image

SM/Benny Benke - Berlin Cathedral atau Berliner di Museum Island, Mitte borough, Berlin. (58)

01 Oktober 2017 | Jalan-jalan

Berlin, ”Ich bin ein Berliner!”

Dua puluh dua bulan setelah pembangunan Tembok Berlin yang memisahkah Jerman Timur dan Jerman Barat pada 26 Juni 1963, Presiden Amerika Serikat, saat itu, John F Kennedy mengunjungi Jerman Barat atau tepatnya Berlin Barat. Berbicara di atas mimbar yang berada dekat dengan bangunan Rathaus Schoneberg di hadapan 450.000 orang, dengan tenang John F Kennedy berujar, “Ich bin ein Berliner,” yang langsung disambut sorak orang-orang Berlin.

Ungkapan Kennedy yang berarti “saya orang Berlin” adalah sebentuk dukungan pemerintah AS kepada Jerman Barat dan terutama penduduk Berlin Barat yang saat itu terisolasi karena pembangunan secara sepihak Tembok Berlin. Kala itu, penduduk Berlin Barat yang berada di wilayah Jerman Barat terisolasi dari dunia luar.

Dalam pidatonya saat itu, Kennedy mengatakan bahwa 2.000 tahun lalu publik dengan bangga mengatakan “civis romanus sum” atau saya bangga sebagai warga Romawi. “Hari ini pada era yang penuh kebebasan, kita dengan bangga boleh berpekik, ‘Ich bin ein Berliner!’ Semua manusia merdeka, di mana pun mereka tinggal, demikian juga dengan warga Berlin. Karena itu sebagai manusia yang bebas, dengan bangga saya mengatakan Ich bin ein Berliner!”

Apa yang disampaikan Kennedy mengenai kebanggaannya sebagai warga Berlin itulah, yang hingga kini membuat masyarakat Berlin sangat berterima kasih kepadanya. Bahkan ketika Kennedy meninggal pada 22 November 1963, masyarakat Berlin tak kalah berduka dengan publik AS yang juga sangat mencintainya.

Tak berlebihan, jika kita berkesempatan mampir di Berlin dan mengunjungi banyak tempat bersejarah di sana, beberapa pemandu wisata yang notabene warga Jerman berdandan layaknya tentara AS lengkap dengan bendera AS “The Star- Spangled Banner”. Lucunya, serdadu gadungan itu akan berdiri tegap berdampingan dengan serdadu gadungan dari tentara era Uni Soviet.

Dan jika Anda berkeinginan berfoto dengan dua tentara itu, siapkan tiga Euro di saku. Serdadu-serdaduan itu sepertinya berniat membawa memori turis saat era Perang Dingin masih terjadi, terutama saat mengunjungi Brandenburg Gate atau oleh orang Jerman disebut Brandenburger Tor. Sebuah bangunan pintu gerbang raksasa untuk memasuki Kota Berlin kuno pada masa Prusia, yang terletak di Pariser Platz, 10.117 Berlin.

Krisis Berlin

Seperti tak mau kalah dengan pendahulunya, di Brandenburg Gate ini pula demi merayakan hari jadi Kota Berlin ke-750 pada 12 Juni 1987, Presiden AS saat itu, Ronald Reagan juga sempat menantang Mikhail Gorbachev, yang kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis dari Uni Soviet, untuk merobohkan tembok Berlin sebagai simbol perdamaian.

Sebelum akhirnya benar-benar runtuh pada November 1989. Hal serupa terjadi jika kita bergeser tidak terlalu jauh ke Checkpoint Charlie atau “Checkpoint C”. Sebuah titik yang sangat terkenal sebagai tempat perpisahan utama antara Jerman Barat dan Jerman Timur, serta hanya beberapa langkah dari keberadaan Tembok Berlin semasa Perang Dingin.

Pada masa Perang Dingin, di Checkpoint Charlie inilah pemisahan antara Timur dan Barat tampak nyata sekali. Bahkan pada saat krisis, tank milik Soviet dan tank milik AS saling beradu. Paling istimewa pada saat Krisis Berlin sedang berada di puncaknya pada 1961. Menjadi semacam lelucon umum bagi warga Berlin hingga sekarang, jika saat itu seekor nyamuk lewat di ruang kemudi salah satu tank milik Soviet atau AS, dan membuat salah satu serdadu di antara mereka salah menepuk nyamuk, maka Perang Dunia III bakal terjadi.

