23 September 2017 | Spektrum

Kecepatan Badai Bersaing dengan Pembalap MotoGP

BADAImerupakan gejala alam yang wajar. Para ahli menyebut sebagai siklon tropis, hasil perbedaan suhu antara samudera dan wilayah sekitarnya. Tekanan udara yang radikal itulah yang menimbulkan badai mematikan dengan kecepatan angin sangat tinggi, bisa lebih dari 250 km/jam.

Pada 25 Agustus 2017, Texas, AS diterjang Topan Harvey yang menyebabkan kerusakan infrastruktur akibat kombinasi banjir dan gelombang angin badai yang terdorong ke darat. Tetapi, peristiwa itu bukanlah badai pertama yang mematikan. Sebelumnya, pernah terjadi badai yang tidak kalah dahsyat, misalnya Topan Charley (2004), Andrew (1992), dan yang lebih lama lagi Labor Day (1935).

Pada Topan Charley, 15 orang di Florida, AS tewas akibat badai berkecepatan hampir 240 km/jam. Data Yamaha Movistar menyebutkan kecepatan Rossi dan Lorenzo saat latihan pertama dan kedua MotoGP di Sirkuit Jerez mencapai 280 km/jam pada jalur lurus dan 70 km/jam di tikungan.

Berarti kecepatan badai bisa bersaing di arena balap MotoGP. Terlebih para ahli menyebutkan kemungkinan ada badai yang lebih dahsyat dari Topan Harvey. Pemanasan global dan anomali iklim menyebabkan badai sering muncul dengan kekuatan sangat besar.

Bahkan diperkirakan badai yang akan datang memiliki hantaman angin dengan kecepatan tidak kurang dari 300 km/jam. Sebuah studi yang dipublikasikan pada Mei 2015 menemukan hubungan kuat antara kenaikan suhu lautan dan intensitas badai.

Sebuah badai baru terbentuk akibat tarikan energi air yang memanas karena penguapan permukaan laut. Pemanasan global dan anomali iklim telah memicu es kutub melumer. Diperparah oleh pemanasan air laut yang menyebabkan makin sering muncul badai berkekuatan makin hebat. Kian tajam perbedaan suhu, badai juga bertambah kuat.

Para ilmuwan memperingatkan, perubahan iklim membuat fenomena cuaca ekstrem makin sering terjadi. Kerugian akibat badai dan banjir bakal berlipat dua hingga 2100. Kawasan pesisir Asia Selatan yang terutama akan dilanda fenomena itu. Muka air laut naik lebih cepat di India dan Banglades. Hingga akhir abad ke-21, sekitar 500 juta orang di seluruh dunia akan menderita dampak kenaikan muka air laut.

Semula ada anggapan, kenaikan permukaan laut hanya berasal dari es kutub yang mencair. Dalam penelitian lanjutan ditemukan penguapan air laut akibat pemanasan global menjadi variabel yang harus diperhitungkan. Prof Jurgen Kusche dari Institut Geodesi dan Geoinformasi di Bonn, Jerman menjelaskan 12 tahun terakhir air laut naik hampir konstan pada 3 milimeter per tahun.

Jika semula 25 persen dipicu oleh pemuaian air laut akibat suhu naik, belakangan ditemukan kontribusi pemuaian air laut mencapai 50 persen. Penghitungan yang didukung satelit bisa melacak secara rinci pemuaian air laut. Penghitungan itu memunculkan pertanyaan mengenai besaran volume es yang mencair. Logikanya, karena kenaikan muka air laut tetap konstan pada level 3 milimeter per tahun.

Lebih Panas

Dr Ing Roelof Rietbroek dari lembaga yang sama menjelaskan suhu samudera lebih panas daripada perkiraan. Padahal efek dari kondisi tersebut menjadi sumber badai, sehingga saat ini para ahli bisa meramal samudera yang lebih panas akan lebih sering memicu badai lebih kuat.

Seiring dengan kenaikan suhu air laut, kian banyak panas dilepas dalam bentuk uap air. Sebuah suntikan energi untuk atmosfer memicu kemunculan siklon yang dibarengi hujan lebat dan banjir. Hujan lebat akibat air kembali dari penguapan permukaan samudera mencapai 50 persen dari 3 milimeter per tahun. Era penjelajahan samudera bangsa Eropa dimulai pada abad ke-12 ketika Marcopolo menuju Asia.

Puncaknya, pada abad ke-14, ekspedisi Portugis dan Spanyol mulai mencoba jalur ke Timur setelah akses bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah yang lebih murah di Laut Tengah tertutup karena Konstantinopel jatuh. Selain rute ke Timur yang belum mereka pahami, ekspedisi melalui laut ternyata berisiko berjumpa dengan topan badai.

Dalam literatur sejarah banyak dijumpai bagaimana beberapa ekspedisi terjebak dalam topan badai. Meski saat itu belum ada studi mengenai kekuatan terjangan angin, imbas dari kepatahan tiang kapal dan bahkan tidak sedikit yang tenggelam, menunjukkan kecepatan angin tidak kurang dari 100 km/jam. Kecepatan badai mulai tercatat pada tahun 1780.

Badai yang terjadi pada Oktober tersebut dianggap paling mematikan sepanjang masa. Menerjang kawasan Karibia, termasuk Martinique, Barbados, dan St Lucia, badai itu menewaskan 22.000 orang. Menurut saksi mata, badai terkuat itu merobohkan pohon-pohon dengan kecepatan angin 200 mph atau sekitar 320 km/jam.

Pada Agustus 2013, KRI Dewaruci yang terjebak badai di Samudera Hindia, sekitar 60 mil laut dari mulut Pelabuhan Freemantle dekat Perth mengalami patah tiang utama. Keterangan dari Australian Maritime Authority menyatakan sinyal darurat mereka terima dan langsung direspons cepat.

Dalam kontak dengan KRI Dewaruci, kapal menyatakan belum memerlukan pertolongan gawat-darurat segera. Selanjutnya, KRI Dewaruci meneruskan pelayaran menuju kota terdekat, Geraldton, untuk reparasi. Tidak ada keterangan yang menyebutkan kekuatan badai yang mematahkan tiang utama tersebut.(Dadang Aribowo-17)