image

KOLEKSI BUKU: Pratono di antara 4.000-an buku koleksinya. (44)

24 September 2017 | Berita Utama

Karena ”Dendam”, Jadi Kolektor Buku

ADAkolektor buku, ada kolekdol buku. Kolektor mengoleksi buku sebagai kegemaran. Kolekdol mengoleksi buku selain sebagai kegemaran juga investasi yang bisa dia jual kapan mau. Kegemaran membaca sejak kecil, tetapi tidak mampu membeli, membuat Pratono, kelahiran Semarang 21 September 1981, ”balas dendam”. Ketika sudah cukup mapan bekerja sebagai redaktur sebuah koran, buku apa pun yang menarik, dia beli dan koleksi.

Warga Jalan Setiabudi Semarang itu ketika kecil membaca di perpustakaan sekolah atau meminjam dari persewaan komik dan buku di kampung. Dia harus mengumpulkan uang saku agar bisa menyewa komik Petruk Gareng, Godham, Gundala, Trio Detektif, Lima Sekawan, atau Lupus, pemuda yang suka mengunyah permen karet. Kini, koleksi buku dia 4.000 judul buku. Koleksi itu meliputi komik, buku tema tertentu, karya penulis favorit, buku kuno, antik, dan langka. Dia mengumpulkan koleksi itu sejak kuliah pada 2000. Koleksi paling banyak buku sejarah, novel, cerpen, dan jurnalistik.

Pratono menyebut diri sebagai ”pembaca omnivora”, pemangsa segala. ”Sekarang saya sering berburu buku tentang Kota Semarang dan buku cerita serial petualangan remaja karya penulis Indonesia era 1980-an seperti Pulung, Noni, Sersan Grung-Grung, Kelompok 2 & 1, Siasat, Imung, Pachar, Sisi. Karya penulis favorit yang biasa saya buru dari Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Ananta Toer, Djokolelono, Bung Smas, dan Dwianto Setyawan,” katanya.

Dia membeli buku dari toko buku, toko buku dalam jaringan (daring), langsung dari penerbit, sampai dari sang penulis. Dia mencari buku-buku edisi lama di lapak buku bekas dan daring. ”Sudah ada beberapa langganan yang paham buku seleraku. Jadi kalau menemukan, langsung mengabarkan. Saya juga bergabung dengan komunitas pembaca buku. Jadi sering dapat kiriman dari teman komunitas,” tutur dia.

Dia menyimpan ribuan buku itu dalam lemari. Namun sebagian besar sementara dia simpan dalam kardus, karena lemari atau rak bukunya terbatas. Kini, Pratono berkonsentrasi mengumpulkan buku mengenai Semarang, baik buku baru maupun lama. Dia juga mengumpulkan koran lama terbitan Semarang. ”Ada keuntungan ketika saya bergabung dengan Komunitas Goodreads. Banyak kenalan dari berbagai kota dengan hobi sama. Ketika tahu saya mencari buku semarangan, mereka langsung menghubungi. Tak jarang memberikan sebagai hadiah,” ujar dia. Pratono memiliki buku tertua berbahasa Inggris yang terbit pada 1904. Ada pula buku Riwajat Semarangkarya Liem Thian Joe cetakan pertama 1931.

Berburu Buku

Ribut Ali Wibowo (25), warga Bandung, memiliki kegemaran yang sama. Dia pun berburu buku dari kota ke kota, mendatangi kolektor dan warga yang diketahui menyimpan banyak buku langka. Sekarang dia mengoleksi lebih dari 400 judul, yang sebagian besar diburu pencinta buku di Indonesia. Bowo, sapaan dia, bersemangat berburu buku tua dan langka setelah mendapat buku Penyambung Lidah Rakyat biografi Soekarno tulisan Cindy Adam pada 2011. Dia memperoleh buku itu secara tak sengaja di Bandung. Sejak saat itu, Bowo selalu mencari informasi tentang buku. Dari mal, dia turun ke pasar, ke kaki lima dan gerobak-gerobak di trotoar Kota Bandung. ”Bandung memang gudang buku,” ujar dia. Di Bandung, Bowo kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPUniversitas Pasundan.

