image

MEMBACA BUKU: Siswa SDN 1 Sokanegara membacakan buku bacaan di hadapan teman-temannya di halaman sekolah.

09 Oktober 2017 | 20:16 WIB | Liputan Khusus

Mengintegrasikan Pendidikan Karakter Membangun SDM Berkualitas

JARUM jam menunjukkan pukul 06.30 WIB. Sejumlah guru Sekolah Dasar Negeri 1 Sokanegara, Purwokerto Timur, Banyumas telah berdiri di pintu gerbang sekolah batas antar jemput siswa. 

Dengan senyum ramah dan ekspresi penuh bersahabat, para guru itu menjemput siswa-siswi yang datang ke sekolah kemudian bersalaman satu per satu secara bergiliran. Hal ini telah menjadi budaya di sekolah tersebut setiap pagi sebelum masuk ruang kelas.  

Seusai bersalaman dan masuk ruang kelas, para siswa berdoa bersama yang dipimpin oleh perwakilan dari siswa. Mereka berdoa untuk kelancaran aktivitas belajar, mendoakan orang tua dan guru, kemudian dilanjutkan membaca suratan pendek Alquran.

Bagi siswa nonmuslim, mereka berdoa sesuai dengan keyakinannya dengan mendatangkan guru mata pelajaran agama yang dianut siswa tersebut, sehingga seluruh siswa dapat berdoa bersama. 
    
Setelah berdoa, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghormat bendera merah putih, serta melakukan salam Abita (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku), salam dan tepuk Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), dan mars PPK. 
    
Untuk memberikan motivasi anak serta menciptakan ruang belajar menyenangkan, peserta didik di masing-masing kelas melakukan tepuk hebat, salam budaya, serta membuat yel-yel. Yel-yel tersebut antara satu kelas dengan kelas yang lain berbeda karena merupakan hasil kreasi peserta didik.
    
Kemudian, dilanjutkan gerakan literasi sekolah, dimana anak diajak mencintai budaya membaca dan menulis. Konsep ini dibuat secara menarik dan lebih segar supaya anak tidak jenuh. Apalagi, di setiap kelas disediakan pojok baca dengan koleksi buku cukup lengkap. 
    
"Setiap pagi sebelum pelajaran sekolah dimulai, kami membiasakan melakukan  pembentukan karakter kepada peserta didik selama 20 menit. Kegiatan ini tidak mengurangi jam belajar anak," kata Kepala SDN 1 Sokanegara, Tri Rudiyati saat ditemui di ruang kerjanya, pekan lalu.
    
Menurut dia, pembiasaan untuk memperkuat pembentukan karakter peserta didik merupakan penerapan dari lima nilai utama dalam gerakan penguatan pendidikan karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. 
    
Penerapan kelima nilai utama karakter bangsa tersebut juga diselipkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, seperti membentuk kelompok diskusi saat siswa mendapat tugas dari guru dan mempresentasikan hasil tugas di depan secara bergantian.
    
"Para peserta didik dilatih untuk lebih mandiri, sehingga tidak ketergantungan dengan teman maupun orang tua. Mereka akan lebih bertanggung jawab dan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Anak juga menjadi tidak manja," katanya. 
    
Nilai utama dalam gerakan program PPK di SDN 1 Sokanegara juga diimplementasikan pada kegiatan nonpelajaran formal yang dilakukan peserta didik sekolah (ekstrakurikuler). Terdapat tigabelas jenis ekstrakurikuler yang dapat diikuti peserta didik. 
    
Satu ekstrakurikuler yang wajib diikuti seluruh siswa adalah kegiatan pramuka. Jadwal kegiatan pramuka untuk siswa kelas 4,5 dan 6 dilaksanakan pada Jumat, sedangkan siswa kelas 1,2 dan 3 pada Sabtu usai kegiatan belajar mengajar. 
    
