image

FOTO BERSAMA: Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi berfoto bersama dengan para perwakilan negara yang mengikuti AHA Centre Executive, di sela-sela kunjungan ke Balai Kota Semarang, Jumat (13/10). (Foto suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)

13 Oktober 2017 | 20:13 WIB | Semarang Metro

Perwakilan IFRC Belajar di Semarang

  • - Masuk 100 Kota Tangguh Dunia

SEMARANG, suaramerdeka.com- Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti pelatihan di Kota Semarang. Mereka tertarik lantaran Ibu Kota Provinsi Jateng ini masuk daftar 100 kota tangguh dunia, (100 Resilient Cities) oleh Rockefeller Foundation. 

Tergabung dalam Program AHA Centre Executive (ACE), sebanyak 17 anggota IFRC dari delapan negara, termasuk Indonesia, mengikuti pelatihan dan simulasi tanggap darurat bencana mulai 8-14 Oktober. Tujuh negara lainnya, yakni Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Singapura, Malaysia, dan Filipina. 

''Kami ingin berbagi ilmu, tentang kisah sukses Kota Semarang menjadi kota tangguh dunia. Kegiatannya meliputi, pelatihan, berbagi informasi, serta simulasi tanggap bencana. Baru-baru ini, kami juga mengikuti simulasi di Kabaten Demak,'' ujar Koordinator ASEAN AHA Centre, Silviana Puspita, Jumat (13/10). 

Program AHA Center Executive (ACE) bertujuan untuk menyediakan pengembangan kapasitas bagi para profesional dari Kantor Penanggulangan Bencana Nasional (NDMO) negara Anggota ASEAN, yang ingin berkarir dalam manajemen bencana. 

Ini menawarkan kesempatan bagi staf NMDO untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman profesional mereka dalam kerja sama regional dalam pengelolaan bencana dengan mengungkapkannya ke berbagai latar belakang. 

Hal tersebut disampaikannya, saat audiensi dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi di Balai Kota Semarang, kemarin. Turut hadir, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Pusat, Letjen TNI (Purn) Sumarsono, Ketua PMI Jateng, Imam Triyanto, Ketua PMI Kota Semarang, Shofa Chasani, serta Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Agus Toto Widyatmoko. 

Kota Tangguh

Adapun Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menuturkan, sebagaimana kota lainnya, Semarang punya persoalan dengan kemiskinan, pertumbuhan penduduk yang tinggi, banjir dan longsor. 

Bahkan kalau panas mengalami kekeringan. Dengan masuk daftar 100 kota tangguh, menjadikan Semarang akan lebih mampu lagi beradaptasi dan tumbuh berkembang sesuai dengan kondisi-kondisi yang ada. Masyarakatnya terbiasa untuk menyesuaikan diri agar tetap hidup di tengah-tengah persoalan-persoalan tersebut. 

Pria yang akrab disapa Hendi ini membeberkan, kunci suksesnya dengan dukungan 4P, yaknipenduduk, pewarta, pemerintah dan pengusaha, yang bersinergi dalam enam pilar strategi pembangunan kota tangguh Semarang.

Adapun enam pilar tersebut, yakni pembangunan air dan energi berkelanjutan, menciptakan peluang ekonomi baru, kesiapsiagaan akan resiko bencana dan wabah penyakit. Transportasi umum yang nyaman, layak dan murah, komitmen untuk selalu terbuka kepada masyarakat baik dari sisi akuntabilitas dan informasi, serta terus menciptakan sumber daya yang selalu kompetitif dan mampu bersaing. 

''Dengan saling tukar-menukar pengalaman dan berbagi ilmu yang dilakukan peserta ACE ini, saya berharap persoalan-persoalan yang ada di kota besar khususnya Semarang akan cepat teratasi,'' tandasnya. 

(Hendra Setiawan /SMNetwork /CN19 )