01 Oktober 2017 | Serat

ESAI

Analogi 69 dan Pergerakan sang Paus

  • Oleh Muhammad Rahman Athian

Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang kini mulai menunjukkan taring.Banyak perubahan terjadi di jurusan itu, antara lain pemfungsian secara cermat Galeri B9 Jurusan Seni Rupa.

Pameran lukisan dan instalasi Profesor Dr Tjetjep Rohendi Rohidi MA bertajuk “69: Meniti Tangga, Menata Rasa, Menera Tanda”, misalnya, menjadi salah satu kegiatan di galeri itu yang berdampak luas terhadap banyak kalangan. Saya telah mengenal Prof Tjetjep cukup lama, sejak 2011 hingga sekarang. Beberapa kali pula saya punya pengalaman menjadi kurator pamerannya.

Kini, saya mengamati pameran “69...” merupakan momen yang tepat untuk mengutarakan bagaimana karyanya selama ini; karya yang mencerminkan pemikiran tentang seorang manusia, Prof Tjetjep. Manusia itu bergelut dengan bidang kosong, kemudian mengisinya dengan ideologi yang tak pernah luntur dengan bumbu konstruksi pribadi dan pengaruh sosial yang dibangun. Dia konsisten berkarya dengan gaya abstrak yang belakangan sudah lama ditinggalkan banyak perupa pada era kontemporer ini.

Pameran pada 18-27 September 2017 itu saya lihat dari dua angka, yaitu 6 dan 9. Angka 6 dan 9 mengandung makna “seimbang” yang utuh. Utuh merupakan ikhwal penggambaran roda yang selalu berputar, saling mengisi, dan padu. Jadi meski berputar, keduanya tetap utuh berdiri sebagai angka 69. Dari kacamata lain, angka itu adalah angka paradoks.

Bagaimana tidak? Perputaran 6 dan 9 menghasilkan angka 6 dan 9 lagi; kombinasi angka unik yang saling bersitegang. Ketegangan itulah yang ingin dia tampilkan pada pameran kali ini. Ketegangan yang dia peroleh dari mengadu ketertiban dan kebebasan, misalnya. Di satu sisi, dia harus mengedepankan teoriteori estetika sebagai guru besar seni.

Di sisi lain, justru dia harus membebaskan diri dan menjauh dari teori-teori yang dia ajarkan saat berkarya. Dua ketegangan itu menjadikan karyanya terlihat tarik-menarik antara rasionalitas sebagai pengajar dan teoritikus yang sering diacu sekaligus mengekspresikan sisi emosional saat menjadi seniman yang bebas berkarya.

Paus dan Profesor

Dia, yang dulu mengajar di Malaysia, saya analogikan sebagai seekor paus (whale) besar yang tenang mengarungi lautan dalam. Ketenangannya bahkan tidak terusik oleh arus deras sekalipun.

Paus merupakan satu dari sedikit spesies hewan yang mengalami masa prasejarah di dunia, hingga terindeks pada tubuhnya. Paus gambaran sempurna bagi seseorang yang mengalami perjalanan panjang dari masa ke masa dengan pengalaman luar biasa banyak. Tak mengherankan, selain kura-kura, seekor paus adalah binatang yang menjadi ikon kebijaksanaan di dalam lautan.

Dia adalah salah seorang yang “bersentuhan langsung” dengan legenda seni rupa Indonesia dari Bandung, yaitu Popo Iskandar, Sunaryo, Amri Yahya, Setiawan Sabana, dan sebagainya. Ikon paus itulah yang, menurut pendapat saya, tepat untuk menggambarkan gerakan kesenian Prof Tjetjep. Dengan tenang dia melewati tiga kali bom seni rupa dengan corak karya yang tidak banyak berubah. Padahal, kita tahu bom seni rupa sangat memengaruhi gaya berkesenian seseorang, terutama yang tidak ingin dikatakan tertinggal.

Atau mungkin juga alasan ekonomi dari karier seni rupa yang tidak menentu ini. Tidak salah memang jika di satu sisi kita melihat “kekolotan” dia dalam berkarya. Namun, bagi saya, itu bukanlah kekolotan. Itu konsistensi sangat tinggi, ketekunan luar biasa, dan pendalaman karakter yang kuat sehingga dia menghasilkan karya dari manifestasi ketekunan yang maha. (44)

-Muhammad Rahman Athian, pengamat seni di Jawa Tengah