image
24 September 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Berbagi Jurus Jitu Berbisnis

  • Sofie Dwi Rifayani

“Dan, sambutlah pembicara yang telah ditunggu-tunggu : Kaesang....,” pekik moderator Tatas Transinata di atas panggung. Gemuruh tepuk tangan dan sorak para hadirin sontak memenuhi Auditorium Ir Widjatmoko Universitas Semarang (USM).

Hari itu Kaesang Pangarep berpenampilan kasual. Seperti tiga narasumber sebelumnya, Kaesang enggan memberi materi dari atas panggung. Ia memilih berdiri sejajar dengan kursi para peserta.

Di hadapan 400-an peserta tersebut, Kaesang mengaku grogi. Padahal, ketika mulai berbicara ia tak terlihat canggung sama sekali. Senin (18/9) itu, Kaesang jadi pembicara terakhir dalam sesi kedua Seminar Nasional “Ketika Ekonomi dalam Genggaman Teknologi.” Sebagai pelaku ekonomi yang memanfaatkan teknologi, Kaesang cerita ikhwal bisnis yang pernah, sedang, dan akan ia lakoni. Kendati tak berusaha membanyol, hampir tiap kalimat yang diucapkan Kaesang membuat peserta seminar terkekeh.

Barangkali, justru karena intonasi bicaranya yang datar ia sukses memantik tawa. “Dulu saya pernah bisnis bermodal Rp 20 juta, tapi gagal. Satu ketika saya nonton video milik Bayu Skak (salah seorang Youtuber Indonesia) di Youtube. Katanya, dari video Youtube bisa menghasilkan uang,” tutur Kaesang. Dari situ Kaesang tertarik membuat video-blog (vlog) di Youtube. Vlog Kaesang laris ditonton, namun ada juga yang menuai kontroversi. Vlog berjudul “#BapakMintaProyek”, misalnya, membuat anak ketiga Presiden Joko Widodo ini sempat dilaporkan ke kepolisian. Beruntung, gara-gara masalah itu Kaesang tak mogok membuat vlog. Pasalnya, bagi Kaesang menciptakan vlog bukan sekadar hobi melainkan profesi.

Berkat vlog, ia diajak bekerja sama dengan beberapa merek dagang terkemuka. Kecuali itu, awal tahun ini ia juga berkolaborasi dengan developer gameAgate Studio dan meluncurkan game Kuis Iseng. Dan, yang terbaru, Kaesang berdagang kaus dengan merek Sang Javas.

Semua bidang yang digeluti Kaesang berhubungan dengan teknologi. Tak perlu mulukmuluk, bahkan hanya dengan memanfaatkan telepon pintar pun seseorang sudah bisa menggenggam teknologi dan menggerakkan perekonomian. Seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi USM itu terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 09.00- 11.00. Kepala Kantor Pusat Informasi Go Public Fanny Rifqi El Fuad membuka sesi pertama dengan bahasan pasar modal.

Penjelasan Fanny membuat topik pasar modal tak terasa menyeramkan. Ia bahkan mengibaratkan pasar modal sebagai mak comblang dan intermediasi keuangan sebagai proses percomblangan. Oleh Fanny, teori-teori pasar modal dikaitkan dengan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. “Nasionalisme dalam bentuk ikut terjun ke pasar modal perlu digalakkan agar tak melulu bangsa asing yang mendominasi pasar modal Indonesia,” pesan Fanny.

Berbagai Terobosan

Setelah Fanny, sesi beralih ke pemilik Indocloth Design, Nugroho Nur Cahyono. Nugroho membagi jurus jitu berbisnis di bidang konfeksi ke para peserta seminar. Ia juga memotivasi peserta untuk tak takut berbisnis. Jika memang niat, sampingkan segala keraguan dan jangan lelah untuk terus memperbaiki. Selepas sesi pertama, pada sesi kedua hadir Erix Soekamti. Di dunia musik, nama Erix mungkin tak asing. Ya, Erix adalah personel band pop punk Endank Soekamti. Selain sebagai musisi, pria berpenampilan nyentrik itu juga dikenal sebagai pencipta film.

Tak hanya itu, Erik merupakan pencetus DOES University, yakni sekolah gratis bagi calon animator. Erik membocorkan, agar bisa bertahan di industri tersebut, dirinya melakukan berbagai terobosan. Salah satunya ialah mengonversi karya ke bentuk digital. Usaha Erik itu membuktikan bahwa lagi-lagi teknologi bisa jadi jalan keluar. Ketua seminar Fachrur Dwi Prasetyo mengungkap, HMJ Manajemen sengaja mengangkat topik seminar yang sedang hangat di kalangan anak muda. Topik itu, lanjutnya, sebenarnya sederhana, namun kerap jadi dilema. “Sebab itu kami menyuguhkan pembicara dari berbagai profesi agar peserta mendapat pandangan berbeda dari setiap narasumber,” tutur Fachrur.

Fachrur berharap acara ini bisa jadi solusi. Juga, menginspirasi para peserta untuk mulai memanfaatkan teknologi agar bisa berkompetisi di zaman yang serba canggih ini.(43)