunya. Penonton film ini mau tak mau akan teringat film Amerika Serikat, The Mummy. Dari segi horor, film yang diproduseri dan ditulis Robert Ronny ini tak lupa menyelipkan penampakanpenampakan seram yang sukses bikin kaget penonton. Lalu, apa unsur fantasinya? Situs Gunung Padang yang jadi lokasi cerita disajikan secara fiktif, meski dibangun sesuai fakta yang ada.

Sang produser hanya berpesan agar para penonton tidak menganggap kisah ini sebagai kisah nyata yang pernah terjadi di sana. ”Saya senang bisa bikin film horor dengan suasana fantasi dan ada conspiracy theory. Dan sebuah tempat yang beneran ada di Jawa Barat,” Rizal menjelaskan saat jumpa pers di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Di luar keinginan Rizal menghadirkan genre baru, ia berharap film ini bisa mengangkat nama Gunung Padang dan mendatangkan turis ke sana. Harapan ini mungkin bisa terwujud mengingat sudah banyak lokasi film yang mendadak tersohor dan akhirnya jadi destinasi wisata. Misalnya Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, yang terkenal berkat film Laskar Pelangi atau Gereja Ayam di Magelang yang jadi lokasi syuting Ada Apa Dengan Cinta 2.(58)