17 September 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Shannon Valerie Nugroho

Bermain Imajinasi dengan Doodle

Sekilas tak ada yang menonjol dari penampilan Shannon Valerie Nugroho. Sikapnya yang malu-malu membuat Shannon, sapaannya, terlihat sama seperti teman-teman sebayanya.

Yang berbeda, Shannon jadi terlihat lebih giras jika disodori kertas. Ya, hobi siswa kelas 8 SMPBhakti Tunas Harapan Magelang itu ialah menggambar. Sejauh ini, Shannon mengaku bisa menggambar apa saja. Namun, jika harus memilih aliran apa yang disuka, perempuan kelahiran 8 Mei 2004 ini menunjuk doodle art.

“Menggambar doodle itu bisa bebas. Semua yang ada di otak bisa keluar semua dan perasaannya jadi lebih plong,” ujarnya. Menurut Shannon, hal itu yang membuat doodle menarik.

Shannon menambahkan, menggambar dengan tema atau judul tertentu membuat ide tidak bisa dituangkan sepenuhnya. Sebagai info, doodle art dikenal sebagai “gambar tak berarti”. Secara visual doodle terkesan seperti coretan-coretan abstrak.

Dengan mengedepankan spontanitas, pembuat doodle (doodler) bisa memainkan imajinasi sebebas-bebasnya saat membuat doodle. Makin liar imajinasi, doodle yang dihasilkan bakal lebih berkarakter. Lucunya, sebisa mungkin Shannon menghindari proses pewarnaan. Ia merasa tak terlalu mahir mewarnai.

Alhasil jika memang terpaksa harus memberi warna, Shannon memilih untuk sekadar mengarsir. Shannon mengaku tak punya perupa idola. Untuk mendapat ide, ia lebih senang berselancar di dunia maya. Shannon sekaligus membuktikan bahwa perkembangan teknologi bisa dimanfaatkan ke hal-hal positif.

Karya-karya Shannon yang terinspirasi dari hasil penelusuran secara daring adalah buktinya. Hasil karya Shannon yang lugas namun tegas membuat pihak sekolah mengapresiasi. Saat kelas 3 dan 4 SD, Shannon diminta mewakili sekolah untuk lomba menggambar dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Ia mendapat juara di tingkat kota. Setahun berikutnya, Shannon kembali ikut festival yang sama. Lagi-lagi, di tingkat kota Shannon berjaya dan meraih juara I. Sayangnya, ia tidak berhasil merebut juara di tingkat provinsi. Di luar kegiatan lomba, saat kelas 3 SD, Shannon sempat berjualan komik.

Namun, jangan bayangkan jika yang ia jual ialah komik cetakan penerbit terkemuka. Shannon justru menciptakan komiknya sendiri dan menjualnya ke temanteman sekelas. Dengan kertas seadanya, ia menggambar dan membuat cerita rekaan. Tak jarang ia menerima pesanan cerita sesuai keinginan para kawannya.

Sejak Kecil

“Waktu usia satu tahun, saya suka coret-coret di dinding rumah,” Shannon menceritakan awal mula hobi menggambarnya. Ya, sejak usia satu tahun, Shannon sudah gemar menggambari dinding rumah. Oleh sang mama, kebiasaan Shannon dibiarkan begitu saja.

Orang-orang yang melihat gambar itu justru yang memberi tahu bahwa coret-coretan Shannon bisa menggambarkan apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai bentuk dukungan, keluarga akhirnya mendorong Shannon ikut les lukis.

Sempat gonta-ganti guru les, Shannon akhirnya cocok dengan Angga Distanu Rizkita, jebolan jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret. Menurut ibu Shannon, sejauh ini hanya Angga yang mengerti karakter Shannon. Shannon memang unik. Dengan bakat alami menggambar yang tidak diturunkan dari keluarganya, terkadang Shannon justru cuek dengan anugerah itu.

Kini, ia juga memilih tidak melanjutkan kursus melukisnya. Selain karena saat ini Angga bekerja di Direktorat Kesenian dan bertugas di Jakarta, Shannon juga mengalami masa jenuh. “Walau sudah nggak les, saya tetap suka menggambar, kok,” tutur penggemar Presiden Joko Widodo ini.

Pada berbagai kesempatan, Shannon sering menyelipkan gambar Jokowi dalam karyanya. Bahkan, beberapa waktu lalu ia sengaja membuat doodle sang presiden. Rencananya ia ingin memberikannya saat presiden menghadiri puncak peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Magelang.

Sayang, kunjungan tersebut batal, sehingga Shannon tak jadi memberikan gambarnya. Di masa depan, perempuan yang juga hobi bermain game ini mengungkap, dirinya belum terpikir untuk menekuni hobi gambarnya jadi sebuah profesi. Alasannya sederhana: Shannon belum memutuskan ingin bercita-cita menjadi apa.(43)

Sofie Dwi Rifayani