17 September 2017 | Jalan-jalan

Dalam Rimbun Bakau Logending

  • Oleh Sri Syamsiyah LS

Angin berembus sejuk, saat kami duduk di ”gazebo” kayu sederhana di tengah rerimbunan bakau dan di atas air pantai yang tenang seolah tak beriak.

Matahari belum tinggi, hingga sinarnya belum menghangatkan kami di Logending, Kecamatan Ayah, Kebumen. Kami duduk menikmati kesunyian, sejenak lepas dari bising kota. Hanya mendengarkan suara air dan sesekali suara burung terbang.

Memandang hijau rerimbunan bakau, memandang air dan pantai. Udara bersih yang mengalir semilir dan elok pemandangan menjadi penyegar dari lelah hiruk pikuk bekerja dalam kejaran deadline setiap hari.

Kami masih menikmati bakau saat suara mesin perahu terdengar dan tidak berapa lama perahu yang membawa rombongan wisatawan lain merapat dan membuat gazebo tempat kami duduk bergoyang. Hari itu Sabtu musim libur, jadi cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai itu yang penulis lihat semua merupakan wisatawan domestik.

Hanya membayar Rp 15 ribu per orang, perahu kami mulai menyusuri tepi pantai Logending. ”Nanti kita berkeliling, ke hutan bakau, putarputar, foto-foto juga ke tempat pelelangan ikan. Komplet,” bujuk seseorang saat kami mendekati bibir pantai Logending, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Tanpa banyak menunggu, kami iyakan ajakan itu dan langsung naik ke perahu. Hari itu kami memang sengaja ingin ”mengeksplore” Gombong dan Kebumen. Terlalu banyak tempat indah di wilayah ini, kata orang, banyak pantai dan gua. Belum lagi, di kabupaten ini juga terdapat waduk dan benteng.

Karena itu, kami datang sehari sebelumnya dan beristirahat di Hotel Graha Putra, tak jauh dari Stasiun Gombong. Murah Meriah. Kebetulan malam saat kami datang ada wayang di dekat hotel, membuat suasana malam semarak. Sebelum menjelajahi Kebumen, kami menjelajahi pasar Gombong lebih dahulu meski alasan sebenarnya untuk mengisi perut.

Mencoba mencari sesuatu yang khas...Aha ada soto di dalam pasar yang enak dan khas dengan isi soto komplet, langsung tandas dalam perut yang lapar. Di pasar itu kami juga berjumpa dengan serombongan ibu sosialita yang sedang berwisata....Eh tunggu, ada dua orang ibu yang menyusul turun dari becak sambil membawa barang belanjaan.

Tumpukan tempe mendoan dan sayuran, mereka tenteng sambil tertawa. Kami pun ikut tertawa melihat ibu-ibu yang riang memamerkan barang belanjaan. Sayang pekan kemarin tersiar berita kebakaran melanda bagian pasar itu. Denyut aktivitas masyarakat akan terganggu.

Semoga pasar akan segera terbangun kembali dan aktivitas pasar akan berjalan normal kembali. Dari pasar itu, perjalanan kami berlanjut. Tujuan kami pertama ke gua Jatijajar dan di gua itu kami bertemu ibu-ibu sosialita itu lagi. Gua yang indah tentu saja.

Dari gua, kami ke Pantai Logending, atau yang kadang disebut juga dengan Pantai Ayah karena terletak di Kecamatan Ayah. Pantainya sedang berbenah. Masih banyak material pembangunan di sana-sini. Gerbang pun sedang dibangun. Dari sana terlihat bangunan permanen untuk melihat bakau, tetapi kali itu kami melihat bakau di gazebo kayu.

Usai menikmati bakau, pengemudi perahu mengantar kami ke ke tempat pelelangan ikan yang hanya berada di sisi lain pantai itu, baru selanjutnya kembali ke tempat awal perahu disandarkan. Usai lelah berputar dan ingin melepas dahaga, sejumlah pedagang kelapa muda sudah menunggu di pinggir pantai.

Mau mencari oleholeh? Ada sejumlah pilihan. Cukup banyak pedagang berjualan hasil laut semacam ikan asin atau peyek udang, terasi dan lainnya dengan harga yang terhitung murah. Atau ingin oleh-oleh lain seperti gula Jawa khas Kebumen banyak dijual di warung-warung pinggir pantai tersebut.

Hari juga belum terlalu siang saat kami meninggalkan Logending dengan pikiran dan hati yang sudah segar. Yah..Pagi itu kami menikmati alam yang tenang. Menikmati hijau yang meneduhkan. Dan dalam ketenangan, kami merenungi. Sungguh Allah telah begitu murah hati memberikan alam indah ini untuk kita.(43)