image

Gunung Merapi (Foto Istimewa)

12 Oktober 2017 | 09:54 WIB | Suara Kedu

Warga Lereng Merapi Cegah Penyebaran Karat Tumor

SLEMAN, suaramerdeka.com- Pasca erupsi tahun 2010 silam, kegiatan penghijauan kawasan lereng Merapi gencar digalakkan. Salah satu jenis tanaman yang banyak ditanam oleh warga adalah pohon sengon.

Disamping penghijauan, penanaman sengon juga bermanfaat untuk investasi karena kayunya memiliki nilai jual cukup tinggi. Namun, petani sengon di lereng Merapi menghadapi kendala penyakit karat tumor yang menyerang tanaman sengon. 

Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto menuturkan, pencegahan penyebaran penyakit itu sebenarnya sudah dilakukan sejak tanaman masih kecil. Metodenya hanya sederhana yakni dengan cara menghilangkan bagian yang muncul benjolan, atau disemprot menggunakan cairan sabun.

"Caranya tradisional tapi cukup efektif untuk menjaga tanaman agar tetap hidup," ujarnya kepada wartawan, kemarin.

Dari hasil pengamatannya selama ini, karat tumor pada sengon biasanya menyerang bagian batang dan ranting. Penyakit itu cepat menyebar saat musim kemarau karena jamur yang menjadi media penularannya mudah terbawa angin. 

Jika sudah terkena karat tumor, pada bagian batang akan muncul benjolan yang kemudian pecah dan membentuk lubang. Di Kepuharjo sendiri sampai saat ini ada sekitar 200 hektare lahan ditanami sengon yang tersebar di delapan dusun.

"Kawasan pinggiran sungai bekas penambangan juga terus ditanami. Sebagian sudah ada yang ditebang, rata-rata yang telah berusia diatas empat tahun," terang Heri.

Terpisah, peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BPTH) Yogyakarta Liliana Baskorowati menjelaskan, penyakit karat tumor disebabkan oleh spora jamur dan biasanya menyerang tanaman yang masih berusia muda. Jika sudah parah bisa mengakibatkan pohon tumbang sehingga tidak laku dijual.

Menurut dia, penularan penyakit ini dapat ditekan dengan penggunaan bibit unggul. "Kami sudah menemukan 43 famili sengon yang toleran terhadap karat tumor. Hasil uji kultur jaringan itu juga telah dikembangkan di beberapa daerah," katanya.

(Amelia Hapsari /SMNetwork /CN19 )