23 September 2017 | Spektrum

Penguapan ke Atmosfer Jadi Biang Keladi

FENOMENAalam akibat perpindahan udara dari tekanan tinggi ke tekanan rendah menghasilkan istilah yang berbedabeda. Ada yang menyebut dengan siklon, angin ribut, dan topan (atau topan badai).

Ketiga istilah tersebut tidak berbeda, hanya mengindikasikan kekuatan pergerakan udara dan pola lintasannya. Siklon merupakan angin berputar yang bisa dilihat secara kasat mata. Siklon yang di Tanah Air populer dengan sebutan puting beliung, dikenal juga di AS dan belahan Eropa sebagai tornado.

Tornado mempunyai kecepatan pusaran angin bervariasi. Ada 5 skala yang menunjukkan kecepatan angin beserta hantaman yang ditimbulkan. Pada skala F1, kecepatan mencapai 177 km/jam atau lebih dengan rata-rata jangkauan 75 m dan menempuh beberapa kilometer sebelum menghilang.

Beberapa tornado yang mencapai skala F5, kecepatan angin lebih dari 300-480 km/- jam dan memiliki lebar lebih dari 1,6 km serta dapat bertahan lama di permukaan, menempuh lebih dari 100 km. Sebenarnya, ada pula skala F6, tetapi dianggap tak terbayangkan, dengan kecepatan angin mencapai 510 km/jam.

Begitu pula badai atau topan. Melalui pencitraan satelit, terlihat pola pergerakan badai cenderung melingkar dengan diameter ratusan kilometer. Angin ribut yang sering terjadi juga berpola melingkar, hanya saja tidak sampai terbentuk pusaran membubung sebagaimana tornado. Penguapan Muncul dari beberapa tahapan, faktor utama badai adalah penguapan yang selanjutnya membubung ke atmosfer.

Pada proses itu, uap air melepas panas. Energi panas yang dilepaskan oleh uap air terkumpul menjadi energi penggerak badai tropis. Semua proses berlangsung di atmosfer. Proses tersebut mengondisikan suhu air laut yang tinggi. Dengan suhu lebih dari 26,5 derajat Celcius hingga kedalaman 50 meter, perairan hangat tersebut merupakan sumber energi bagi badai.

Apabila badai bergerak ke daratan atau ke perairan dingin, kekuatannya melemah secara drastis. Suhu air yang hangat juga harus didukung suhu atmosfer yang menurun drastis. Penurunan suhu atmosfer secara drastis memungkinkan terjadi perpindahan kelembapan udara secara konveksi.

Badai petir mendorong uap air melepaskan kandungan panasnya. Kadang terjadi kelembapan udara tinggi di atmosfer yang diakibatkan oleh penurunan suhu atmosfer. Kelembapan udara yang tinggi itu juga berpengaruh pada proses terjadi badai. Penguapan air itulah yang menyebabkan badai lebih banyak bersumber di lautan. Meski pada beberapa kasus, badai bergeser ke arah daratan dikarenakan faktor pergerakan atmosfer.(Dadang Aribowo- 17)