14 September 2017 | Suara Pantura

Rob Meraih Juara II Nasional di Bali

  • Karya Pelajar SMK 2 Pekalongan

KOTAPekalongan boleh berbangga, karena karya pelajarnya mampu berbicara di tingkat nasional. Betapa tidak, SMK 2 Pekalongan mendapat apresiasi pada Denpasar Film Festival (DFF) 2017 karena berhasil meraih juara II kategori film Dokumenter Terbaik II Pelajar tingkat nasional.

Kompetisi tingkat nasional tersebut berlangsung di Denpasar Bali, Minggu (10/9) lalu diikuti berbagai sekolah SMA dan SMK seluruh Indonesia. Untung Supriyono, guru pembimbing SMK2 Pekalongan ketika dihubungi Suara Merdeka, kemarin menjelaskan, karya anak-anak itu berjudul Rob merupakan karya Fatimah Azzahra yang sekaligus menjadi sutradara. Film itu mengangkat persoalan empat desa di Kecamatan Tirto, Kota Pekalongan yang selama bertahun-tahun tergenang air.

Film yang digarap pada masa Prakerin di Sangkanparan Cilacap ini memvisualkan kondisi warga di empat desa tersebut. Warga terpaksa hidup prihatin lantaran persoalan tanggul jebol yang tak kunjung tertangani hingga kini.Mereka bertahun- tahun hidup dalam kepungan rob (air laut pasang ke daratan). Bahkan tak sedikit rumah mereka yang terendam. Menurut dia, film itu sudah sesuai dengan tema yang diangkat oleh Denpasar Film Festival yakni air, anak dan perempuan.

Isu Krusial

”Air saat ini telah menjadi isu krusial. Beberapa daerah di Indonesia telah mengarah kepada situasi yang jika tidak dilakukan upaya mitigasi secara sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan akan terjadi krisis air,” tuturnya. Dan, dia menambahkan, di saat krisis air terjadi, yang mulamula paling menderita adalah para perempuan dan anak anak.

Memandang isu air demikian pentingnya, meskipun pada dua festival sebelumnya telah mengangkat isu berkait air yakni Air dan Peradaban (2015) dan Air dan Kehidupan (2016), tahun ini Denpasar Film Festival (DFF) hadir dengan tema air, perempuan, dan anakanak. Film unggulan lain adalah Urut Sewu Bercerita karya Dewi Nur Aeni SMKN1 Kebumen yang terpilih sebagai Dokumenter Terbaik I. Kemudian, Penambang Pasir Citanduy karya Dwi Novita Sari siswa SMK Muhammadiyah Majenang sebagai Dokumenter Terbaik 3.

Untung mengatakan, dalam kompetisi itu, dewan juri mengakui banyak bakat cemerlang dalam film dokumenter yang tersebar di sekolah- sekolah menengah di seluruh Indonesia. Potensi mereka harus dimunculkan melalui berbagai cara. Satu di antaranya melalui festival film. Dalam rangka itulah DFF menggelar kompetisi film dokumenter bagi pelajar di seluruh Indonesia, yang tahun ini hasilnya sangat menggembirakan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Dua film unggulan lain yang tersisih untuk kategori ini adalah Pengukur Ukuran karya Rizky Achmad Fadil, Denpasar, Balian Spiritual (Aldi Bagus Anom Prasetyo, Denpasar). Denpasar Film Festival sudah berlangsung sejak 2011 atas dukungan Pemerintah Kota Denpasar. Menurut Ketua Dewan Juri, Slamet Rahardjo, setiap tahun terjadi peningkatan kualitas peserta sehingga film dokumenter bukan sekedar film dokumentasi belaka.(Trias Purwadi-15)