image

Ilustrasi: Istimewa

13 Oktober 2017 | 18:02 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Inflasi AS Rendah, Rupiah Cenderung Menguat

JAKARTA,suaramerdeka.com- Kondisi laju inflasi Amerika Serikat yang rendah masih menjadi permasalahan utama bagi negara tersebut. Kondisi ini menyebabkan dolar AS melemah terhadap beberapa mata uang, termasuk Rupiah.

"Rupiah terus menguat terhadap Dolar AS pasca rilis notulen rapat FOMC (Federal Open Market Committee) terbaru. Walaupun pasar finansial masih memperhitungkan kemungkinan bahwa Fed akan meningkatkan suku bunga AS sekali lagi di tahun 2017, pasar berkembang tampaknya telah mempersiapkan untuk menghadapi hal ini dengan baik. Salah satu alasannya adalah karena inflasi AS yang terus menerus lemah dapat mengakibatkan laju kenaikan suku bunga AS  melambat signifikan setelah 2017," jelas Market Strategist FXTM Hussein Sayed di Jakarta, Jumat (13/10).

Menurutnya, inflasi rendah masih menjadi masalah utama bagi ekonomi AS. Bahkan Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS The Fed, Janet Yellen mengatakannya sebagai sebuah "misteri".

"Jika institusi yang mempekerjakan lebih dari 300 ekonom bergelar PhD tidak mengetahui apakah inflasi rendah ini akan bertahan lama atau sementara, maka risiko pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut akan menjadi kesalahan serius apabila inflasi tidak kembali ke level normal," tambahnya.

Hussein memaparkan dalam teori model kurva Phillips mengatakan bahwa ada hubungan terbalik yang kuat antara tingkat pengangguran dan inflasi harga. Namun, rupanya teori tersebut tidak berlaku di sini. "Mungkin sudah saatnya Fed mengabaikan teori ini dan mencari model baru," ujarnya.

Dia menilai notulen rapat The Fed yang dirilis kemarin merefleksikan kekhawatiran itu. Beberapa anggota Fed menekankan bahwa keputusan meningkatkan suku bunga untuk ketiga kalinya di tahun 2017 harus berdasarkan data ekonomi yang mendukung keyakinan mereka bahwa inflasi akan bergerak menuju target Fed yaitu 2%.

"Dollar bulls tidak menyukai pernyataan ini, walaupun ekspektasi kenaikan suku bunga Desember tetap berada di atas 80% menurut FedWatch Tool CME. Indeks Dolar terus merosot selama lima hari berturut-turut pada hari Kamis. Total penurunan adalah 1.5?ri level tertinggi 6 Oktober," papar Hussein.

Mengingat inflasi telah menjadi metrik ekonomi terpenting yang menentukan arah Dolar, lanjutnya, rilis inflasi AS akan sangat dipantau.

"Kejutan positif akan menahan penurunan Dolar, namun data yang mengecewakan akan menjadi alasan untuk Dolar semakin melemah," tuturnya.

(Kartika Runiasari /SMNetwork /CN38 )