24 September 2017 | Bincang-bincang

Martin Aleida:

Sastra Kesaksian Berpihak pada Korban

Menulis adalah menjadi saksi kehidupan, baik yang kelabu maupun menggairahkan. Sebagai korban bencana politik 1965, Martin Aleida tak hanya melihat dari dekat tragedi yang dialami orang-orang yang dicap merah alias komunis. Dia juga merasakan betapa perih penderitaan kala itu. Sebagai sastrawan, dia tak henti menulis dan mengintroduksikan istilah sastra kesaksian. Apakah sastra kesaksian itu? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka, Muhammad Syukron, dengan Martin Aleida. Ralat

Apa yang Anda maksud dengan istilah sastra kesaksian itu?

Sastra kesaksian adalah sastra yang lahir dari keberpihakan kepada korban yang dimarjinalkan atas peristiwa. Peristiwa apa pun itu. Sastra itu dimensi tertinggi dari kesaksian tentang hidup-pengalaman fisik atau batin. Bisa terlalu realis, sesak dengan jurnalisme. Saya tidak punya sesuatu yang hanya berupa angan-angan kosong. Melalui karya, saya ingin menjadi saksi bagi orang-orang yang pantas menerima uluran tangan.

Apa basis sastra kesaksian? Semata-mata imajinasi atau berbasis riset faktual?

Boleh dikatakan basis sastra kesaksian itu realisme, kenyataan, kemudian menciptakan lagi bentuk yang baru. Bisa berupa penggugatan terhadap pelanggaran harkat manusia, bentuknya prosa atau puisi. Dan, kisah yang ditulis tidak bisa lepas dari perjalanan atau pengalaman pribadi penyair atau penulis. Tentu basisnya menuliskan kembali realisme berdasarkan yang telah ditempuh.

Apa tendensi di balik karya sastra kesaksian?

Takdir sastra itu berpihak pada korban. Sejarah sastra menunjukkan hal itu; bahwa tidak ada kejahatan yang berada di pihak yang dizalami. Itu berlaku sejak William Shakespeare sampai Ernest Hemingway atau zaman sebelum mereka. Mahabharata juga bersikap seperti itu. Sastra kesaksian bertendensi untuk mengecam atau memandang negatif melalui keberpihakan kepada korban.

Kesaksian mengenai apa sajakah?

Pengembangan dengan kenyataan yang dilihat. Secara spiritual setelah ia membaca dan menonton atau lebih tegas, kesaksian akan kejahatan dan korbannya.

Bagaimana wujud karya sastra kesaksian?

Wujud karya kesaksian dapat mengambil bentuk puisi atau prosa. Karya sastra dari masa sebelum kebangkitan nasional yang antipenjajahan yang dihasilkan sastra yang disebutkan penguasa kolonial sebagai sastra ”pasar” yang berada di luar Balai Pustaka bentukan penguasa kolonial. Rakyat jajahan adalah korban kolonialisme dan itu ditampilkan oleh penulis yang berada di luar sastra di bawah kekuasaan kolonial. Sastra kesaksian menemukan bentuk yang penting ketika memberikan kesaksian atas kekejaman fasistis yang diderita secara masif oleh korban, yang tidak diakui oleh kekuasaan.

Bagaimana respons khalayak (yang diharapkan) terhadap sastra kesaksian?

Harapannya adalah tumbuh kesadaran bahwa kejahatan tak boleh berpesta dengan gratis. Mereka harus membayar dengan pengakuan. Itu sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang peradaban.

Siapa saja penulis masa kini yang bisa Anda sebut sebagai penulis sastra kesaksian?

Banyak sastrawan yang memilih secara tak sadar untuk menjadi saksi zaman, walau yang mereka pilih dengan jelas menunjukkan sikap berpihak pada korban. Misalnya, Subagio Sastrowardoyo, HB Jassin, Eka Kurniawan, atau Triyanto Triwikromo. Kalau ada sastrawan yang memilih menjadi pemuja penjahat akan terkutuk sepanjang zaman.

Bagaimana kecenderungan penulisan sastra kesaksian ke depan?

Sastra tidak bisa tidak akan memilih menjadi saksi dari kezaliman. Sebutkanlah mana karya besar yang memihak kejahatan. Mungkin ada yang tak ingin muncul sebagai hati, tetapi paling tidak mereka sadar di dalam hati: ada yang tak bisa diterima hati nurani mereka. Mencatat kesaksian merupakan upaya memberikan nyawa untuk hidup.(44)