01 Oktober 2017 | Sehat

Penyakit Jantung Kerap Disebut Angin Duduk

”Hati-hati kalau masuk angin terasa berat, bisa jadi itu tanda angin duduk.” Kita kerap mendengar istilah “angin duduk”, yang diasosiasikan dengan kematian mendadak. Istilah yang hanya ada di Indonesia ini memiliki reputasi sangat buruk. Sebenarnya, apa itu angin duduk?

Istilah angin duduk sendiri masih rancu atau ambigu. Di mana istilah masuk angin sendiri tidak ada dalam istilah medis. Namun, bila angin duduk merujuk pada gejala penyakit jantung, yang dimaksud adalah angina pectoris.

Yakni nyeri dada atau sensasi tidak nyaman pada dada karena gangguan jantung koroner (coronary heart disease). Disebut jantung koroner karena terjadi penyempitan pada pembuluh darah koroner. Agar kita lebih waspada terhadap penyakit jantung, gejala tipikal yang harus diwaspadai adalah nyeri dada. Nyeri dada itu sendiri memiliki sensasi berbeda, yang pada intinya rasa tidak nyaman.

Bisa terasa seperti sesak nafas, ditekan, dicengkeram atau diremas, ditusuk, dan terbakar. ”Keluhan-keluhan tersebut tidak bisa hanya ditunjuk dengan satu jari, tapi terasa luas atau melebar. Biasanya terasa pada bagian tengah (dada) atau sedikit ke kiri meski ada juga yang terasa pada bagian kanan. Ada juga yang merembet atau menjalar ke punggung dan lengan (terasa nyeri), leher, rahang serta ulu hati,” jelas dr Sodiqur Rifqi, ketua SMF jantung RSUPdr Kariadi Semarang.

Nyeri dada yang menjalar hingga ke leher akan terasa seperti tercekik, sedangkan yang ke rahang akan terasa seperti sakit gigi. Bedanya, bila nyeri terasa setelah mengunyah makanan manis maka yang dialami merupakan sakit gigi biasa. Namun bila nyeri gigi terasa setelah melakukan aktivitas berat, ringan ataupun psikis (stres), maka yang dialami adalah gejala penyakit jantung koroner. Nyeri dada yang menjalar hingga ke ulu hati akan terasa kembung dan terkadang diikuti sendawa, mirip dengan gejala maag.

Bedanya dengan sakit maag, tentu saja ada pada pencetusnya. Kembung yang berasal dari jantung akan muncul setelah penderita melakukan aktivitas fisik. Misalnya ketika ia berjalan cepat, lambungnya langsung terasa tidak nyaman. Namun gejala yang sama antara penyakit jantung dan maag, adalah kemunculan kembung akibat stres atau cemas. Untuk mengetahuinya, diperlukan pemeriksaan EKG (Electrocardiography). Bila melalui pemeriksaan EKG belum jelas, dilakukan treadmill atau sepeda statis (ergocycle).

Stabil dan Tidak Stabil

Anda perlu mengetahui bahwa semua gejala nyeri tersebut, baik yang hanya terasa pada bagian dada maupun yang menjalar, muncul setelah melakukan aktivitas fisik, ringan ataupun berat. Dan juga psikis, seperti stres atau cemas. ”Semakin ringan pencetusnya, maka semakin berat penyakitnya,” tutur ahli jantung intervensi itu. Misalnya berjalan kaki saja sudah terasa sesak napas, padahal orang lain baru merasa sesak kalau berlari.

Angina pectoris bisa bersifat stabil ataupun tidak stabil. Angina stabil yaitu bila dalam melakukan aktivitas sedang keluhan muncul stabil (tidak semakin berat). Sementara angina tidak stabil, dalam beberapa hari atau minggu keluhan yang terjadi semakin berat. Durasinya muncul lebih lama, lebih sering atau pencetusnya lebih ringan.

Misalnya, yang sebelumnya naik tangga tidak terasa nyeri sekarang menjadi nyeri, beban kerja semakin ringan tapi keluhan semakin terasa. Atau bila sebelumnya terasa nyeri dada dipakai istirahat sudah cukup, sekarang harus mengonsumsi obat. Bisa juga dosis obat yang meningkat. Kalau sudah seperti ini, pasien harus waspada karena mendekati gejala serangan jantung.

Penanganan

Apabila Anda mengetahui seseorang yang mengalami masuk angin disertai gejala tidak biasa, misalnya disertai keringat dingin maka harus segera dibawa ke UGD rumah sakit terdekat. Bila telah melalui beberapa pemeriksaan terbukti serangan jantung, dilakukan kateterisasi jantung atau pemasangan ring. Pemasangan ring dilakukan bila terjadi sumbatan total atau berat.

Sumbatan yang terjadi harus segera dibuka. Di mana bisa dilakukan melalui obat-obatan pengencer darah atau pemasangan ring yang jauh lebih efektif. ”Bila terjadi sumbatan berat atau total, dalam waktu kurang dari 20 menit harus segera dibuka. Bila lebih dari 20 menit akan merusak otot-otot jantung,” ungkap Rifqi. Karena itu, semakin cepat penanganan semakin baik.

Apabila ditangani lebih dini, misalnya dengan pemasangan ring, pasien bisa kembali beraktivitas secara normal. Karean belum banyak otot jantung yang rusak. Jika otot jantung yang sudah rusak, tidak bisa diperbaiki. Pasien penyakit jantung juga bisa kembali berolahraga, termasuk yang bersifat kardio. Namun pasien harus berkonsultasi dengan dokter jantung untuk mengetahui seberapa berat jenis olahraga yang boleh dilakukan. (Irma Mutiara Manggia-58)