Di selasela kuliah, ia berkelana ke penjuru Parijs van Java untuk mencari buku. Bowo pun bertemu budayawan Bandung, Sudarsono Katam, penulis buku Bandoeng Tempo Doeloe. ”Pak Sudarsono mengarahkan saya ke mana dan bagaimana mencari buku tua dan langka,” tutur dia.

Usia buku bukan indikator utama bagi Bowo menentukan pilihan. Kelangkaanlah yang lebih jadi pilihan karena buku tua tak selalu langka. Di Indonesia, sebagian buku tulisan Soekarno selain tua ya langka. Bowo, misalnya, berhasil memperoleh Di Bawah Bendera Revolusi. Tidak satu, tetapi lebih dari lima. Semua asli dan bertanda tangan Bung Karno. Bowo pun pergi ke kota lain jika ada informasi buku tua dan langka. Dia pernah ke Bogor, Tasikmalaya, dan Jakarta untuk mencari buku. Di daerah yang pernah jadi pusat pemerintahan kolonial, kata dia, cukup banyak buku tua.

Alumnus SMAPGRI Singkawang itu tidak menyebut telah menghabiskan berapa duit untuk membeli buku. Nilai buku, bagi dia, tak dapat dibandingkan dengan uang. Ilmu dan kepuasan lebih menjadi alasan untuk mengoleksi buku tua dan langka. Meski mahasiswa rantau, Bowo tak memberatkan orang tua untuk membeli buku. Dia membeli buku dengan menyisihkan uang saku dan hasil keringat sendiri. Selain kuliah dia juga bekerja, meski tidak tetap. Kalau ada uang, pertama-tama yang dia pikir adalah buku. Buku paling tua dan langka yang dia koleksi adalah Nature karya James Prescott Joule terbitan 1883. James Prescott Joule adalah fisikawan. Namanya diabadikan sebagai satuan Joule. Dia menemukan buku secara tak sengaja saat berjalan di salah satu sudut Kota Bandung. Langkahnya terhenti ketika melintasi pedagang barang tua. Buku Nuture terselip di antara barang dagangan. Bowo mengoleksi buku tua dan langka karena prihatin atas kondisi literasi Indonesia. Anak muda mulai meninggalkan buku dan beralih ke gawai. ”Saya ingin menyelamatkan aset. Soalnya sekarang buku Indonesia diburu kolektor dari Malaysia dan Brunei,” ucap dia.

Ya, mengoleksi buku telah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Ada yang mengoleksi buku karena gemar membaca, ada yang menjadikan buku bagian dari dekorasi rumah, ada pula yang mengoleksi buku untuk menghasilkan uang. Ya, mengoleksi buku bisa menjadi investasi yang menguntungkan jika bersungguh-sungguh. Apalagi jenis buku apa pun bisa jadi barang koleksi bernilai tinggi. Coba kita cek Wikipedia untuk list of most expensive book, daftar buku termahal di dunia. Dalam daftar itu bisa dilihat, buku yang dihargai sampai miliaran berasal dari berbagai jenis dan genre: buku ilmiah, biografi, novel, cerita anak-anak, hingga komik. Dari daftar itu, rata-rata harga buku miliaran rupiah. Kebanyakan orang tentu mengganggap membeli buku seharga miliaran tentu sejenis kegilaan. Namun jika kaya dan suka, mereka berani membayar semahal apa pun. Aturan baku di dunia koleksi, makin langka kian dicari, makin tua kian bernilai tinggi. Namun memang tak semua orang mampu memperoleh buku langka berharga mahal. Bagaimana jika baru memulai jadi kolektor buku dan menghasilkan uang dari koleksi buku tanpa modal besar?

