25 September 2017 | Liputan Khusus

Daya Beli Rakyat Rendah

DOSENIlmu Politik Undip Dr Teguh Yuwono menilai era Pemerintahan Gubernur Ganjar Pranowo memiliki plus minus. Kondisi serupa juga dirasakan dalam pemerintahan siapa pun pemimpinnya. Kendati demikian terdapat catatan pada era Ganjar memimpin Jateng selama beberapa tahun terakhir ini. ”Catatan saya adalah menyangkut daya beli masyarakat. Secara umum daya beli rakyat masih rendah.

Selain itu juga tingkat kemiskinan belum dapat ditekan,” tutur pria yang pernah menempuh studi di Australia ini, kemarin. Disebutkan, permasalahan ini butuh diprioritaskan. Sisa waktu kepemimpinan Ganjar yang tinggal belasan bulan diharapkan mampu mendorong naiknya daya beli.

”Kalau persoalan kemiskinan sepertinya di wilayah lain juga sama dan butuh waktu menyelesaikannya. Kini yang masih bisa dilakukan di periode yang tinggal beberapa saat ini adalah memberikan stimulan dan mendorong penguatan daya beli,” urai alumnus doktor Unpad itu. Disebutkan, meski terdapat pekerjaan rumah di era terakhir kepemimpinan Ganjar, juga terdapat kebijakan yang butuh diapresiasi.

Hal tersebut sehubungan munculnya reformasi birokrasi dan komunikasi politik yang dapat dijalankan dengan baik. Era pemerintahan ini pula, eskalasi pelayanan publik di Jateng mengalami kemajuan pesat dalam arti sangat positif. Rakyat dengan mudah menyampaikan keluhan dan persolan dengan dibukanya banyak kanal penyalur aspirasi.

Tak cukup melalui media konvensional misalnya laporan resmi melalui surat atau telepon, Ganjar sekaligus menyediakan ruang rakyat di media sosial. ”Gemanya bahkan tak kalah kuat ketika laporan disampaikan lewat medsos. Gubernur tanpa ketinggalan bahkan bisa langsung merespons termasuk melimpahkannya ke banyak instansi terkait,” imbuh dia.

Reformasi Birokrasi

Berkait persoalan ini, di era kepemimpinan Ganjar dan Wagub Heru Sudjatmoko muncul reformasi birokrasi yang dampaknya dirasakan sangat membantu publik. Teguh sekaligus menyampaikan catatan tambahan tentang keberhasilan pria yang diusung oleh PDIP dalam Pilkada Jateng beberapa tahun lalu tersebut.

Catatan tambahan ini berupa keberhasilan membangun komunikasi yang baik. Tak hanya dilingkungan internal, tetapi hingga eksternal pemerintahan. Banyak persoalan yang muncul akibat sumbatan- sumbatan akhirnya dapat diselesaikan dengan gaya komunikasi yang bersahabat.

Ini juga diperlihatkan ketika Gubernur membangun koordinasi lintas sektoral dalam kepemimpinannya. Hasilnya juga cukup bagus dengan semakin minimnya ego sektoral yang muncul. Tanpa ketinggalan kepiawaian itu diterapkan saat menjalankan aktivitas politik untuk mendapatkan dukungan pemerintahannya.(42)

TIM PELIPUT:
Modesta Fiska
Hanung Soekendro
Hari Santoso

PENYUNTING:
Mohammad Saronji