image

Foto: istimewa

13 Oktober 2017 | 04:36 WIB | Semarang Metro

Ganjar Wujudkan Pembangunan Dua Bandara

SEMARANG, suaramerdeka.com -Infrastruktur transportasi khususnya udara di Jawa Tengah dipastikan berubah signifikan. Target pembangunan dua bandara berhasil diwujudkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang kini dalam proses pembangunan setelah 10 tahun nasibnya terkatung-katung. Pada 2018, Bandara Ahmad Yani akan menjadi   bandara di atas air (floating) pertama di Indonesia. “Progresnya bagus, mudah-mudahan sesuai terget 2018 bisa diresmikan,” kata Ganjar, di Kantor Gubernur Jateng, Kamis (12/10).

Pengembangan Bandara Ahmad Yani mulai muncul sejak era Gubernur Jateng Mardiyanto pada 2003. Namun rencana  ini menemui berbagai kendala. Pada era Gubernur Bibit Waluyo, justru berkembang wacana pemindahan bandara ke Demak atau Kendal. Alasannya, kondisi ruang udara Kota Semarang sudah tidak memungkinkan karena banyaknya gedung bertingkat.

Ganjar yang menjabat gubernur sejak 2013 pun mewarisi masalah pelik ini. Berkat lobi tingkat tinggi, politikus PDIP itu berhasil mewujudkan groundbreaking pada Juni 2014. Pembangunan direncanakan dalam dua tahap. PT Angkasa Pura mengucurkan dana hampir Rp 2 triliun untuk pembangunan tahap pertama.

Bandara baru nanti akan meningkatkan kapasitas penumpang hingga 7 juta penumpang per tahun, dari sebelumnya hanya 800 ribu. Peningkatan kapasitas ini ditunjang dengan perluasan terminal dari semula 6.108 m2 menjadi 55.000 m2. Kapasitas apron pun meningkat dari semula enam parking menjadi 13 parking pesawat berbadan lebar.

“Bandara ini sangar artistik dengan konsep eco airport dan go green. Lampu jalan pakai solar cell, pengolahan airnya reserve osmosis dan me-recycle air tambak untuk operasional,” papar Ganjar.

Bandara kedua yang dibangun berkat lobi Ganjar adalah Bandara Jenderal Sudirman di Wirasaba, Purbalingga. Bandara ini merupakan pengemban dari Lapangan Udara Wirasaba milik TNI Angkatan Udara. Wacana ini sebenarnya telah mengemuka di era Gubernur Bibit Waluyo. Namun Kementerian Perhubungan menolak dengan alasan jaraknya terlalu dekat dengan Bandara Tunggul Wulung Cilacap.

(Andika Primasiwi /SMNetwork /CN26 )