image

Foto: Istimewa

10 Oktober 2017 | 23:20 WIB | Suara Banyumas

Wartawan Purbalingga Kutuk Kekerasan Aparat di Purwokerto

PURBALINGGA, suaramerdeka.com- Para wartawan yang bertugas di wilayah Kabupaten Purbalingga mengutuk keras tindakan anarkis aparat polisi dan Satpol PP terhadap wartawan di Purwokerto, Selasa (9/10) malam, saat meliput aksi demonstrasi. Mereka meminta kasus ini diselesaikan secara hukum.

Ketua PWI Wilayah Purbalingga, Joko Santoso, mengecam tindak kekerasan tersebut dan tidak boleh terjadi lagi terhadap wartawan yang sedang meliput, karena kerja wartawan dilindungi oleh undang undang.

"Kami meminta para pelakunya ditindak dan diproses secara hukum dan tidak boleh terjadi lagi seperti ini," kata wartawan Wawasan ini.

Senada, Ketua Forum Wartawan Purbalingga (FWP) Muhammad Wachyono, mengutuk keras aksi premanisme yang dilakukan oleh aparat terhadap wartawan. Pihaknya meminta proses hukum terhadap para pelakunya harus tuntas.

Menurutnya, profesi wartawan diatur dan dilindungi oleh UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Menghalangi wartawan yang sedang meliput saja sudah melanggar undang undang, terlebih lagi melakukan tindak penganiayaan.

"Masih banyak aparat hukum yang belum memahami profesi wartawan. Pelakunya harus dikenakan pasal berlapis. Pelanggaran terhadap UU Pers dan KUHP tentang penganiayaan," tegas wartawan paling senior di Purbalingga ini.

Untuk diketahui, sejumlah wartawan mendapat perlakuan brutal oleh aparat kepolisian dan Satpol PP saat meliput aksi demonstrasi Komunitas Peduli Slamet yang meminta Bupati Banyumas membuat surat rekomendasi kepada Presiden RI Joko Widodo untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturaden di depan gerbang Pendapa Sipanji, Purwokerto, Senin (9/10) malam.

Saat itu, sekitar pukul 22.00 WIB, aparat kepolisian dan Satpol PP melakukan upaya untuk membubarkan masa yang bertahan dengan mendirikan tenda. Pada saat melakukan pembubaran masa ini, wartawan Suara Merdeka, Agus Wahyudi, dan fotografer Suara Merdeka, Dian Aprilianingrum, wartawan Radar Banyumas, Maulidin Wahyu, wartawan Satelit Post, Aulia El Hakim, dan wartawan
Metro TV, Darbe Tyas, dihalang-halangi melakukan peliputan.

Kamera dan ponsel mereka direbut paksa dan seluruh dokumentasi peliputan dihapus. Tragisnya, wartawan Metro TV, Darbe Tyas, ditangkap dan diarak oleh sekitar 10 aparat lalu dipukuli dan diinjak-injak sampai tak berdaya. Dia lalu dilarikan ke RS Wijayakusuma untuk dilakukan perawatan medis dan visum.

Setelah diperiksa dokter, disimpulkan mengalami memar di beberapa bagian tubuh, seperti dada, punggung dan tulang rusuk sebleh kiri. Yang bersangkutan juga merasakan ada posisi tubuh bagian dalam yang luka dan rasa nyeri.

(Ryan Rachman /SMNetwork /CN40 )