"Kami mewajibkan peserta didik mengikuti kegiatan pramuka karena kegiatan ini menanamkan sikap disiplin, kemandirian, tangguh, dan gotong royong," kata Tri Rudiyati.
    
Sedangkan duabelas ekstrakurikuler lainnya merupakan ekstrakurikuler pilihan yang disesuaikan dengan minat dan bakat anak, diantaranya renang, karate, taekwondo, polisi kecil sekolah, menari, baca tulis Alquran, melukis, dan vokal. 
    
Kegiatan ekstrakurikuler dinilai menjadi media paling kuat untuk mengimplementasikan pendidikan karakter bagi peserta didik di luar jam sekolah. Bahkan, Tri Rudiyati mengklaim ekstrakurikuler di sekolah memberikan kontribusi hampir 90 persen pada pembentukan karakter anak. 
    
"Kami telah mengintegrasikan program PPK mulai dari membiasakan anak sebelum kegiatan belajar mengajar, penerapan saat anak menerima pelajaran di sekolah, serta melalui ektrakurikuler," kata perempuan berjilbab itu.
    
Dalam menerapkan program PPK di sekolah dengan mengombinasikan antara basis budaya sekolah, pengembangan metode pembelajaran di kelas serta ekstrakurikuler, para tenaga pendidik di sekolah itu dituntut inovatif supaya menciptakan suasana belajar menyenangkan guna mencapai proses pembelajaran yang produktif.
    
"Selain melalui pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum, kami mengikuti seminar-seminar yang berkaitan dengan pendidikan karakter untuk mendukung mengimplementasikan program PPK di sekolah," timpal guru kelas di SDN 1 Sokanegara, Heri Gunawan.

Membentuk Watak Positif
    
Guru kelas V SDN 1 Sokanegara, Eny Susiana, menambahkan, penerapan program PPK di sekolah sangat berdampak positif bagi peserta didik dan dunia pendidikan. Sebelum ada program PPK, sekolah yang beralamat di Jalan Gereja No. 13 Sokanegara sudah membiasakan bersalaman sebelum masuk kelas dan membaca perpustakaan, namun belum optimal. 
    
Dengan masuknya program PPK di sekolah, kata dia, semakin menguatkan dalam membentuk watak positif peserta didik. Contohnya, pembentukan sikap religius yang diterapkan melalui kegiatan rutin membaca suratan pendek, salat duha dan zuhur berjamaah.
    
Dari aspek nasionalisme, anak-anak menjadi lebih cinta pada tanah air, terutama saat mereka mengikuti upacara setiap Senin, kemudian sikap mandiri yang terlihat saat mereka belajar kelompok, berdiskusi dan mempresentasikan hasil tugas di depan kelas.
    
"Anak yang tadinya pemalu, sekarang menjadi lebih percaya diri. Ini dibuktikan saat anak mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas," katanya.
    
Selain itu, sikap kegotongroyongan peserta didik terlihat dari inisiatif mereka membuat kelompok-kelompok kecil saat melakukan gerakan bersih lingkungan sekolah yang dikemas dalam Jumat Bersih. "Perilaku anak semakin berkarakter setelah program PPK masuk sekolah," ujar Eny Susiana.
    
Siswa kelas 6B SDN 1 Sokanegara, Rossalvia Zeta menuturkan, sebelumnya ketika siswa datang ke sekolah langsung masuk ruang kelas masing-masing. Di ruang kelas, peserta didik berdoa bersama, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian langsung masuk pelajaran.
    
Namun, setelah program PPK masuk sekolah, aktivitas belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan dan berwarna, salah satunya terdapat literasi, yaitu sebelum belajar, peserta didik mendapat waktu untuk baca-baca buku perpustakaan, seperti buku dongeng dan bacaan ringan lainnya yang dapat dipilih sesuai dengan keinginan mereka. 
    
"Program PPK juga memberi manfaat banyak, diantaranya kita jadi lebih disiplin, tepat waktu, dan belajar menghormati yang lebih tua ataupun lebih muda. Ini juga saya terapkan di rumah dan lingkungan," tuturnya.
    
