11 September 2017 | Edukasia

EDUPARK UMS

Urgensi Kompetensi TIK

  • Oleh Main Sufanti

ADAhal baru dalam pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tahun 2017. PLPG ini dimulai dengan tahap prakondisi atau pembekalan awal secara daring selama 3 bulan. Setiap kelompok yang terdiri atas 10 guru dibimbing oleh seorang mentor. Pembekalan awal PLPG bertujuan para guru lebih siap mengikuti PLPG. Pada tahap ini guru mempelajari dua sumber belajar yaitu pedagogik dan bidang studi. Proses PLPG secara daring ini mensyaratkan guru memiliki kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Guru-guru harus mendaftar sebagai peserta, melihat pengumuman, mengunduh sumber belajar, berkomunikasi dengan mentor, mengunggah laporan, dan seterusnya secara daring. PLPG model ini mestinya dapat meningkatkan kompetensi TIK bagi guru. Harapannya, pada saat mengajar guru melakukan inovasi pembelajaran berbasis TIK.

Berdasarkan UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru profesional wajib memiliki empat kompetensi yaitu kepribadian, profesional, pedagogik dan sosial. Kompetensi TIK merupakan salah satu kompetensi pedagogik yaitu kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

Aplikasi Edukasi

Salah satu prinsip pembelajaran berdasarkan Permedikbud RI No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah adalah ìdari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajarî. Prinsip ini mengharuskan guru dapat menfasilitasi siswa supaya belajar dari berbagai sumber belajar.

TIK menyediakan beraneka sumber belajar. Oleh karena itu, kompetensi TIK guru menentukan efektivitas pembelajaran. TIK menfasilitasi guru dalam merancang pembelajaran, menambah referensi, berinteraksi dengan siswa, mengembangkan bahan ajar, dan seterusnya. Dalam berinteraksi dengan siswa secara daring, guru bisa memanfaatkan email, facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi lainnya.

Begitu pula, guru bisa memanfaatkan berbagai sumber belajar secara daring, antara lain: e-book, e-laboratory, e-library, dan sebagainya. Dalam pengembangan bahan ajar, guru dapat memanfaatkan aplikasi-aplikasi edukasi yang telah tersedia ataupun berinovasi sendiri.

Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kemdikbud telah menyediakan beberapa aplikasi antara lain: Rumah Belajar, Televisi Edukasi, Radio Edukasi, Mobile Learning, dan Buku Sekolah Elektronik. Aplikasi-aplikasi ini dapat menjadi sumber belajar yang inovatif dan menyenangkan. Keberadaan aplikasi-aplikasi tersebut bagi guru yang sudah menguasai TIK sangat mendukung efektivitas pembelajaran.

Namun, aplikasi-aplikasi ini tidak bisa bermanfaat bagi guru yang tidak menguasai TIK. Akibatnya, guru ini akan tertinggal jauh dengan perkembangan informasi. Pada kenyataannya, saat ini belum semua guru memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Imam Abdul Syukur (2014) menemukan bahwa 62,15% guru di Nganjuk Jawa Timur jarang menggunakan TIK dalam pembelajaran.

Begitu pula, Ibnu Fatkhu Royana (2012) menemukan bahwa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran bagi guru di Sleman masih rendah. Kondisi ini terjadi di Pulau Jawa. Bagaimana kondisi di berbagai ujung negeri ini yang biasa disebut daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal)? Kemajuan TIK begitu pesat.

Sumber belajar melalui TIK melimpah. Aplikasi-aplikasi edukasi telah tersedia dengan beragam model. Akankah guru masih menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa? Jawaban ini tergantung pada kesiapan guru dalam memanfaatkan TIK tersebut. Semoga PLPG model baru ini dapat benar-benar menyiapkan guru memiliki kompetensi TIK yang memadai. (42)

Oleh Main Sufanti,dosen PBI FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Semarang