image

Sinergi panggung antara gitaris John Petrucci dan Jordan Rudess di atas panggung. (Foto: Dok)

30 September 2017 | 15:30 WIB | Liputan Khusus

Menjelajahi Mimpi Para Profesor

  • Dream Theater di Yogya

Oleh: Bambang Isti

BERTENAGA, Pejal. Teknis. Dream Theater menyuguhkan tiga elemen itu ke dalam musik yang diusung yakni rock progresif pada generasi terakhir. Grup asal Boston, AS itu menyatukan ketiganya dalam repertoar yang serba tidak terduga, baik secara teknis musikal atau penyusunan repertoar.

Disebut tidak terduga, karena bayangan dari sekitar tujuh ribu orang penonton yang menyaksikan penampilannya di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Jumat (29/9) tadi malam, nomor yang super populer The Spirit Carries On akan menjadi nomor andalan, ternyata tidak muncul.

Bagi penonton yang baru kenal Dream Theater ini mungkin hal ini bisa dianggap "petaka". Tapi bagi mereka yang sudah kenal Dream Theater sejak bertahun-tahun silam, tidak menjadi persoalan. Bahkan para fans setia beruntung bisa menikmati sedikit lagu-lagu dari album terakhirnya The Astonishing (2016).
 
Menurunkan personel yang telah tujuh tahun tidak pernah berubah (sejak Mike Portnoy hengkang), komposisi punggawa Dream Theater bisa dikatakan paling solid. James LaBrie (vokal), John Patrucci (gitar), John Myung (bas), Jordan Rudess (kibor, keytar) dan Mike Mangini adalah sebuah kekuatan yang seolah tak bisa dilawan. Karena inilah grup yang bisa disebut sebagai generasi terakhir rock progresif. Ingat, sejak Dream Theater ada, terlihat tidak ada lagi band pengusung warna itu.

Tampil di gebyak YogyaRockKarta yang dipromotori Rajawali Indonesian Communication, Dream Theater menganggap Indonesia bukan (pasar) asing lagi. "Kami kembali lagi ke Indonesia. Tiga kali sudah kami menemui sebuah keramahan tamahan dari orang Indonesia," teriak James LaBrie di awal konsernya. Untuk dicatat pada tahun 2012 dan 2014 Dream Theater tampil di Jakarta.

Menahan Napas

Di Yogyakarta band yang didukung para profesor Berklee College of Music Boston ini membuka dengan nomor Eternity Night (dari album Systematic Chaos - 2007), dan dipungkasi dengan encore (tradisi tambahan lagu) A Change of Seasons diambil dari album bertitel sama (1995). Pada lagu ini dengan ciri disepanjang lagu (durasi sekitar 25 menit) kelima personel band seakan membuat ribuan penonton untuk terus menahan napas karena terpaku dengan teknis yang ditonjolkan dari semua pemainnya.

Di nomor pembuka, Jordan Rudhes memberinya warna dengan permainan solo dengan keytar (kibor jinjing) sambil menyeruak di bibir panggung. Nomor pembuka ini ditampilkan masih dengan warna yang sangat Portnoy. Vokal latar yang dalam rekaman ditampilkan oleh drummer pendiri Dream Theater itu juga masih dipertahankan. Terlebih lagi sinkopasi dan patern Portnoy dimainkan dengan cermat oleh Mike Mingini. Padahal kalau dirunut karakter permainan dua penabuh drum ini sangat berbeda. Sungguh sebuah tradisi solidaritas yang rupanya sangat dipegang betul dilingkungan Dream Theater.

Secara keseluruhan penampilan Dream Theater menampilkan banyak lagu hit, salah satunya dari album self tittled yakni album dengan nama grup. Maka ini menguntungkan penggemarnya di Indonesia, karena band ini menyajikan beberapa nomor dalam satu album Image and Words. Maka sejumlah lagu familiar pun menggelinding seperti Pull Me Under, Under Glass Moon, Metropolis Part I atau Another Day, dan sertamerta disambut koor ribuan penonton. 

Faktor usia dari vokalis James LaBrie tak bisa diingkari (usia 53), bahwa ia harus banyak mencari aman untuk nada-nada tinggi yang sangat menguras tenaga.

Menurut Nabila (25) salah satu penggemar Dream Theater yang menyaksikan di kelas Festival B (berjarak sekitar 100 meter ke panggung), "Saya lihat LaBrie lebih banyak mencari aman dengan sedikit menurunkan bagian-bagian nada tertentu. Lihat saja saat ia menyanyi Another Day, di bagian lirik..'you won't find it here, so try another day', dia begitu sangat hati-hati," kata gadis yang juga wartawan Republika Jakarta ini.

Tapi seperti kata banyak penonton, menyaksikan Dream Theater nyaris persis seperti mendengarkan album rekamannya. Karena urutan lagu dan bagian-bagian sekecil apa pun dimainkan tidak melenceng jauh dari rekamannya. Suguhan sound system berkekuatan 80 ribu watt pun ikut berkontribusi akan sekses konser ini. 

Permainan Solo

Tidak sebagaimana lazimnya konser band dunia, Dream Theater sadar untuk menjaga stamina. Maka uniknya mereka membagi dua sesi pertunjukan dengan minta jeda 20 menit. Bayangan penononton bahwa pada sesi kedua pasti akan lebih menggila lagi memang terbukti. Setelah tenaga kembali terakomodasi, pada sesi ini Dream Theater sungguhall out. 

Misalnya James LaBrie banyak memberi kesempatan teman-temannya untuk bermain solo. Sebagai band instrumentalis, Dream Theater memang banyak mengumbar suguhan musik dengan penjelajahan teknis. Banyak break sinkopasi dan unisono (permainan bersama lebih dari satu instrumen). Namun disayangkan, dalam konser Image, World and Beyond ini, tak banyak komposisi instrumental dimainkan. Barangkali mereka sadar kali ini mereka tampil secara terbuka(out door)di stadion. 

Tradisi solidaritas dengan mencomot (sebuah apresiasi) bagian-bagian terentu komposis milik band lain juga dilakukan. Lihat saja permainan solo bas John Myung yang memainkan salah potongan nomor dari basis mendiang Jaco Pastorius. Atau pada lagu As I am disisipi potongan lagu dari Metalica berjudul Master of Puppet. 

Pada lagu Learning to Life terdapat solo drum Mike Mangini. Itu yang membuktikan julukan pada dirinya  sang profesor pun tidak sia-sia. Mangini yang saat audisi masuk Dream Theater tahun 2011 lalu mengalahkan enam drummer dunia (termasuk Virgil Donati) ini menunjukkan ketrampilan teknik, misalnyamulti stroke(tidak sekadardouble) dari kedua tangannya dengan simultan. 

Menonton Dream Theater seperti berada di dalam dunia mimpi. Penuh penjelajahan. Penuh khayalan. Meski sebelumnya masyarakat pencinta musik sempat dibuat bingung terkait dengan kepastikan tempat pertunjukan. Antara Kridosono, Candi Prambanan dan kembali ke Kridosono. Karena mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan.

(Bambang Isti /SMNetwork /CN41 )