Buku baru dari penulis baru pun bisa menjadi koleksi bernilai tinggi. Buku baru memang tidak semahal buku kuno dan langka, tetapi ada beberapa jenis buku baru yang dicari kolektor dan akan dinilai lebih tinggi dari harga di pasaran. Misalnya, cetakan pertama Harry Potter and the Philosopher Stone yang terbit 1997 dengan karakteristik bertuliskan angka 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1, dan nama pengarang ditulis Joanne Rowling bukan JK Rowling kini diburu kolektor dengan tawaran hampir Rp 1 miliar. Buku cetakan pertama versi sampul tebal Ais for Alibi karya Sue Grafton sekarang dihargai 5.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 700 juta. Kebanyakan penjual buku pun mengawali bisnis lantaran hobi membaca dan mengoleksi buku. Itulah yang dilakukan penyair Jose Rizal Manua dan penulis lepas Iwan Gunadi yang menikmati profesi sampingan sebagai pedagang buku bekas.

Bagi mereka, menjual buku tak hanya demi mengejar keuntungan, tetapi juga kepuasan batin. Iwan Gunadi telah merintis usaha jual buku bekas daring sejak tujuh tahun lalu. Koleksi ribuan buku menjadi modal awal bagi memulai bisnis dengan mengusung label balebukubekas.wordpress. com. Dia menuturkan, membuka toko buku bekas daring tak memerlukan modal besar. Mengandalkan blog, Iwan mengunggah satu per satu buku yang akan di jual berikut keterangannya. Awalnya tak banyak yang melirik lapak daringnya. Sebab, koleksi buku yang dia unggah belum begitu banyak. Seiring waktu, pengunjung yang masih dalam hitungan jari pada tahun pertama pun bertambah. Kini, blognya dikunjungi antara 700 dan 2.000 orang per hari. Merambah bisnis daring tak membuat Iwan ongkang-ongkang kaki menunggu pembeli. Agar lapaknya menggaet pengunjung, Iwan terus menambah koleksi dagangan dengan berburu buku ke berbagai penjuru. Dia juga berburu ke pasar buku bekas dan para kolektor. Dia juga harus cergas mengelola dagangan.

Bahkan siap siaga 24 jam agar dapat menanggapi pembeli yang sulit diperkirakan kapan bermaksud membeli. Jangan bayangkan calon pembeli bisa tawar-menawar harga seperti di toko buku konvensional. Di lapak daring sini, harga sudah ditetapkan berikut keterangan, data teknis, dan kondisi buku. Jadi hanya pembeli serius yang bakal melanjutkan transaksi. Jose Rizal Manua, lewat label Buku Bengkel Deklamasi, membuka lapak buku bekas di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Tokonya pun tetap ramai dikunjungi penggemar buku bekas. Kali pertama membuka usaha, Jose Rizal menjual 500- an buku koleksi. Buku Bengkel Deklamasi layak diperhitungkan karena dikenal sebagai toko buku sastra dan budaya terlengkap. Toko itu juga menjual buku langka. Setiap hari, Buku Bengkel Deklamasi dikunjungi puluhan pembeli dengan omzet rata-rata Rp 5 juta per bulan.

Memang angka itu jauh lebih kecil ketimbang pendapatan toko buku bekas daring. Namun Jose Rizal berprinsip, toko bukunya memang untuk membantu mahasiswa atau siapa saja yang butuh referensi. Tak semata-mata demi meraup untung. ”Apalagi kalau pelanggan menemukan buku yang sudah 10-30 tahun dicari-cari di sini. Saya bahagia, sehingga tidak tega menaikkan harga,” tutur dia. Saat ini, Buku Bengkel Deklamasi jadi rujukan para kolektor dan pencinta buku sastra dan budaya dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan mancanegara. Tak jarang, karena lokasi strategis, toko itu jadi tempat pertemuan dan diskusi penggemar sastra.(Muhammad Syukron-44)