24 September 2017 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Kembang Lambe

  • Oleh Mudjahirin Thohir

BERSESAPA(aruh-aruh) pada teman yang bertemu di jalan atau di mana saja adalah pertanda saling kenal. Kenal bagi orang Jawa tak harus tahu persis nama. Bahkan menanyakan nama orang yang belum dikenal dianggap kurang sopan. Karena itu, orang Jawa lebih merasa nyaman menyapa dengan sapaan kehormatan, misalnya mas atau pak, tanpa harus diikuti nama jika dia laki-laki dewasa. ”Mangga, Mas, mampir. Mangga, Pak, pinarak.” Itulah ajakan orang Jawa ketika bertemu orang yang pernah dikenal lewat di dekat rumah. Sapaan seperti itu boleh jadi muncul dari seorang pegawai yang bergegas hendak berangkat ke kantor atau seorang pedagang yang bersegera pergi ke pasar. Tak perlu menduga-duga bagaimana akibatnya jika orang Jawa yang disapa benarbenar mampir. Pasti runyam semua rencana yang telah disusun. Atau setidaknya bakal telat atau delay, menurut bahasa di dunia penerbangan. Tidak. Orang Jawa dengan melihat raut muka sambil mencermati intonasi tuturan akan tahu: itu sungguhan atau kembang lambe. Dengan senyum dikulum, orang Jawa tadi cukup menjawab, ”Matur nuwun.” Dia tak menunjukkan gelagat mampir. Mengapa?

Karena ucapan ”matur nuwun” itu bukan karena ”telah diizinkan mampir”, melainkan karena ”berterima kasih karena Anda telah menyapa”. Sapaan bagi orang Jawa bermakna keakraban. Akrab pertanda tidak angkuh. Sikap angkuh adalah kondisi psikologis yang dihindari dalam budaya Jawa. Karena itu, jika ada orang Jawa angkuh, biasanya akan dikatakan wong Jawa wis ilang Jawane. Gaya Jawa itu adalah pasemonan, berkata dan berbuat lewat pertanda.

Adapun tanda hampir selalu banyak makna. Dari sudut inilah, orang sering terkecoh mana yang sungguhan dan mana pula yang pemanis perkataan, lips service alias kembang lambe.

***

SUATUhari, Dul Manan menelepon dan mengundang seorang ”tokoh agama” untuk datang ke acara hajatan keluarga. Dalam pembicaraan lewat telepon, Dul Manan menyampaikan hal-ikhwal waktu, tempat, acara, dan tugas sang tokoh pada hajatan itu. Sepertinya pembicaraan lewat telepon berakhir dalam kepastian. Ada deal, menurut bahasa bisnis, karena sang ”tokoh agama” menjawab, ”Insya Allah.” Benarkah pada hari-H yang sudah dijanjikan orang itu datang memenuhi undangan? Tidak ada jaminan. Mungkin datang, mungkin tidak.

Dan ternyata, pada hari H dia memang tidak datang. ”Lo, bukankah dia sudah menyatakan insya Allah?” sungut Dul Manan. ”Sudah menyebut nama Allah, tetapi tidak datang, di mana moralitasnya?” Dia berucap lagi, menunjukkan kekecewaan. ”Jangan kait-kaitkan dengan moralitas,” kata saya. ”Anda lupa satu hal, yakni tidak mengulang. Tidak datang sendiri. Apalagi tidak menjemputnya.” ”Namun dia tidak meminta dijemput,” balas dia. ”Beliau tidak akan meminta. Namun sampean perlu memahami perasaannya sebagai orang Jawa,” jawab saya. ”Bahwa pertanda kesungguhan mengundang seseorang yang dimuliakan adalah dengan mengulang-ulang. Kalau hanya sekali, apalagi lewat telepon, akan dibaca sebagai basa-basi. Kalau beliau menyatakan insya Allah, sesungguhnya lebih tertuju pada maybe yes, maybe no. Itulah makna sosialnya.”

***

KEMBANGlambe memang tidak selamanya buruk. Tergantung pada suasana yang hendak diwujudkan. Untuk sekadar menjaga keakraban, ia bisa menjadi semacam moto, penyedap rasa masakan. Wujudnya seperti saling memuji dan berakhir dengan penyimpulan diri, ”Ah, bisa aja lu.” Itu terucap sambil tertawa cekikikan bersama. Namun dalam suasana lain, yang butuh keseriusan, apalagi pengharapan, kembang lambe sering berakhir dengan kekecewaan, terutama bagi yang menantikan. Karena ketika disampaikan oleh orang yang punya pamrih, penguasa misalnya, kembang lambe merupakan rangkaian bualan. Jadi, jangan mudah terkena bualan. Kenapa?

Banyak orang yang ingin menjadi penguasa biasanya membayar dua kelompok tukang jasa. Satu kelompok disuruh menjelek-jelekkan lawan. Jika perlu dengan fitnah karena berdampak lebih dahsyat daripada sekadar membunuh satu-dua orang. Kelompok satu lagi bertugas memuji-muji dengan berbagai cara. Jika kurang yakin, tutup dengan uang. Waspadalah!(44)