image

Pompa berkapasitas 1.500 liter/detik sedang difungsikan untuk mengalirkan air dari aliran Kali Sringin ke muara, Kamis. (sm/dok)

13 Oktober 2017 | 03:42 WIB | Semarang Metro

Sistem Drainase di Semarang Perlu Dievaluasi

SEMARANG, suaramerdeka.com -  Sistem drainase di Kota Semarang diminta dievaluasi. Pasalnya, meski rekayasa sudah dilakukan sejumlah wilayah masih tergenang, saat terjadi hujan intensitas tinggi. Selain di sebagaian wilayah timur, genangan juga terjadi di Jalur Pantura Jalan Kaligawe.

Pembendungan yang telah dilakukan di Kali Sringin Baru dan Kali Sringin lama dinilai hanya efektif menanggulangi rob.

Namun saat hujan dengan intensitas tinggi, genangan yang terjadi di sebagain wilayah timur, sulit keluar. Beberapa waktu lalu, Jl Kaligawe tergenang hingga 20 sentimeter dan lama kering.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi. Menurutnya, evaluasi harua segera dilakukan, mengingat ini sudah memasuki musim penghujan. Dikhawatirkan, genangan karena hujan akan semakin meluas. Aktivitas masyarakat pun akan terganggu.

"Kalau memang pompa air kurang besar, maka perlu segera ada penambahan. Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, bisa berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana untuk penyediaan pompa tambahan," ujar Supriyadi, kemarin.

Senada disampaikan Pakar Hidrologi Undip, Nelwan. Dia mengatakan, tidak seharusnya sungai-sungai di Kota Semarang ditutup secara permanen. Bila ditutup secara permanen, maka hanya mengandalkan pompa untuk mengalirkan air ke luar dari sungai.

Saat hujan deras, pompa bermasalah, atau kapasitas pompa kurang besar, akan menyebabkan genangan sulit hilang.

Saat ini ada beberapa sungai yang muaranya ditutup permanen. Di antaranya, Kali Semarang, Kali Banger, Kali Sringin. Adapun Kali Tenggang, masih proses penutupan.

Sedangkan Sungai Banjirkanal Barat (BKB), juga akan ditutup, namun menggunakan bendung karet. Saat curah hujan tinggi, bendung karet dikempiskan, saat curah hujan minim, bendung karet dikembungkan.

"Saya pernah memberikan masukan kepada pemerintah agar muara Kali Sringin, Kali Tenggang, dan Kali Banger jangan ditutup permanen. Tapi bisa ditutup dengan bendung karet. Tapi justru BKB yang akan dibendung dengan bendung karet, padahal itu jalur pengendali banjir, " ujar pria 68 tahun ini.

Terpisah Kepala Satker Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Tesar Hidayat menjelaskan, kapasitas pompa di Kali Sringin memang kurang besar. Karena itu, kurang cepat menyedot genangan, saat hujan. 

Seharusnya, imbuhnya, pompa di sana berkapasitas 10.000 liter/detik. Namun yang ada saat ini hanya 500 liter/detik di Kali Sringin Baru dan sebesar 1.500 liter/detik di Kali Sringin lama. Jadi totalnya hanya 2.000 liter/detik, atau seperlima dari yang direncanakan. 

''Jadi misal, seharusnya hanya butuh waktu satu jam untuk mengeringkan genangan di sepanjang Jalan Kaligawe. Karena kapasitas pompa belum mumpuni, maka butuh waktu lima jam untuk mengeringkannya. Itu semua bukan air laut, melainkan air hujan,'' tambah Tesar Hidayat. 

Dia menambahkan, kondisi makin parah karena aliran Kali Tenggang juga sudah penuh dengan air. Saat hujan, air dari Kali Tenggang yang seharusnya mengalir ke ke Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, justru berbalik saluran di Jl Gebanganom Raya, Kecamatan Genuk. 

Air kemudian melimpas ke Jl Gebanganom Raya, dan mengisi aliran Kali Sringin. Pompa yang ada pun kewalahan untuk menyedot air dari sungai tersebut. Karenanya, untuk mengeringkan genangan di sepanjang Jalur Pantura di Jl Kaligawe, membutuhkan waktu lama. 

''Untuk pengadaan pompa dengan kapasitas 10.000 liter/detik, baru akan kami lakukan Maret 2018. Adapun langkah darurat yang kami lakukan, yakni menutup aliran Sungai Tenggang di depan RS Islam Sultan Agung. Kemudian berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan umum untuk menambah pompa di Kali Sringin,'' tandasnya.

(Hendra Setiawan /SMNetwork /CN34 )