27 September 2017 | Hello Kampus

Buah Manis Belajar Sinden

BAGIgenerasi milenial, mempelajari dunia sinden menjadi hal asing dan jauh dari aktivitas keseharian mereka yang tak bisa lepas dari teknologi informasi. Sinden acap dianggap kuno, usang, dan tak sejalan dengan semangat generasi muda saat ini.

Namun, semua klaim itu tak berlaku bagi Nanik (23), mahasiswa Program Studi Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Gadis kelahiran Wonosobo, 17 November 1995 ini belajar sinden sejak 2013, ketika baru masuk ke bangku perguruan tinggi. Sejak saat itu dia intensif belajar sinden melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Panembrama dan Karawitan.

Di UKM tersebut, dia berlatih dengan puluhan mahasiswa lain dari berbagai program studi terkait tembang dan karawitan Jawa. Hasilnya, Nanik dua tahun berturut-turut meraih juara I Lomba Nembang Macapat Tingkat Nasional yang diselenggarakan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yaitu pada 2016 dan 2017.

Dalam lomba itu, dia bersaing dengan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk tampil menjadi yang terbaik. Aspek penilaian yang digunakan juri meliputi dasar suara, teknik, penghayatan, dan penampilan. Bahkan, dalam lomba yang sama yang digelar tahun ini, tim Unnes memborong enam dari 12 piala yang disediakan panitia untuk kategori putra dan putri.

Nanik juga menjadi pendukung kelompok karawitan mahasiswa Unnes ketika maju dalam lomba karawitan yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI) di Boyolali, Agustus lalu. Dalam ajang itu, dia didapuk menjadi sinden bersama mahasiswa Prodi Seni Tari Unnes, Surati. Hasil dari proses yang mereka jalani selama tiga bulan berlatih untuk menyiapkan diri pun tak sia-sia.

Tim ini meraih juara I dalam ajang bergengsi yang diikuti oleh belasan perguruan tinggi nonseni se-Indonesia itu. Ya, Nanik menikmati buah manis belajar sinden di tengah generasinya yang tak melirik profesi ini. Nanik juga sering terlibat pentas bersama kelompok karawitan, baik di dalam maupun luar kota. ‘’Justru kita memiliki kesempatan lebih saat banyak orang tidak mempelajari suatu bidang,’’ katanya. (55)