16 September 2017 | Spektrum

Faktor Manusia Penyebab Kecelakaan

SEBULANterakhir, terjadi kecelakaan lalu lintas beruntun yang menelan korban jiwa dalam jumlah banyak. Di antaranya, kecelakaan di perlintasan kereta Kendal, bus di Kudus, truk tronton di Ungaran, dan mobil di Kebumen.

Belum lagi yang terjadi di tol Cipali, beberapa kali. Juga, di Malang serta beberapa kota lain di Tanah Air. Kenapa kecelakaan sering terjadi, apa faktorfaktor penyebabnya, bagaimana langkah-langkah antisipasi agar tidak terus berulang? Kecelakaan, banyak disebabkan antara lain karena faktor manusia, disusul faktor kendaraan serta lingkungan.

Penyebab kecelakaan terkait human error, menurut Psikolog RS Elizabeth Semarang, Probowati Tjondronegoro, lantaran masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.

Ia melihat masih banyak masyarakat kurang disiplin saat berlalu lintas. Misalnya tidak memakai helm, SMS-an, menelepon, melewati tanda larangan di jalan hingga menerobos perlintasan kereta api. Tak hanya masyarakat pengendara sepeda motor, namun juga mobil. “Terutama, anakanak muda. Budaya mereka cenderung instan. Mereka ingin cepat, tanpa mengindahkan aturan atau norma yang berlaku.

Mereka kurang menyadari perilaku kurang disiplin dalam berlalu lintas, bisa membahayakan nyawa orang lain di jalan,” tegas Probo, kemarin. Ia miris, saat ini semakin banyak anak di bawah 17 tahun sudah berkendara di jalan. Kondisi itu haruslah menjadi perhatian orang tua, sekolah dan pihak berwajib. Kebiasaan berkendara anak di bawah umur mengemudi jangan diperbolehkan. “Sebab emosi mereka belum matang.

Itu bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya kecelakaan di jalan,” tambah Probo. Ditegaskan dia, perlu adanya kegiatan edukasi, dan pembinaan kedisiplinan yang baik dan mantap terhadap anak, mulai dari lingkungan rumah, sekolah hingga jalan. “Penegakan hukum oleh pihak berwajib juga harus lebih tegas. Setiap pengendara yang melanggar ditindak. Kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan juga harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan,” imbuhnya.

Lebih Berhati-hati

Masyarakat diminta lebih berhati-hati saat mengemudikan kendaraan. Kecelakaan terus saja berulang dan jumlah korban berjatuhan. Parahnya, faktor yang paling mendominasi sebagai penyebab kecelakaan adalah human error atau manusia. Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Pemprov Jateng, Akhmad Syaifillah mengatakan pengemudi seringkali tidak bisa mengontrol emosi ketika di jalan raya. Manajemen waktu perjalanan disebutnya menjadi salah satu hal yang mesti dipahami.

Misalnya, untuk melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain harus diketahui jarak tempuh dan prediksi waktunya. Harus diprediksi pula potensi kemacetan yang bisa saja terjadi. Jangan sampai, pengendara terburu waktu akhirnya tak mengindahkan aturan berkendara. Atau sebaliknya, saat kondisi jalan lengang sebagai mana jalan tol bukan berarti pengemudi bisa seenaknya injak pedal gas.

Harus tetap mematuhi batas kecepatan. Faktor human error, lanjutnya, bukan lantaran ketidaktahuan pengemudi terhadap aturan berkendara. Namun lebih pada ketaatan berkendara. ìFaktor psikologi dan emosi pengemudi kadang kala menjadi pemicu. Faktor human error ini menjadi hal yang paling mendominasi penyebab kecelakaan, î kata Syaifillah.

Faktor manusia bisa menjadi paling berpengaruh ketika kecelakaan kendaraan terjadi di perlintasan kereta api liar tanpa palang. Sebagai antisipasi, masyarakat diminta melintasi perlintasan yang legal. Meski jika dilihat dari jarak tempuh perjalanan sedikit lebih jauh. Faktor lain yang juga memengaruhi tingkat kecelakaan lalu lintas adalah kondisi kendaraan yang dikemudikan.

Untuk itu, pihaknya ikut melakukan survei dan pengawasan atas pelaksanaan uji KIR kendaraan. Saat ini uji KIR menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Pengawasan dimaksudkan memastikan tak ada kendaraan yang sebenarnya tak laik jalan namun diperbolehkan.

Lantaran hal itu akan membahayakan diri sendiri dan pengemudi kendaraan lainnya. Faktor ketiga adalah kondisi geografis atau jalan yang dilewati. Saat ini ada beberapa titik jalan yang disebutnya sebagai blackspot yang sering kali terjadi kecelakaan. Seperti di Salib Putih Salatiga, wilayah Baturaden Banyumas, dan Purbalingga. Upaya antisipasi yang dilakukan dengan rekayasa lalu lintas dengan memasang rambu.

Seperti peringatan berhati-hati di beberapa ratus meter sebelumnya, rambu elektronik, hingga pita kejut. Pihaknya juga ikut melakukan pantauan jumlah kecelakaan di wilayah itu. Jika masih saja terjadi maka dilakukan kajian untuk menemukan solusi yang paling tepat bersama pihak kepolisian.(42)

Tim Peliput:
Hanung Soekendro
M Nurhafid
Anton WH
Evie Kusnindya
Hari Santoso

Penyunting:
Mohammad Saronji