Seorang wali siswa SDN 1 Sokanegara, Hanin saat memberikan testimoni, mengaku banyak perubahan positif yang dirasakan orang tua setelah anaknya mendapatkan pembelajaran PPK di sekolah. Anak menjadi gemar membaca, mulai menanamkan budi pekerti dan yang paling terlihat yaitu anak sekarang sangat peduli sampah di lingkungan keluarga.
    
"Banyak sekali manfaat yang dirasakan wali murid, karena perubahan perilaku positif anak begitu tampak," katanya. 
    
SDN 1 Sokanegara merupakan SD rujukan di Banyumas. Pada November 2016, sekolah itu ditunjuk menjadi SD percontohan program PPK. Sekolah dasar itu memiliki jumlah siswa 696 anak yang terbagi menjadi 18 rombongan belajar.
    
Untuk mendukung keberhasilan program PPK, pengelola sekolah beberapa kali menyelenggarakan pendidikan keluarga dan peningkatan ekosistem pada satuan pendidikan dengan mendatangkan narasumber dari luar sekolah.
    
Kegiatanparenting classsangat penting untuk memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan kepada para orang tua dalam mendidik anak di rumah, seperti kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (30/9). Kegiatan itu menghadirkan narasumber psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, mengangkat tema Mendampingi Anak Belajar di Rumah dan Menumbuhkan Karakter Bersahabat pada Anak.
    
Dengan kolaborasi tersebut, pihak sekolah berharap pembentukan karakter anak dapat berjalan optimal, karena anak tidak hanya mendapat pendidikan karakter di sekolah, tetapi orang tua juga turut andil menyukseskan pendidikan karakter di rumah. 
    
"Harapan sekolah dengan adanya perubahan perilaku pada seluruh peserta didik, sekolah akan tambah berprestasi," kata Tri Rudiyati.
    
Setelah berhasil menerapkan program PPK di sekolah, SDN 1 Sokanegara mendapat amanah untuk menularkan program PPK kepada sepuluh sekolah dasar terdekat yang belum melaksanakan. 
    
Sementara itu, di Kabupaten Banyumas, program PPK diterapkan pada jenjang SD dan SMP. Jenjang SMP telah diluncurkan lebih dulu, yakni pada Januari 2017, kemudian jenjang SD pada akhir April 2017 bertepatan dengan kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dihadiri Mendikbud Muhadjir Effendy.
    
Dalam peluncuran itu, sebanyak 810 kepala SD se-Kabupaten Banyumas menyatakan kesanggupan untuk melaksanakan program PPK dengan melakukan deklarasi. Sedangkan untuk jenjang SMP, tercatat ada sebanyak 148 sekolah yang siap untuk melaksanakan.
    
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Sutikno, mengatakan, sampai saat ini baru sebagian sekolah dasar yang menerapkan program PPK. Dinas Pendidikan akan terus mendorong kepala sekolah untuk mengimplementasikan program PPK di sekolah masing-masing.
    
Salah satu upaya yang akan dilakukan dengan mengadakan pelatihan PPK untuk pengawas sekolah, kemudian dilanjutkan kepada kepala sekolah dan guru. Dengan demikian, ke depan seluruh sekolah dasar khususnya dapat melaksanakan program PPK.
    
Dia mengatakan, penerapan program PPK di sekolah harus terintegrasi, mulai dari pembiasaan sebelum jam pelajaran, penyisipan pada mata pelajaran, serta memasukkan pembentukan karakter pada ekstrakurikuler.
    
Selain dilaksanakan oleh warga sekolah, peran keluarga diharapkan juga ikut mendukung kesuksesan pembentukan karakter anak di rumah. Apabila kolaborasi ini berjalan dengan baik, maka pembangunan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan berkarakter dapat tercapai. 

(Puji Purwanto /SMNetwork /CN38 )