17 September 2017 | Jalan-jalan

Hampir Dua Abad ”VAN DER WICJK”

Dari balik lengkung pintu masuk, sebuah area terbuka dikelilingi bangunan merah segi delapan dengan kokoh. Benteng van Der Wicjk. Berada di Gombong, Kabupaten Kebumen, benteng itu sepertinya menyimpan banyak kisah sebanyak lengkung jendela dan pintu yang dimilikinya. Kisah perjuangan. Kisah kaum kolonial pernah menjajah negeri ini.

Dari parkir depan, jarak cukup lumayan bagi yang tidak pernah berjalan kaki. Tetapi ada kereta kelinci yang siap mengantar. ”Silakan, kami akan membawa keliling benteng. Tiket masuk sudah termasuk kereta ini, juga untuk naik kereta di atas benteng,” kata pengemudi kereta ramah.

Kereta melaju pelan dan bangunan berwarna merah dengan tulisan “Benteng Van Der Wicjk” ada di depan kami. Menurut sejumlah informasi benteng ini memiliki tinggi 9,67 meter ditambah cerobong 3,33 meter. Kereta mini melaju pelan, mulai mengelilingi benteng.

Jendela dengan jeruji besi terlihat dari luar benteng. Masih cukup kuat. Meskipun di depan tadi benteng itu bertulis ”Aku berdiri tahun 1818”. Jika melihat tahun tersebut, berarti usia benteng nyaris dua abad, tahun 2018 nanti. Musim telah berganti dan benteng masih berdiri.

Kereta mini melaju lagi mengelilingi benteng. Di satu sisi adalah benteng dengan sejarah masa lalu, di sisi yang lain adalah kegiatan masa kini dengan berbagai aktivitas pendukung, taman bermain untuk anak dan keluarga. Keluarga bisa bermain di sekitar benteng, mainan anak, kursi-kursi untuk beristirahat juga dinausarus. Tak terasa kami sudah kembali di depan benteng.

”Untuk naik kereta atas benteng, silakan lewat pintu itu,” kata pengemudi kereta lagi. Kami pun mulai menaiki tangga. Ada sejumlah wisatawan yang datang berbarengan dengan kami, meski pun tidak terlalu ramai siang itu. Di lantai dua benteng, di salah satu ruang yang luas, sepertinya sedang ada acara.

Kursi-kursi sudah ditata dan makanan sudah disiapkan. Kami mulai menapaki lorong tangga melingkar. ”Aneh, kok tangganya melingkar seperti ini ya, dulu arsitek yang membuat bangunan ini tentu tidak sekadar membuat jalan melingkar-lingkar,” kata adik penulis.

Satu-satu tangga sudah terlewati, sebuah ruang besar ada di hadapan. bersambung dengan ruang-ruang lain tanpa pintu, lengkung-lengkung itulah yang membatasinya, sehingga dari satu sisi akan terlihat arsitektur yang tidak biasa bagi penulis.

Kereta mini menunggu di bagian atas benteng. Pengemudi mempersilakan kami naik dan kereta pun mulai melaju di ketinggian. Adalah atap benteng dari bata terlihat di sisi kanan. cerobong asap juga terlihat.

Sedangkan di sisi kiri pemandangan bawah. Sebenarnya ada banyak pertanyaan saat pertama menapak di benteng itu, bagaimana dulu pasukan Belanda memutuskan membangun benteng di wilayah ini dan apakah ”Van der Wicjk” sama dengan benteng di daerah lain yang pernah penulis lihat? Entahlah. Benteng menjadi destinasi terakhir kami sebelum kembali ke Solo. Kali ini kami lewat jalur Daendels.

Hari masih siang saat kami melewati jalur yang dikenal dengan nama salah satu gubernur jenderal keturunan Perancis pada masa kolonial Belanda itu. Herman Willem Daendels (1809). Tetapi jalur itu menurut pengemudi kami, sangat sepi di malam hari. Sisi kanan kiri jalan yang hijau menjadi bonus keindahan jalan. Jalur lurus dan sangat mulus seolah menjadi sabuk melingkar sepanjang pantai selatan Jawa. Jalur Daendels.(43)