Untung saja hal itu tidak terjadi, sehingga sampai kini Checkpoint C yang terletak di sebuah persimpangan jalan bernama Friedrichstrabe dengan Zimmerstrabe dan Mauerstrabe, masih dilestarikan dengan apik. Di tempat ini paling banyak dikunjungi wisatan dari AS, selain beberapa wisatawan dari Eropa tentunya. Untuk apa? Apalagi kalau tidak sekadar berfoto dengan dua serdadu gadungan yang berpakaian rapi layaknya tentara AS.

Atraksi Turistik

Kini, setelah reunifikasi atau penyatuan Jerman Timur dan Jerman Barat menjadi Jerman, bangunan Checkpoint Charlie menjadi atraksi turistik yang luar biasa ramai. Untuk mendukung situs bersejarah ini, dekat dari situ dibangun Allied Museum yang berada di lingkungan Dahlem, Berlin. Asal mula atau historiografi Tembok Berlin dinarasikan dengan detail di museum itu. Apakah tidak ada lokasi lain yang lebih bersejarah selain Brandenburger Tor dan Checkpoint C? Masih banyak.

Datanglah ke Zoo Palast, salah satu sinema tertua di dunia dan diklaim paling tua se-Jerman. Saat gelaran Berlinale International Film Festival 2014 atau Berlinale, gedung bioskop yang pada mulanya bernama The Ufa-Palast am Zoo on Auguste- Viktoria-Platz atau sekarang berada di Breitscheidplatz, Charlottenburg, itu juga dijadikan salah satu lokasi pemutaran film.

Gedung bioskop yang makin tampak wah di waktu malam karena tata lampu yang merah menyala, kali pertama dibuka pada 1919 sebelum diperluas pada 1925. Gedung bioskop ini adalah yang terluas di Jerman sampai tahun 1929 dan menjadikannya tempat pemutaran perdana sejumlah film penting. Sebelum akhirnya dihancurkan pada 1943 karena Perang Dunia II, lalu dibangun kembali pada 1957 dan berganti nama menjadi Zoo Palast.

Zoo Palast yang menjadi tempat pemutaran film sesi Berlinale Special Gala pada gelaran Berlinale baru-baru ini, memutar film Das Finstere Tal, The Two Faces of Januari, Diplomatie, ‘71, The Monument Men, Historia Del Meido, dan beberapa judul film features lainnya. Bersama Berlinale Palast, Zoo Palast menjadi magnet tersendiri bagi pencinta film di dunia.

Karena di tempat inilah, pada masa rezim Nazi berkuasa, sejumlah perhelatan penting dilakukan. Seperti pada 1935 ketika premiere film karya Leni Riefenstahl berjudul Triumph des Willens diputar di tempat ini. Pada Maret 1943, saat perayaan hari jadi Ufa selaku pemilik Zoo Palast, ratusan spanduk Swastika berukuran raksasa dan gambar Elang raksasa menempel hampir di semua sudut gedung bioskop.

Bahkan puluhan premiere atau pemutaran film milik Third Reich di masa Perang Dunia II, seperti Morgenrot, Ein Lied geht um die Welt, Ein gewisser Herr Gran, Eisberg, Sieg des Glaubens hingga Fluchtlinge pada 1933 dan masih banyak film lagi diputar di sini. Tapi tentu saja, film-film itu adalah film propaganda Nazi. Tidak jauh dari Zoo Palast, kita juga bisa menjumpai bangunan bersejarah lain bernama Kaiser-Wilhelm-Gedachtniskirche atau Gedachtniskirche.

Orang Berlin saat ini menyebutnya sebagai gereja buntung. Menimbang gereja Protestant Kaiser Wilhelm Memorial Church itu seperti orang buntung. Karena gereja yang dibangun pada 1890, itu rusak parah akibat peristiwa pengeboman Kota Berlin pada Perang Dunia II pada 1943. Lalu, untuk tetap mengenangnya saat ini, bangunan gereja tua buntung tersebut disesuaikan dengan bangunan kapel modern. (Benny Benke-58)