image

Foto: suaramerdeka.com/dok

13 Oktober 2017 | 16:44 WIB | Semarang Metro

Delapan Negara ASEAN Belajar Kota Tangguh dari Kota Semarang

SEMARANG,suaramerdeka.com- Setelah terpilih sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang masuk dalam 100 Resilient Cities (100 Kota tangguh) bersama 99 kota lain di dunia oleh Rockefeller Foundation pada tahun 2016 silam, Kota Semarang pun mulai menjadi jujukan tidak hanya daerah lain di Indonesia namun juga negara-negara lain untuk belajar. Jumat (13/10) perwakilan delapan negara ASEAN Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar, Singapura, Malaysia dan Filipina yang tergabung dalam ACE (AHA Center Executive) berkunjung ke Kota Semarang dan diterima langsung Walikota Semarang Hendrar Prihadi di Ruang Komisi A dan B, Gedung Moch Ihsan Semarang.

Dikatakan Hendrar Prihadi bahwa kunjungan tersebut merupakan kehormatan karena dapat berbagi ilmu dengan negara-negara lain khususnya dalam hal menjadi kota tangguh dalam bidang fisik, sosial maupun ekonomi. Selain itu, bagaimana mengatasi sebuah persoalan di Indonesia tepatnya Semarang dan bagaimana mereka mengatasi persoalan di negaranya masing-masing.

"Kota Semarang dinobatkan sebagai kota tangguh namun punya persoalan dengan yang namanya kemiskinan, pertumbuhan penduduk yang tinggi, kalau hujan banjir dan longsor, bahkan kalau panas mengalami kekeringan. Dengan bergabungnya Semarang ke dalam 100 Resilient City menjadikan Semarang akan lebih mampu lagi beradaptasi dan tumbuh berkembang sesuai dengan kondisi-kondisi yang ada, dan masyarakatnya menjadi terbiasa untuk menyesuaikan diri agar tetap hidup di tengah-tengah persoalan-persoalan tersebut," ujar Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Walikota Hendi kemudian membeberkan kunci sukses yang dilakukannya membawa Kota Semarang semakin tangguh adalah  dengan dukungan ‘4P’ (penduduk, pewarta, pemerintah dan pengusaha) yang bersinergi dalam 6 pilar strategi pembangunan kota tangguh Semarang.

"Enam pilar tersebut adalah pembangunan air dan energi berkelanjutan, menciptakan peluang ekonomi baru, kesiapsiagaan akan risiko bencana dan wabah penyakit, transportasi umum yang nyaman, layak dan murah, komitmen untuk selalu terbuka kepada masyarakat baik dari sisi akuntabilitas dan informasi, serta terus menciptakan sumber daya yang selalu kompetitif dan mampu bersaing," urainya.

Dengan saling tukar-menukar pengalaman dan berbagi ilmu yang dilakukan peserta ACE ini Hendi berharap persoalan-persoalan yang ada di kota besar khususnya Semarang akan cepat teratasi. "Semua bisa menjadi lebih baik dan lebih hebat pada saat kita bergerak bersama. Menciptakan lingkungan yang baik, bersih, sehat dan tangguh bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga orang-orang yang di wilayah tersebut," pungkas Walikota.

Rencananya ke delapan perwakilan negara ASEAN akan menimba ilmu tentang Kota Tangguh selama lima hari. Selama studi banding ini, mereka dibekali materi tentang pengantar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana, kunjungan ke SIBAT Kelurahan Wonosari, Ngaliyan dan pembibitan mangrove di Kelurahan Mangunharjo, Tugu.

(Setiawan Hendra Kelana /SMNetwork /CN38 )