image

BANTUAN AIR: Distribusi bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang terus dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

13 Oktober 2017 | 19:00 WIB | Suara Muria

Delapan Desa di Rembang Krisis Air

REMBANG,suaramerdeka.com– Delapan desa di Kabupaten Rembang menyusul mengalami krisis air bersih sehingga mengajukan permohonan bantuan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang.

Delapan desa yang menyusul kekeringan tersebut masing-masing Desa Pantiharjo dan Dresi Wetan Kecamatan Kaliori, Desa Sumber, Pelemsari, Logung, Bogorejo, Tlogo Tunggal Kecamatan Sumber serta Desa Banyuurip Kecamatan Gunem.

Mereka mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Rembang mulai pekan kemarin sesuai kebutuhan. Sebagain dikirim sebanyak 4 tangki per pekan dan sebagian lainnya dikirim sebanyak 8 tangki per pekan.

Kepala BPBD Rembang melalui Kasi Logistik, Akhmad Makruf mengungkapkan, dengan adanya tambahan delapan desa yang menyusul krisis air bersih ini, maka jumlah desa kekeringan di seluruh Rembang menjadi 20 desa.

Kekeringan paling parah parah dialami oleh sedikitnya dua desa, masing-masing Desa Jukung Kecamatan Bulu serta Desa Kedung Kecamatan Pancur. Dua desa tersebut mendapatkan bantuan air bersih delapan tangki per pekan dikirim sebanyak dua kali.

"Selain 20 desa itu, kami belum mendapatkan laporan ada desa lainnya yang mengalami krisis air bersih karena kemarau. Jika memang ada laporan dan desa tersebut mengajukan permohonan maka akan kami proses pengiriman air bersih," terang Makruf.

Makruf menjelaskan, anggaran kekeringan dari APBD induk sebesar Rp 50 juta sudah habis per Jumat (13/10). Sehingga pengiriman bantuan air bersih untuk desa kekeringan dilanjutkan dari sumbangan pihak ketiga.

Bantuan air bersih dengan jumlah besar dilakukan oleh salah satu BUMN yang bergerak di bidang perbankan dengan jumlah 120 tangki. Pengiriman air bersih dari pihak ketiga itu sudah dilakukan sejak Jumat siang.

"Kami memprediksi, 120 air bersih bantuan dari perbankan kami prediksi akan habis pada 21 Oktober mendatang. Jika anggaran Rp 50 juta dari APBD perubahan belum juga cair, maka kami akan kembali meminta bantuan dari pihak ketiga," ujarnya.

Ia menyebut, sudah ada perusahaan perbankan nasional yang berniat memberikan bantuan air bersih sebanyak 300 tangki. Jika memungkinkan, distribusi akan dilakukan pada pekan terakhir Oktober ini.

"Kami akan mencoba menghubungi perusahaan lainnya untuk membuka peluang mendistribusikan CSR ke air bersih. Sebab, belum ada kepastian kapan dana kekeringan dari APBD perubahan bisa dicairkan," tandasnya.

(Ilyas al-Musthofa /SMNetwork /CN38 )