image

TANGGUL PENAHAN: Pekerja menyelesaikan pembanganun tanggul penahan tanah di aliran Kali Tenggang, di Kelurahan Tambakrejo, Gayamsari, Jumat (13/10). (suaramerdeka.com/Dini F)

13 Oktober 2017 | 18:39 WIB | Semarang Metro

Bendung Karet Tak Cocok di Daerah Kaligawe

SEMARANG,suaramerdeka.com- Meski dikritik, pembangunan bendung permanen di Kali Sringin dan Kali Tenggang tetap dilakukan. Dipilihnya bendung permanan dianggap paling efektif dalam penanganan rob dan banjir di wilayah timur, terutama di sepanjang Jalur Pantura Jl Kaligawe.

Kepala Satker Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Tesar Hidayat menuturkan, elevasi daerah mura dengan Jl Kaligawe, hingga daerah Gebanganom, Kecamatan Genuk tidak terlalu besar. Karenanya, air akan mengalir dua arah, yakni dari laut ke daratan, dan dari laut ke darat.

Dia menambahkan, bila dipasang bendung karet, seperti usulan beberapa pihak, air tetap tidak bisa mengalir meski bendung dikempeskan. Genangan air dari rob dan hujan pun menumpuk, sehingga genangan lebih sulit untuk dihilangkan.

"Satu-satunya jalan, membendung sungai tersebut secara permanen, sehingga air laut tidak bisa masuk. Adapun air di sungai disedot menggunakan pompa ke laut. Tahun depan, kami juga akan membuat tanggul mulai dari Belakang RS Islam Sultan Agung hingga ke Kali Sringin, agar air tidak bisa masuk melalui celah-celah daratan," tambah Tesar.

Untuk pembendungan muara Kali Tenggang, imbuhnya, masih akan menunggu perbaikan Jl Arteri Yos Sudarso yang dilakukan pemerintah pusat. Pasalnya, perbaikan tersebut harus selesai tahun ini. Adapun normalisasi Kali Sringin dan Kali Tenggang, menggunakan penganggaran multi years, sampai Desember 2019.

LangkahDarurat

Namun, langkah darurat telah dilakukan dengan membendung aliran Kali Tenggang di depan RS Islam Sultan Agung. Harapannya, air laut yang mengalir melalui Kali Tenggang, tidak melimpas ke Kali Sringin yang saat ini sudah dibendung. Di bendung tersebut dilengkapi dua pompa, dengan kapasitas masing-masing, 1.000 liter/detik dan 250 liter/detik.

"Berbeda cerita dengan rencana pembendungan Banjirkanal Barat (BKB) dengan bendung karet. Elevasi (perbedaan ketinggian) dari daerah Simongan hingga ke daerah Semarang Indah sangat besar. Karenanya, air tetap akan mengalir ke daerah muara saat bendung karet dikempeskan," sambungnya.

Adapun sungai di Semarang yang kini dibendung, yakni Kali Semarang, Kali Banger, dan Kali Tenggang. Pembendungan tersebut efektif dalam menangani air laut masuk ke darat. Dalam beberapa tahun terakhir, rob di wilayah timur sudah berkurang. Namun, saat hujan lebat masih ada genangan.

Sementara itu, Pakar Hidrologi Undip, Nelwan menuturkan, pembendungan permanan sangat berisiko dan merusak ekosistem yang ada. Bendung permanan hanya mengandalkan pompa untuk menyedot air sungai ke laut. Bila terjadi masalah pada pompa, dikhawatirkan akan terjadi banjir.

Apalagi, imbuhnya kapasitas pompa yang dipasang hanya mempertimbangkan periode hujan 10 tahunan. Seharusnya, imbuhnya, menggunakan pertimbangan periode hujan minimal 50 tahunan. Dengan begitu, akan lebih siap bila terjadi hujan deras.

"Pembendungan dengan bendung karet di BKB juga harus dikaji lagi. Apakah dana sebesar Rp 155 miliar, relevan dengan fungsinya sebagai tempat rekreasi dan olahraga. Uang tersebut, bisa digunakan untuk membangun 16 embung," tandas pria dua cucu ini.

(Hendra Setiawan /SMNetwork /CN38 )